TUBAN, Tugujatim.id – Bagi sebagian orang tua, mengkhitankan anak bukan hanya soal kewajiban agama atau soal kesehatan. Di Tuban, keputusan khitan massal itu bisa berakar dari harapan-harapan spiritual yang dalam.
Seperti yang dilakukan Juwaeri, warga Desa Lohgung, Kecamatan Brondong. Dia tidak ingin melewatkan momen Haul Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi untuk mengkhitankan putranya yang masih duduk di bangku kelas V.
Baca Juga: Meriahkan Haul, Peserta Khitanan Massal dan Pawai Seni Warnai Tuban
“Harapannya sih, biar anak ini dapat berkah dari acara haul. Kebetulan dia juga sudah siap, jadi sekalian saja saya antar ke khitan massal ini,” tutur Juwaeri dengan wajah penuh harap, Sabtu (19/04/2025).
Kegiatan khitan massal tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan haul tokoh penyebar Islam di pesisir utara Jawa itu. Acara berlangsung di kompleks makam Maulana Ibrahim Asmoroqondi, Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, dan menyedot ratusan peserta.
Ketua Yayasan Makam Maulana Ibrahim Asmoroqondi, Sukardi mengatakan, antusiasme warga terhadap kegiatan ini selalu tinggi. Tahun ini, sebanyak 108 anak mengikuti khitan massal. Jumlah tersebut bukan hanya berasal dari wilayah Tuban saja.
“Pesertanya ada yang dari Lamongan, Bojonegoro, bahkan dari Sumenep Madura dan Jawa Tengah juga ada. Ini rutin kami gelar tiap haul, dan jumlah pesertanya stabil setiap tahunnya,” kata Sukardi saat ditemui di sela kegiatan.
Yang membuat acara ini berbeda, menurut Sukardi, adalah keyakinan masyarakat bahwa mengikuti khitanan massal saat haul wali dapat membawa keberkahan bagi anak. Tidak hanya sekadar dikhitan, para peserta juga didoakan secara khusus oleh para kiai dan tokoh agama setempat.
“Ritual doanya memang kami niatkan khusus agar anak-anak yang dikhitan tumbuh jadi pribadi yang baik dan soleh. Banyak orang tua yang berharap anaknya jadi lebih mudah diatur setelah dikhitan di sini,” lanjutnya.

Beberapa orang tua bahkan rela datang sehari lebih awal dan menginap di sekitar lokasi makam demi memastikan anaknya kebagian kuota peserta. Tidak sedikit pula yang membawa serta seluruh anggota keluarga, menjadikan momen ini seperti ajang ziarah sekaligus syukuran keluarga.
Salah satu peserta Nursalim dari Kabupaten Lamongan mengaku sengaja datang jauh-jauh karena terinspirasi cerita tetangganya tahun lalu.
“Katanya anaknya setelah khitan di sini jadi lebih penurut dan gampang belajar. Saya juga ingin begitu untuk anak saya,” katanya.
Kegiatan ini bukan hanya dimaknai sebagai program sosial keagamaan semata, tetapi juga sebagai sarana mempererat ikatan spiritual masyarakat dengan sosok Maulana Ibrahim Asmoroqondi ayah dari Sunan Ampel Raden Rahmatullah.
Sosok yang diyakini sebagai salah satu penyebar Islam pertama di tanah Jawa itu memang memiliki tempat istimewa di hati warga Tuban dan sekitarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








