Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Bagaimana Pelaksanaannya di Kota Malang? - Tugujatim.id

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Bagaimana Pelaksanaannya di Kota Malang?

  • Bagikan
Ilustrasi pelaksanaan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Kota Malang. (Foto: Dicky Hanafi/Tugu Jatim)
Ilustrasi pelaksanaan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Kota Malang. (Foto: Dicky Hanafi/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim terus menggenjot pelaksanaan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) demi memberikan pengalaman belajar sebanyak 20 SKS di luar kampus.

Seiring dengan kebijakan tersebut, beberapa kampus di Kota Malang juga mempersiapkan para mahasiswanya untuk berpartisipasi dalam program yang dibuat oleh founder Gojek tersebut.

Seperti di Universitas Brawijaya (UB), di mana UB mengikuti pola terkait program-program yang ada di Kemendikbud Ristek. Mulai dari program magang, proyek di desa, kampus mengajar, pertukaran pelajar, penelitian, kewirausahaan, proyek mandiri, dan proyek kemanusiaan. Di mana program-program ini terus di-follow up oleh UB sejak 2020 hingga saat ini.

“Memang pada 2020 masih dalam tahap sosialisasi, tapi pada 2021 kami sudah bisa menerapkan dari 8 bentuk pembelajaran dari kegiatan merdeka belajar,” ungkap Heri Prawoto Widodo selaku Koordinator Perencanaan Akademik dan Kerja Sama saat dikonfirmasi Selasa (24/08/2021).

Heri juga mengungkapkan, program magang adalah salah satu program yang menjadi favorit para mahasiswa UB.

“Untuk program magang itu yang sudah memenuhi syarat itu sekitar 87 mahasiswa dan 14 program studi yang lolos program bangkit. Program bangkit sendiri adalah program untuk mahasiswa semester 7 untuk mengikuti berbagai program dari perusahaan-perusahaan besar, mulai dari Google dan perusahaan teknologi lainnya,” bebernya.

Dia mengatakan, ini program dari pemerintah untuk pembelajaran secara langsung dengan 20 SKS.

“Jadi, program bangkit ini adalah program dari pemerintah untuk pembelajaran secara langsung dengan 20 SKS yang ilmunya disajikan dari narasumber perusahaan-perusahaan besar,” sambungnya.

Selain itu, UB juga memiliki program studi independen yang diikuti 175 mahasiswa. Intinya, ini adalah program untuk mahasiswa dengan kegiatan-kegiatan di luar kampus.

Ada juga program magang bersertifikat dengan 339 mahasiswa yang mengikuti di seluruh fakultas di UB.

“Jadi, program ini adalah bentuk kerja sama dikti dengan beberapa perusahaan yang mampu mentransfer ilmu dan teknologinya kepada mahasiswa yang akan menghadapi kelulusan dia dan magangnya itu selama 1 semester. Dan untuk persyaratan sudah ada di platform MBKM seperti mereka harus semester sekian dengan IPK minimal sekian. Kemudian syaratnya mahasiswa tidak melebihi masa studi yang disyaratkan,” jelasnya.

Heru juga mengungkapkan, sambutan dari para mahasiswa sangat luar biasa. Sambutannya ini menurutnya tak lepas dari upaya UB untuk melakukan sosialisasi kepada mahasiswa, baik dari media sosial maupun berbagai macam sumber-sumber informasi bahwa ada beberapa program yang bisa diikuti dan diakui SKS-nya di UB.

“Memang ini memiliki daya tarik bagi mahasiswa karena bisa mendapat pengalaman di luar kampus untuk menunjukkan eksistensinya. Kemudian mengetahui bagaimana media di luar kampus. Memang program Pak Menteri ini untuk menambah wawasan bahwa di luar kampus itu seperti apa,” ujarnya.

Sedikit berbeda dengan UB, Universitas Negeri Malang (UM) lebih cenderung menonjol soal program MBKM dari sisi kependidikan.

“Kampus merdeka yang di Kemendikbud itu, mahasiswa mengajar di sekolah seperti SD dan SMP yang dihargai 20 SKS oleh Kemendikbud selama 6 bulan. Kalau ini nama programnya Kampus Mengajar 2,” terang I Wayan Dasna selaku Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) UM.

Di mana program ini dinamakan asistensi mengajar dan menyasar pada sekolah-sekolah di daerah domisili para mahasiswa.

“Kalau asistensi mengajar itu di desa dan di daerahnya mahasiswa tersebut. Misalnya saya memiliki mahasiswa di Sampang, ya asistensi mengajarnya ya di Sampang juga,” tuturnya.

Dia mengatakan, ada 10.000-20.000 mahasiswa yang mengikuti program ini.

“Dan asistensi mengajar itu boleh diikuti semua mahasiswa, baik dari prodi pendidikan maupun ilmu murni. Sebab, programnya dari Kemendikbud. Jadi, dari semua universitas di Indonesia ikut, ada 10.000-20.000 mahasiswa kalau gak salah yang ikut,” tambahnya.

UM sendiri lebih menonjolkan program asistensi mengajar karena memang kebanyakan jurusan di UM adalah jurusan kependidikan. Selain itu, UM juga dikenal sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik di Indonesia.

“Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang salah satu programnya adalah asistensi mengajar itu memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk memecahkan masalah di sekolah-sekolah yang belum terakreditasi A. Pengalaman belajar itu tentu akan sangat bermanfaat setelah mereka lulus nanti. Atau membekali diri bagaimana memecahkan masalah yang sesungguhnya,” ujarnya.

Namun, dia juga memastikan bahwa beberapa prodi ilmu murni di UM juga bisa mengikuti asistensi mengajar ini.

“Selain itu, karena kan di sekolah itu ada yang untuk peningkatan literasi, jadi tidak hanya pendidikan saja, yang ilmu murni juga boleh,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan bagaimana alur pendaftaran program asistensi mengajar ini.

“Untuk penempatan magangnya ditentukan oleh Kementerian, karena semua mahasiswa seluruh Indonesia ini daftarnya ke Kemendikbud Ristekdikti. Kemudian dari Kemendikbud menyeleksi dulu, dan yang lulus ditempatkan di daerah asalnya,” ucapnya.

Terakhir, dia juga mengatakan, program ini mendapat sambutan positif dari para mahasiswa. Buktinya, dari total mahasiswa yang diterima dalam program asistensi mengajar adalah 898 mahasiswa, ada sekitar 1.100 mahasiswa yang mendaftar.

“Makanya perlu diikuti sebaik-baiknya sehingga memiliki pengalaman belajar, selain kuliah teori di kampus. Mereka juga punya pengalaman penyelesaian masalah secara nyata di kampus,” ujarnya.

  • Bagikan