Paguyuban Penghuni Cito Mall Surabaya Tolak Pembangunan RS Siloam sebagai RS Rujukan Pasien Covid-19

  • Bagikan
Paguyuban P4 menyampaikan aspirasi penolakan rencana pengoperasian atau pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam yang dipakai untuk RS rujukan pasien Covid-19 di sekitar Cito Mall Surabaya, Rabu (03/01/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Paguyuban P4 menyampaikan aspirasi penolakan rencana pengoperasian atau pembangunan Rumah Sakit (RS) Siloam yang dipakai untuk RS rujukan pasien Covid-19 di sekitar Cito Mall Surabaya, Rabu (03/01/2021). (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Sekelompok orang yang mengatasnamakan Paguyuban Penghuni, Pemilik, dan Pengelola (P4) City of Tomorrow (Cito) Mall Surabaya menyampaikan aspirasinya soal penolakan rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam upaya pengoperasian dan pembangunan Rumas Sakit (RS) Siloam yang bakal dipakai sebagai RS rujukan bagi pasien Covid-19 di Surabaya.

“Ini kan klaster ekonomi, pusat ekonomi masyarakat. Kok mau mendirikan RS rujukan Covid-19, ya jelas itu menjadi keresahan kami sebagai penghuni, sebagai pemilik, dan juga sebagai pedagang. Jelas kami menolak,” terang Sekretaris Paguyuban P4 Cito Mall Surabaya M. Yazid pada pewarta Tugu Jatim Rabu (03/02/2021).

Anggota Paguyuban P4 sampaikan aspirasi soal operasional Rumah Sakit (RS) Siloam di sekitar Cito Mall Surabaya. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Anggota Paguyuban P4 sampaikan aspirasi soal operasional Rumah Sakit (RS) Siloam di sekitar Cito Mall Surabaya. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Yazid juga menjelaskan bahwa ada sekitar 200 anggota dari Paguyuban P4 yang turut menolak pengoperasian dan pembangunan RS Siloam yang akan dipakai untuk tempat rujukan pasien Covid-19. Namun, hanya ada 50  orang yang aktif ikut menyuarakan aspirasinya, tersebar di beberapa titik, tidak hanya di depan Kedai Kopi 27 lantai 1 Cito Mall Surabaya saja.

“Pemkot, Siloam, dan Manajemen (Cito Mall Surabaya, red) tidak pernah bilang bahwa mal akan disulap menjadi RS Covid-19, informasi yang benar yaitu RS tersebut ada di wilayah Cito Mall Surabaya. Yang ada di paguyuban sekitar 200 orang, tapi yang aktif ikut menyuarakan aspirasi sekitar 50 orang, tidak hanya di titik ini saja, mereka tersebar ada di beberapa titik,” lanjut Yazid ketika diwawancara Tugu Jatim di depan Kedai Kopi 27 Lantai 1 Cito Mall Surabaya.

Di sisi lain, Yazin juga menjelaskan bahwa banyak tenant atau stan yang sudah tutup di Cito Mall Surabaya, hal itu berdampak pada perekonomian dan pemasukan dari penjual yang ada di sana. Apalagi bila ada RS rujukan Covid-19 di wilayah Cito Mall Surabaya, pengunjung bakal memilih untuk menjaga destinasi kunjungan ke Cito Mall Surabaya.

“Di wilayah ini ada Cito Mall, ada apartemen dan Siloam. Dan Siloam itu gedungnya terpisah, tapi bukan terpisah jauh. Siloam ada di bagian barat dari Cito Mall Surabaya. Sekarang saja sudah sangat sepi, banyak tenant yang tutup, apalagi saat ada pengoperasian RS Siloam sebagai rujukan Covid-19,” ucapnya.

Sementara itu, Paguyuban P4 memperlihatkan aspirasinya bertuliskan “Tolak RS Covid-19 di Area Mall Cito” dengan berbagai variasi warna. Yazid kembali menyampaikan potensi mengenai minat customer atau pelanggan berkurang drastis ketika RS Siloam rujukan Covid-19 itu benar-benar aktif beroperasi di area Cito Mall Surabaya.

“Otomatis customer mikir, kenapa mau berbelanja di tempat yang berjejeran dengan RS Covid-19 kan ada tempat belanja lain. Ini yang perlu diperhatikan, dampak sosial, dampak kesehatan, dan ekonominya,” pungkas Yazid pada Tugu Jatim.

Sebagai informasi, Yazid dan seluruh anggota Paguyuban P4 bakal terus melakukan penolakan terhadap pengoperasian, pembangunan, maupun pembukaan RS Siloam rujukan Covid-19 di area Cito Mall Surabaya. Bahkan, bila RS Siloam rujukan Covid-19 itu resmi beroperasi, aspirasi dari Paguyuban P4 bakal tetap menggema. (Rangga Aji/ln)

 

 

  • Bagikan