MALANG, Tugujatim.id – Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) Malang kembali menggelar Pasar Monolog #4 sebagai ruang untuk menyalurkan bakat anggotanya dalam berkarya di teater. Acara ini digelar di ruang amphitheater lantai lima, Malang Creative Center (MCC), Sabtu (24/01/2026), pukul 13.00 WIB, yang terbuka untuk umum.
Andrean Fahreza Nur Wicaksono selaku Pimpinan Produksi Pasar Monolog #4, menjelaskan, acara ini diinisiasi oleh Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB), komunitas yang beranggotakan pekerja seni, terutama seni teater dan drama.
Pasar Monolog ini berangkat dari kegelisahan para anggota seniman yang ingin kembali berkarya. Sebelumnya, mereka memang sudah sering berlatih tetapi tidak ada hasil karya atau produk yang dihasilkan. Dari sinilah ide untuk mengadakan Pasar Monolog lahir.
Baca Juga: Closing Pameran Tunggal Wartawan Senior Mojokerto, Lukisan Kiai Asep Dikoleksi Pengusaha Muda
“Nah berkarya itu tidak hanya sekadar berkarya, teman-teman inginnya juga memberikan nilai-nilai positif terkait dengan merespons lingkungan sekitar, peristiwa-peristiwa di masyarakat, banyaklah sehingga ini dimasukkan ke dalam bagian dari Pasar Monolog,” jelasnya saat diwawancarai.
Seperti namanya, Pasar Monolog tahun ini adalah Pasar Monolog ke-4 yang KBKB adakan. Sebelumnya, KBKB sudah pernah mengadakan Pasar Monolog di 2018, kedua di 2019, dan untuk Pasar Monolog ke-3 sempat vakum karena pandemi. Akhirnya, pada tahun ini, Pasar Monolog bisa diadakan kembali.
“Sebenarnya inginnya ini adalah Pasar Monolog 3. Tapi karena Pasar Monolog 3 itu tertunda, akhirnya dilanjutkan ke Pasar Monolog ke-4 di tahun ini,” ungkapnya.

Pasar Monolog #4 ini mempertunjukkan tujuh penampil dengan naskah monolog yang berbeda-beda yang dibagi menjadi tiga sesi. Setelah tujuh penampilan selesai, acara dilanjutkan dengan bedah buku kumpulan monolog oleh Dr Tengsoe Tjahjono.
Penampil pertama dalam Pasar Monolog #4 ini adalah Dohir ‘Sindu’ Herliato dengan judul karya “Langit Markeso”, kemudian dilanjutkan oleh Agus Fauzi Romadhon dengan judul karya “Raiasu Risau”, Dr Muh. Fathoni Rohman MPd dengan judul karya “Suatu Hari dalam Hidup Seorang Hakim,” Naila Ali dengan judul karya “Bicara”, Januari Kristiyani dengan judul karya “Jawaban”, Dr Sn Musthofa Kamal SPd MSn dengan judul karya “Pahlawan di Negeri Para Hantu”, dan ditutup oleh Dr Muhammad Zaeni SS MPd (Leo Tanimaju) dengan judul karya “Niskala di Tanah Senyap”.
Andrean mengatakan, semua penampil monolog ini merupakan bagian dari KBKB dan komunitas sekitarnya yang secara sukarela mengajukan diri dan siap untuk menampilkan karya. Dengan tingginya antusias para calon penampil yang mengajukan diri, akhirnya anggota membagi tugas dan diputuskanlah 7 penampil untuk berdiri di panggung Pasar Monolog #4.
“Saya kemarin harapannya nggak sampai 7 orang, tapi karena semua anggota KBKB ingin main semua. Bahkan, saya sendiri sebagai pimpinan sebenarnya juga ingin main tampil, tapi nanti kalau saya main, siapa yang produksi?” ujarnya sambil bergurau.

Di balik naskah-naskah monolog yang penampil bawakan, terdapat kisah menarik yang membantu diadakannya acara ini.
Ketika awal Pasar Monolog #4 akan diadakan, para penampil masih tidak mempunyai naskah. Akhirnya, Tengsoe menawarkan buku kumpulan monolognya karena kebetulan saat itu sedang menerbitkan bukunya.
Dari sinilah para penampil terbantu dengan naskah monolog yang sudah Tengsoe tulis. Beberapa penampil menggunakan naskah monolog asli Tengsoe untuk penampilannya, di antaranya yaitu “Langit Markeso”, “Suatu Hari dalam Hidup Seorang Hakim”, dan “Pahlawan di Negeri Para Hantu”.
“Nah, tapi beliau belum punya naskah. Akhirnya, bertemu dengan Pak Tengsoe ditawari bukunya. Kebetulan Pak Tengsoe membuat buku kumpulan monolog. Kok, ternyata teman-teman yang lain itu tertarik. Akhirnya, beberapa teman dikasih naskahnya Pak Tengsoe,” ucapnya.
Selain ketiga naskah Tengsoe tadi, ada beberapa penampil yang hanya mengadaptasi naskah asli Tengsoe, contohnya adalah “Bicara” dan ada yang menggunakan naskah mereka sendiri seperti “Niskala di Tanah Senyap” dan “Jawaban”.
Seperti yang disampaikan tadi, setiap cerita monolog memiliki pesan tersendiri yang ingin mereka sampaikan. Namun, secara keseluruhan, monolog-monolog yang ditampilkan berkaitan dengan isu-isu yang dekat dengan masyarakat Indonesia, seperti isu sosial, hukum, hingga politik.
“Contoh misalnya yang naskah “Jawaban” kan sindiran terhadap masyarakat, entah perdesaan atau di mana pun ya. Kemudian Hakim (“Suatu Hari dalam Hidup Seorang Hakim”), tentang politik pemerintah dan sebagainya. Sebenarnya, banyak pesan yang ingin disampaikan,” tambahnya.
Dengan mengangkat isu yang dekat dengan masyarakat, acara ini tidak ingin hanya menjadi sebuah hiburan semata bagi penonton, tetapi juga ingin mengajak untuk lebih melek terhadap isu atau masalah yang sedang terjadi di sekitar kita.
“Ya intinya teman-teman itu ingin berbagi nilai, berbagi kepada penonton supaya melek dengan kehidupan saat ini. Indonesia itu seperti ini loh,” tegasnya.
Acara ini memiliki target 250–300 pengunjung, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga umum. Namun, saat hari-H, antusias penonton melebihi ekspektasi, yaitu hampir 400 penonton yang membuat ruang amphitheater penuh.
“MCC itu kapasitasnya cuma 300. Misalnya yang hadir 250 nggak apa-apa. Lah kok ternyata yang hadir ini hampir 400. Akhirnya tadi overload ya mungkin. Ya sudah tidak apa-apa karena memang antusias penonton ya,” paparnya.
Untuk ke depannya, Andrea berharap pentas monolog ini dapat lebih menarik dan lebih baik lagi penataannya. Dia juga berharap ke depannya penonton dapat lebih antusias untuk datang. Tidak hanya sekadar menonton, tetapi dia berharap penonton juga dapat mengambil lebih banyak hal positif dari pementasan monolog ini.
“Kalau di dalam ilmu teater itu ada tontonan, tuntunan, dan tuntutan. Jadi, setelah menonton kemudian bisa menuntun dan menuntut supaya menjadi lebih baik. Menuntun untuk berbuat lebih baik dan menuntut diri supaya terus berbuat lebih baik. Intinya, kalau di teater harapannya nilai-nilai itu yang ingin ditawarkan ke penonton,” harapnya.

Setelah semua penampil selesai menampilkan naskah monolognya, agenda dilanjutkan dengan bedah buku “Kursi Malas di Depan Jendela” (Kumpulan Monolog) karya Dr Tengsoe Tjahjono dengan Candra Rahma WP MA sebagai moderator.
Dalam sesi bedah buku ini, Tengsoe menjelaskan isi buku dan beberapa hal yang berkaitan dengan pementasan monolog. Tidak hanya itu, penonton juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya terkait monolog atau teater kepada Tengsoe maupun kepada ketujuh penampil monolog yang sudah tampil sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Azmi Azaria Fidaroini
Editor: Dwi Lindawati








