Ratna Indraswari, Sastrawan Asli Malang yang Harum Namanya

  • Bagikan
sastrawan ratna indraswari
Sastrawan Ratna Indraswari memamerkan buku-buku karyanya. (Foto: Wikipedia)

Ratna Indraswari Ibrahim atau yang biasa dikenal dengan Ratna Indraswari merupakan sastrawan berkebangsaan Indonesia asli Malang. Selain dikenal sebagai sastrawan, ia juga dikenal sebagai novelis, cerpenis, penyair, dan budayawan. Perempuan yang lahir tanggal 24 April 1949 ini dibesarkan dalam keluarga Minang di tanah perantauan.  Ia lahir dan besar di Kota Malang.

Sejak masa kanak-kanak, Ratna menderita menyakit rachtis (radang tulang). Penyakit ini menyebabkan kedua kaki dan tangannya tidak berfungsi, bahkan ia harus menggunakan kursi roda untuk menjalani hampir seluruh aktivitas hidupnya. Keterbatasan ini tidak menjadi hambatan Ratna untuk terus melanjutkan pendidikan dan mengembangkan kemampuannya dalam menulis.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Baca Juga: Sepilihan Puisi Muhammad de Putra

Ratna dikenal sebagai pribadi yang tegas. Ia juga tidak segan untuk bersikap tegas atau bahkan marah kepada para tamu dan asistennya, apabila rancangan proyeknya tidak berjalan semestinya. Ia secara nyata bertindak sebagai pemimpin yang benar-benar disegani.

Ratna menulis dengan cara mendiktekan pemikiran atau gagasannya untuk diketik oleh orang lain. Pada proses kreatif menulis, Ratna seringkali memperoleh ide melalui membaca buku, koran, majalah dan lain-lain. Ia juga kadang memperoleh ide melalui dialog dengan masyarakat.

Kisah hidup dari mereka mampu membangkitkan ide dan kreativitasnya dalam menulis. Ratna dikenal sebagai penulis cerpen yang sebagian besar tokoh utamanya adalah perempuan. Hampir seluruh tokoh protagonis dalam cerpen Ratna adalah perempuan. Tokoh-tokoh tersebut merupakan wanita-wanita dari segala kelas. Ia juga banyak mengemukakan sikap, pandangan, serta kejiawaan perempuan.

Beberapa karya Ratna yang pernah diterbitkan di antaranya adalah Pelajaran Mengarang (antologi cerpen, 1992), Gerbong (antologi puisi,1998),  Lakon di Kota Kecil (antologi cerpen, 2001), Lemah Tanjung (novel, 2003), dan Pecinan Kota Malang (novel, 2007)

Ratna Indraswari merupakan sastrawan yang aktif dalam menulis cerpen, novel, maupun puisi, akan tetapi karya terbanyaknya berupa cerpen. Keaktifan dan kesetiaan Ratna dalam berkarya ditandai dengan jumlah karya yang telah dihasilkan selama hidupnya. Ada lebih dari 400 karya yang telah dihasilkan oleh Ratna  atas peran aktifnya dalam dunia sastra, Ratna beberapa kali telah memperoleh beberapa pencapaian dan penghargaan.

Cerpen karyanya sering dimuat di beberapa media massa, seperti Kompas, Surabaya Post, Juara Post, Femina, Basis, dan Horison. Cerpen karyanya juga pernah menjadi juara tiga lomba penulisan cerpen dan cerbung majalah Femina (1996—1997) serta masuk dalam Antologi Cerpen Perempuan ASEAN (1996). Pada tahun 1998, ia mendapat penghargaan dari Mendiknas dalam bidang kesetiaan pada sastra dan artistik. Kemudian tahun 2000, ia juga pernah mendapat penghargaan kesusastraan dari Gubernur Jawa Timur karena dianggap sebagai penggerak sastra.

Selain aktif dalam dunia sastra, Ratna Indraswari juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial khususnya yang berkaitan dengan perempuan. Ia bahkan dikenal sebagai aktivis perempuan. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Yayasan Bhakti Nurani Malang dan Direktur I LSM Entropic Malang. Keaktifan dalam organisasi ini membuat dirinya beberapa kali diundang untuk seminar, pelatihan, dan kegiatan lainnya di dalam maupun luar negeri.

Pada tahun 2001, Ratna membentuk Forum Kajian Ilmiah Pelangi yang berlokasi di Jalan Diponegoro 3A Malang. Forum ini berfungsi sebagai wadah yang menjadi oase dan kantong budaya di tengah masyarakat. Maka dari itu, setiap hari pasti selalu ada masyarkat dari berbagai latar belakang yang berkunjung ke sana untuk berdialog dan bertukar pikiran.

Ratna meninggal di usia 62 tahun pada hari Senin, 28 Maret 2011 tepatnya pukul 09.55 WIB. Ia menghembuskan nafas terakhir di RSU Dr. Syaiful Anwar, Malang. Ia meninggal akibat stoke serta komplikasi penyakit jantung dan paru-paru. Jenazah Ratna dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Samaan, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Tahun ini menjadi tahun kesembilan kepergian Ratna. Meskipun demikian, ia akan terus dikenang sebagai sastrawan sekaligus aktivis yang pantang menyerah. Jasad boleh pergi, namun karyanya akan tetap abadi. Ratna Indraswari namamu akan terus harum dan tidak akan pernah dilupa.

 

Penulis: Sindy Lianawati
Editor: Gigih Mazda

  • Bagikan