• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nasional (PBN) bertandang ke Candi Jago dan Candi Kidal di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Minggu (05/09/2021).(Foto: Dokumen/Tugu Jatim)

Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nasional (PBN) bertandang ke Candi Jago dan Candi Kidal di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Minggu (05/09/2021).(Foto: Dokumen)

Perempuan Bersanggul Nasional Menelisik Bentuk Sanggul-Busana di Candi Jago dan Candi Kidal Malang

Dwi Lindawati by Dwi Lindawati
5 years ago
in News, Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Malang adalah tergolong daerah paling tua di Jawa sehingga menyimpan banyak sejarah dengan catatan kejayaannya. Malang sebagai cikal bakal kerajaan besar di Jawa masih menyisakan beberapa benda, bangunan, struktur, hingga situs yang termasuk kawasan cagar budaya. Sebut saja masa kejayaan Kerajaan Kanjuruhan, ada Candi Badhut. Sedangkan masa kerajaan Singosari masih tersisa Candi Jago dan Candi Kidal, Kabupaten Malang.

Berkaitan dengan pemanfaatan situs cagar budaya, ada banyak cara yang dilakukan oleh komunitas pelestari dan pencinta budaya. Salah satunya adalah belajar sejarah tentang situs cagar budaya. Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nasional (PBN) bertandang ke Candi Jago dan Candi Kidal di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Minggu (05/09/2021). Mereka sebagian besar adalah ibu-ibu bersanggul dan berkebaya, serta sebagian lainnya para remaja yang ingin belajar tentang candi dan relief yang mengelilinginya.

You might also like

Cuaca Jatim.

Cuaca Jatim Minggu 7 Juni 2026 Didominasi Cerah dan Kabut Menyelimuti

07/06/2026 7:00 AM
Serapan anggaran.

Serapan Anggaran Kota Blitar Minim Kurang dari 30 Persen, DPRD Warning Pemkot Hindari “Bendol Mburi”

06/06/2026 2:24 PM

Ketua PBN Ries Handana Prawiradirja mengatakan, saat berkunjung ke situs-situs cagar budaya, kunjungan ke peninggalan sejarah, tidak sekadar untuk berwisata dan berfoto-foto saja.

“Tapi kita selalu mempelajari latar belakang sejarah serta mempelajari cerita-cerita yang ada di relief candi,” ujarnya.

Dia melanjutkan, tidak sekadar mengagumi keindahan arsitektur candi, tapi berupaya mendapatkan data dan informasi tentang candi yang dikunjungi.

Saat di Candi Kidal, rombongan PBN ditemui oleh Ki Suryo, juru pelihara candi. Dia menjelaskan, dalam susatra Jawa kuno, ada mitos yang terkenal di kalangan masyarakat, yaitu mitos Garudheya, seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan).

Ki Suryo, juru pelihara candi, menjelaskan sejarah Candi Jado dan Candi Kidal kepada Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nasional (PBN) di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Minggu (05/09/2021).(Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Ki Suryo, juru pelihara candi, menjelaskan sejarah Candi Jado dan Candi Kidal kepada Perkumpulan Perempuan Bersanggul Nasional (PBN) di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Minggu (05/09/2021).(Foto: Dokumen)

Dia melanjutkan, konon relief mitos Garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya. Mitos Garudheya tertuang secara lengkap dalam relief di seputar kaki candi. Untuk membacanya digunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), dimulai dari sisi selatan.

Setelah itu, rombongan PBN bergeser ke Candi Jago dan Ki Suryo kembali menceritakan salah satu relief Buddhistis yang ada di Candi Jago adalah relief Kunjarakarna. Singkat cerita, dia mengatakan, relief ini menceritakan tentang Kunjarakarna yang meminta kepada Hyang Wairocana untuk dapat mencapai pembebasan yang seutuhnya. Saat itu, Kunjarakarna yang sedang bertapa di Gunung Semeru ingin bertemu Hyang Wairocana.

Ki Suryo menjelaskan, menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan Candi Jago atas perintah Raja Kertanegara ini berlangsung sejak tahun 1268 M sampai tahun 1280 M sebagai penghormatan bagi ayahandanya Raja Singasari ke-4, Sri Jaya Wisnuwardhana, yang mangkat pada tahun 1268.

“Walau dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari bahwa Candi Jago merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit,” terang Ki Suryo.

Dia menambahkan, dalam relief itu mirip seperti gaya wanita Bali yang memakai sanggul.

“Di relief candi tersebut dapat dikatakan sangat mirip dengan gaya sanggul wanita-wanita Bali pada saat ini,” ungkap Ries Handana Prawiradirja yang berprofesi sebagai seorang arsitek Jawa ini.

Dia menjelaskan, menemukan ada wanita mengenakan kemben dengan jarik yang diwiru dan dengan rambut disanggul, tata busana dan gaya rambutnya mirip sekali dengan tata busana dan gaya rambut wanita Majapahit yang dapat dilihat di patung-patung koleksi Museum Empu Tantular.

Sementara itu, Koordinator PBN Malang Raya Sany Repriandini menyampaikan, di relief candi banyak digambarkan bagaimana busana perempuan Jawa pada waktu itu. Bagaimana bentuk-bentuk sanggul ornamen motif kain dan jarik waktu itu yang diharapkan dapat menginspirasi untuk desain-desain jarik dan busana di masa depan tanpa tercabut dari akar budaya.

“Harapannya kami setelah mendapatkan penjelasan dari relief candi ini. Kami pun bisa melestarikan ragam busana yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa,” ujarnya. (*)

Tags: Candi JagoCandi KidalKabupaten MalangPerempuan Bersanggul Nasional
Dwi Lindawati

Dwi Lindawati

Related Stories

Cuaca Jatim.

Cuaca Jatim Minggu 7 Juni 2026 Didominasi Cerah dan Kabut Menyelimuti

by Dwi Linda
07/06/2026 7:00 AM
0

Tugujatim.id - Cuaca Jatim pada Minggu (07/06/2026) didominasi kondisi cerah, berawan, serta udara kabur di sejumlah wilayah. Variasi ini menunjukkan...

Serapan anggaran.

Serapan Anggaran Kota Blitar Minim Kurang dari 30 Persen, DPRD Warning Pemkot Hindari “Bendol Mburi”

by Dwi Linda
06/06/2026 2:24 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Blitar melayangkan peringatan serius kepada pemkot terkait lambatnya serapan belanja daerah 2026....

Pendaki ilegal Gunung Semeru.

Pendaki Ilegal Gunung Semeru Jatuh ke Jurang 375 Meter, Survivor Selamat Dievakuasi lewati Medan Curam

by Dwi Linda
06/06/2026 11:07 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi Cakra, 18, pendaki ilegal Gunung Semeru. Evakuasi dilakukan setelah dia terjatuh ke...

Jatim.

Jatim Berkabut, Angin Kencang Berpotensi Ganggu Aktivitas Sabtu 6 Juni 2026

by Dwi Linda
06/06/2026 7:00 AM
0

Tugujatim.id - Cuaca di Jatim pada Sabtu (06/06/2026) didominasi kondisi udara kabur, kabut/asap, serta berawan di sebagian besar wilayah. Fenomena...

Next Post
Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP Adhi Makayasa memperlihatkan barang bukti tablet curian yang dicuri oleh Eko Nugroho Abdiyanto, di tempat sekolah yang ia jaga. (Foto: Moch Abdurrochim/Tugu Jatim) smpn 1 semanding

Tablet Curian Milik SMPN 1 Semanding Tuban Hanya Dijual Rp 800 Per Unit

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID