Pria di Kabupaten Malang Hidup Sebatang Kara di Rumah tanpa Pintu dan Jendela - Tugujatim.id

Pria di Kabupaten Malang Hidup Sebatang Kara di Rumah tanpa Pintu dan Jendela

  • Bagikan
Karyanto, 77, warga Desa Tirtoyudo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, yang tinggal sendiri di rumah tanpa pintu dan jendela. (Foto: Rubianto/Tugu Jatim)
Karyanto, 77, warga Desa Tirtoyudo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, yang tinggal sendiri di rumah tanpa pintu dan jendela. (Foto: Rubianto/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Di tahun 2021 ini ternyata masih saja ada warga di Kabupaten Malang yang bernasib tidak beruntung sehingga harus tinggal di rumah yang tidak layak huni. Seperti yang dialami Karyanto, 77, warga Desa Tirtoyudo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, ini.

Karyanto yang sehari-hari bekerja serabutan ini tinggal sebatang kara di rumah setengah jadi yang tidak memiliki pintu dan jendela sama sekali. Dia bercerita jika rumahnya sudah seperti ini sejak dibangun pada 2010 lalu.

“Saya setiap hari kerja serabutan, biasanya bantu jadi kuli bangunan. Saya tinggal di sini sudah lama, sekitar 2010 atau lebih dari 10 tahun,” terangnya saat dikunjungi Tim Relawan Tugu Media Peduli beberapa waktu lalu.

Di rumah tersebut juga tidak ada perabotan sama sekali, Karyanto bahkan tidur hanya beralaskan tikar yang digelar di atas bangku kayu yang tidak layak.

“Tidur gak di kasur ya gapapa, enak saja. Cuma tikar ditaruh di atas bangku, saya buat sendiri,” ujarnya sambil menunjukkan tempat tidurnya.

Selain itu, Karyanto juga tidak memiliki alat memasak sendiri sehingga dia harus membeli sendiri makanan di warung.

“Kalau makan biasanya beli, mau masak sendiri alatnya gak ada,” tandasnya.

Karyanto bersama Tim Tugu Media Peduli. (Foto: Rubianto/Tugu Jatim)
Karyanto bersama Tim Tugu Media Peduli. (Foto: Rubianto/Tugu Jatim)

Pria asli Desa Tirtoyudo ini sendiri bercerita jika pernah ada ular masuk karena tidak adanya pintu dan jendela di rumahnya. Kadang-kadang bahkan ada orang asing yang tiba-tiba masuk ke rumahnya.

“Pernah ada ular masuk, ularnya hitam panjang, itu dulu tapi sekarang sudah tidak ada. Sebenarnya takut kalau ada ular masuk,” kenangnya.

“Orang asing juga pernah ada banyak yang masuk. Kalau orang yang saya kenal, ya keluar masuk,” imbuhnya.

Nampak di wajah Karyanto tidak ada raut wajah sedih atau menyesal tinggal di sana. Lantaran, dia mengatakan jika rumah ini adalah peninggalan orang tuanya.

Ya mau ke mana lagi, gak ada pilihan lain (tempat tinggal). Lagi pula duku ini (rumah) dibangun orang tua, tapi sekarang orang tua sudah gak ada,” bebernya.

Lebih lanjut, dia mengatakan jika hingga saat ini belum ada perhatian dari pemerintah setempat untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya.

“Kalau dari desa belum ada bantuan pembangunan, kalau bantuan ya kemarin itu dari TNI berupa sembako,” paparnya.

Terakhir, pria yang tidak memiliki anak dan istri ini berharap agar ada yang mau membantu membangunkan rumahnya.

“Kalau saya harapannya pemerintah desa mau membantu, setidaknya dikasih pintu, jendela, dan perabot dapur,” ujarnya.

  • Bagikan