• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Petani bunga di Kota Batu yang mengaku kesulitan distribusi selama masa PPKM Darurat (PPKM Level 4) karena terkendala mobilitas. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Petani bunga di Kota Batu yang mengaku kesulitan distribusi selama masa PPKM Darurat (PPKM Level 4) karena terkendala mobilitas. (Foto: M Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Petani Bunga Kota Batu Kesulitan Distribusi Selama Masa PPKM Darurat

Gigih Mazda by Gigih Mazda
5 years ago
in News
0
Share on FacebookShare on Twitter

BATU, Tugujatim.id – Melonjaknya permintaan tanaman hias di tengah pandemi kembali meredup usai PPKM Darurat diterapkan. Sebagai wilayah pemasok tanaman hias terbesar, nyatanya petani tanaman hias Kota Batu terseok-seok juga lantaran kesulitan dalam proses distribusi.

Tanaman hias Kota Batu yang mayoritas pasarnya berada di luar Kota Batu terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang. Pembatasan mobilitas ternyata juga berdampak pada menurunnya permintaan tanaman hias.

You might also like

Harga telur di Bojonegoro.

Harga Telur di Bojonegoro Merosot 3 Hari Berturut-turut, Pedagang Untung Peternak Buntung

04/06/2026 12:03 PM
Pameran Seni Surabaya.

Catat Tanggalnya! Ini Deretan Pameran Seni Surabaya yang Digelar Sepanjang Juni 2026

04/06/2026 11:07 AM

Sugiono (43), petani bunga mawar Desa Sidomulyo, Kota Batu mengaku harus rela menurunkan harga bunganya demi kembali memikat minat pembelinya. Tanaman bunga mawar yang biasa dia jual dengan harga Rp 6.000 harus diturunkan hingga Rp 3.000 per polybag.

“Tanaman kami sepi pembeli sejak awal PPKM Darurat. Karena memang mayoritas pembeli kita dari Jawa Tengah dan Bali. Mereka biasanya kesini tapi sekarang karena disekat, gak bisa kesini,” ujarnya, Rabu (28/7/2021).

“Dari Jawa Tengah sasuk Jawa Timur saja sudah sulit. Meski bisa masuk dengan persyaratan rumit itu, tapi di sana juga gak bisa jualan karena peminatnya juga menurun. Pembeli saya mayoritas juga penjual juga,” imbuhnya.

Lantaran tak laku, Sugiono harus memangkas bunganya yang sudah tak layak jual agar bisa tumbuh tangkai bunga yang baru. Namun pemangkasan ini beresiko pada pembengkakan biaya perawatan bunganya yang berada di lahan 800 meter persegi itu.

Dia harus kembali memupuk hingga penyemprotan pestisida agar tanaman berbunga dengan baik lagi. Sehingga biaya perawatan bunga ini harus digelontorkan lebih banyak lagi sementara disisi lain pendapatannya berkurang drastis.

“Kalau terus terusan seperti ini tentu kami harus ganti profesi. Sejak PPKM ini baru 5 pembeli yang datang kesini, itupun sedikit dan mereka warga Kota Batu,” paparnya.

Dalam PPKM Darurat yang sudah diperpanjang dengan PPKM Level 4 hingga 2 Agustus 2021 ini, dia berharap pemerintah tak memperpanjang lagi agar para petani tanaman hias bisa kembali mendistribusikan tanamannya ke luar kota.

“Sekarang ini yang terparah, dulu kita mungkin hanya kalah dengan saingan bunga lain yang lagi tenar. Tapi dulu kita masih bisa jualan, lah sekarang kemana mana gak bisa” kata Sugiono yang sudah bertani bunga mawar sejak 1990 itu.

Sementara itu, Ibadi Sholikin, petani bunga mawar Desa Sidomulyo, Kota Batu mengaku juga mengalami kesulitan pengiriman bunga ke luar kota. Dimana mayoritas pembelinya merupakan warga luar kota.

“Pembeli saya biasanya ada yang datang kesini, ada juga permintaan untuk mengirim ke luar kota juga. Ada dari Pontianak, Flores, Jogja dan lainnya,” ujar Sholikin yang sudah berprofesi sebagai petani bunga mawar sejak 1998 itu.

Menurutnya sebelum PPKM Darurat, dia bisa mengirim bunga mawar ke luar kota hingga 10 ribu polybag dalam waktu seminggu. Namun kini dikatakan sejak PPKM Darurat, menjual 1.000 bunga saja sulit sekali.

“Kalau gak laku ya dibakar saja, kemudian nanam tanaman lain saja. Karena bunga mawar ini rumit perawatannya. Kalau sudah dipotong sekali dua kali tetap gak terjual maka mau gak mau ya dibakar saja. Kalau terus dirawat ya rugi sedangkan pendapatan gak ada,” ucapnya.

Tags: BatuKota Batupetani
Gigih Mazda

Gigih Mazda

Related Stories

Harga telur di Bojonegoro.

Harga Telur di Bojonegoro Merosot 3 Hari Berturut-turut, Pedagang Untung Peternak Buntung

by Dwi Linda
04/06/2026 12:03 PM
0

BOJONEGORO, Tugujatim.id – Harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bojonegoro merosot dalam beberapa hari terakhir. Kondisi harga...

Pameran Seni Surabaya.

Catat Tanggalnya! Ini Deretan Pameran Seni Surabaya yang Digelar Sepanjang Juni 2026

by Dwi Linda
04/06/2026 11:07 AM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Memasuki bulan Juni 2026, acara-acara yang diselenggarakan di Surabaya banyak macamnya, salah satunya pameran seni. Mau tahu...

Jawa Timur.

Kabut dan Udara Kabur Mendominasi, Waspadai Jarak Pandang di Jawa Timur 4 Juni 2026

by Dwi Linda
04/06/2026 8:23 AM
0

Tugujatim.id - Prakiraan cuaca Jawa Timur untuk Kamis (04/06/2026) menunjukkan dominasi kabut, udara kabur, dan kondisi berawan di banyak wilayah,...

BGN

Eks Kepala BGN Jadi Tersangka Korupsi MBG, Dugaan Modus hingga Harta Kekayaan Dadan Hindayana Terkuak

by Mochamad Abdurrochim
03/06/2026 10:41 PM
0

Tugujatim.id - Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, resmi ditahan Kejaksaan Agung (Kejagung) setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus...

Next Post
Pertemuan utusan antara China-As dalam mempersiapkan krisis perubahan iklim

Dihantam Banjir dan Topan, China Siap Hadapi Perubahan Cuaca Ekstrim

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID