Kasus Covid Melandai, Penghuni Isoter YPPII Kota Batu Nihil - Tugujatim.id

Kasus Covid Melandai, Penghuni Isoter YPPII Kota Batu Nihil

  • Bagikan
Suasana di tempat isolasi terpusat (isoter) yang terletak di Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) Kota Batu. (Foto: M. Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Suasana di tempat isolasi terpusat (isoter) yang terletak di Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) Kota Batu. (Foto: M. Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

BATU, Tugujatim.id – Kasus Covid-19 menurun, tingkat keterisian pasien penghuni di isolasi terpusat (isoter) Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) Kota Batu juga melandai. Apalagi dalam 2 hari ini sudah tercatat 0 pasien. Artinya, laju penularan Covid-19 mulai melandai.

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso membenarkan kondisi ini. Dia mengatakan, pasien terakhir pada Minggu (10/10/2021) hanya ada 1 orang dan sudah pulang.

”Selama 2 hari ini sudah tercatat 0 pasien. Terakhir hanya ada 1 orang, itu pun pelimpahan dari RS lain,” kata dia pada Senin (11/10/2021).

Punjul menjelaskan, jika pelimpahan pasien dari RS adalah hal wajar. Sesuai mekanismenya, jika pasien sudah selesai menjalani perawatan, maka harus istirahat dulu di tempat isoter selama 3 hari.

Menurut Punjul, kondisi ini bisa dikatakan tingkat transmisi penularan virus di Kota Batu diklaim mulai melandai.

”Kosongnya isoter dan tingkat keterisian tempat isolasi dan ICU di RS rujukan menunjukkan laju penularan Covid-19 di sini mulai terkendali,” kata dia.

Tapi Punjul mengimbau, bukan berarti kondisi ini menjadikan warga Kota Batu berleha-leha dan tidak lagi menerapkan protokol kesehatan (prokes). Pada prinsipnya, laju penularan virus asal Wuhan, China, ini masih belum dapat dikatakan selesai.

”Prokes tetap harus dijalankan secara disiplin. Itu adalah kunci utama mengendalikan penularan. Saya harap kondisi ini bisa terus bertahan. Meski begitu, isoter ini akan tetap diaktifkan,” ujarnya.

Di tempat terpisah, salah satu perawat di Isoter YPPII Batu Wiwik Safitri membenarkan jika keterisian pasien mulai ada tren penurunan dibandingkan sebelum-sebelumnya. Dia mengatakan, keterisian paling tinggi yang pernah tercatat mencapai 112 bed dari total 156 bed.

”Tertinggi pernah tembus 112 pasien karena memang Covid-19 sedang meledak-ledaknya sekitar Juli-Agustus 2021. Meski begitu, kami tetap stand by buat jaga-jaga sampai kondisnya dinyatakan kondusif,” ujarnya.

  • Bagikan