Orientasi Ketakwaan dalam Perjalanan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan

Orientasi Ketakwaan dalam Perjalanan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan

  • Bagikan
Muhammad Amiril A'la, MH, Dosen Fakultas Syairah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung.
Muhammad Amiril A'la, MH, Dosen Fakultas Syairah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung. (Foto: Dokumen)

Oleh: Muhammad Amiril A’la, MH*

Tugujatim.idBulan Ramadhan tentu menjadi bulan yang ditunggu umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar di antara bulan-bulan yang lain. Semua amal saleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih banyak dan lebih baik. Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan.

Keistimewaan yang ada di bulan Ramadhan ini tentu menjadi kesempatan yang harus dimanfaatkan dengan baik. Prof Quraisy Shihab mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan sale, yaitu bulan yang penuh dengan bonus.

Bonus berupa keutamaan-keutamaan dalam beribadah, ampunan-ampunan dari Allah, serta banyak keutamaan lain yang Allah limpahkan di bulan Ramadhan. Maka, betapa sungguh rugi orang melewatkan bulan Ramadhan tanpa melakukan dan meningkatkan intensitas ibadah kepada Allah.

Banyak ayat dalam Alquran yang menerangkan keutamaan bulan Ramadhan, sepeti diturunkannya Alquran pada bulan Ramadhan. Adanya keutamaan luar biasa yaitu malam Lailatul Qadr, yaitu malam yang lebih baik dari 1000 bulan.

Termasuk ayat yang menyampaikan panggilan Allah kepada orang-orang yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa. Perintah Allah ini menjadi satu landasan bagi kita sebagai muslim untuk bersama-sama terpanggil melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Secara jelas Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa untuk mencapai derajat takwa, dalam Surat Al Baqarah ayat 183, Allah berfirman;

ياَاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah.183)

Dalam ayat ini secara jelas Allah memanggil orang-orang yang beriman, dan tidak memakai redaksi orang islam. Panggilan yang ditujukan kepada orang yang beriman tentu akan “mengetuk hati” orang-orang yang beriman untuk terpanggil melaksanakan ibadah puasa.

Meskipun demikian bukan berarti puasa ini khusus orang yang beriman, tetapi kepada semua muslim dengan berbagai tingkatan keimanan tentu akan ikut andil untuk berlomba-lomba meningkatkan keimanan dengan memaksimalkan perbuatan baik di bulan suci Ramadhan.

Di akhir ayat Allah menegaskan bahwa kewajiban puasa baik kepada kita dan kepada orang-orang sebelumnya memiliki orientasi mulia, yaitu mencapai derajat takwa. artinya ibadah selama bulan suci Ramadhan adalah tahapan dan proses yang harus dilakukan, diusahakan, dan ditingkatkan sampai mencapai tingkatan ibadah yang terbaik. dengan berbagai ibadah yang dilakukan selama bulan suci Ramadhan dengan niat yang benar maka (semoga) derajat ketakwaan bisa Allah berikan.

Takwa tentu erat kaitannya dengan keimanan, yaitu memulai dengan penuh keyakinan, yang prosesnya kemudian dibenarkan oleh hati, dilafadzkan atau diikrarkan oleh lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Dalam melaksanakan ibadah puasa, Allah mendahului panggilan kepada orang yang beriman, kemudian dilaksanakan oleh hati yang terpanggil, dan melafadzkan niat untuk berpuasa, dan melaksanakan puasa setiap hari selama bulan Ramadhan.

Prof. Quraisy Shihab, yang merupakan Pendiri Bayt Al Quran menyampaikan bahwa; Iman itu adalah kerja hati dan pembenaran hati atas apa-apa yang didengar oleh telinga. Iman itu tidak bisa diciptakan oleh akal, tetapi bisa didukung oleh akal. Ada dua hal yang bisa dilakukan oleh hati dan tidak bisa dilakukan oleh akal, yaitu iman dan cinta. Kalua mau iman bertambah, syaratnya adalah membersihkan hati. Karena sejatinya hati bisa diartikan menjadi dua makna, yaitu sebagai alat dan wadah.

  • Hati sebagai alat adalah menjadikan hati sebagai pondasi untuk pengendalian diri manusia. Memiliki hati yang jernih, baik dan salim adalah modal menjadikan gerak tubuh dan tingkah laku manusia menjadi baik.
  • Hati juga berarti sebagai wadah atau tempat, dimana tempat pasti memiliki ukuran-ukuran terntentu. Makai barat sumur, agar teruslah menggali dan membuang batu-batu serta lumpur sedalam dan seluas mungkin sampai timbul mata air yang jernih dan bersih. Demikian dengan hati. Buang kotoran hati berupa kedengkian, kebencian, sifat iri dan dengki serta segala hal buruk yang berpotensi menyempitkan hati. Kalua hati sudah kita gali dan kita luaskan, ibarat menggali mata air, akan muncul air yang jernih, segar dan menyehatkan.

Begitulah sejatinya tugas kita di bulan Ramadhan ini, agar terus melatih dan berbenah dan memperbaiki diri, dan meluaskan hati. Semoga di bulan yang penuh dengan  keberkahan ini, kitab isa memaksimalkan diri meraih keutamaan-keutamaan dalam bulan suci Ramadhan, sehingga kita menjadi bagian dari hamba Allah yang beruntung dengan tidak melewatkan bulan suci Ramadhan dengan sia-sia serta bersama-sama kita bisa mencapai derajat takwa. Aamiin.

*Dosen Fakultas Syairah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan