SURABAYA, Tugujatim.id – Raden Roro Nanik Setyowati, perempuan yang memiliki julukan ‘Doktor Bonek’ kini dikukuhkan menjadi guru besar bidang sosiologi pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Pengukuhan gelar Prosefor dilakukan oleh Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Nurhasan bersama delapan guru besar lainnya pada Selasa kemarin (29/10/2024) di Kampus Lidah Wetan, UNESA Surabaya.
Kecintaannya pada klub sepakbola asal Surabaya, Persebaya membawa Nanik mendapat julukan Doktor Bonek dalam bidang akademisnya. Bahkan dia juga mengambil riset tentang Pendekatan Humanis dalam Mengantisipasi Kekerasan Suporter dalam Sepak Bola (Studi Kasus Suporter Bonek Surabaya).
Menurut perempuan yang berfokus di bidang Sosiologi Pendidikan tersebut, kekerasan antar suporter sepak bola tidak dapat diingkari. Namun, hal yang perlu ditekankan adalah mengelola kekerasan tersebut melalui pendekatan humanis.
“Sebenarnya kekerasan itu akan selalu ada, tapi tidak bisa diingkari, tapi dikelola. Nah, pendekatan yang saya sampaikan adalah pendekatan yang humanis. Jadi, bukan asal ditangkap, diburu, tidak, tapi didekati, itu dengan pendidikan,” katanya.
Menurutnya, nggak heran jika Indonesia yang dikenal sebagai negara yang gila bola. Ketertarikan masyarakat lokal terhadap dunia sepak bola sangatlah tinggi.
Selama mengenal Bonek, perempuan kelahiran 25 Agustus 1967 tersebut juga menyadari jika suporter Persebaya berasal dari banyak kalangan usia dan latar belakang. Sehingga, sikap dan kulturnya pun tidak dapat dibendung.
“Oleh sebab itu, perlu adanya pendekatan humanis dalam menjaga hubungan baik untuk menghindari adanya tindakan kekerasan,” jelasnya.
Sebagai salah satu punggawa Bonek, Nanik pun berpesan kepada para suporter untuk menjaga kondusifitas dan mendukung menciptakan iklim sepak bola yang sehat untuk dapat dinikmati semua kalangan.
“Kan tadi saya katakan, saya dipanggil Doktor Bonek . Kemudian saya bangga menjadi suporter, Bonek. Dan sekarang, saya Profesor Bonek. Saya membawa bonek tahun 2013 ke Korea,” tuturnya.
Dengan nada guraunya, Nanik mengaku sebenarnya ingin menggunakan atribut Bonek saat pengukuhan namun dia mendadak sedih karena dilarang oleh Rektor Nurhasan.
“Saya pakai style ini, saya sebenarnya mau pakai kan syal dari Bonek. Karena saya takut, tapi saya sudah izin sama Pak Cak Hasan tadi. Pak, saya pakai ini ya. Tapi tidak diperkenankan. Saya kan ingin berbeda sendiri,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Izzatun Najibah
Editor: Darmadi Sasongko








