News  

Refleksi HUT RI ke-77, Penulis Buku Biografi Pierre Tendean Sebut Ruh Masa Depan adalah Masa Lalu

Ahmad Nowmenta Putra, penulis buku Jejak Sang Ajudan; Sebuah Biografi Pierre Tendean.
Ahmad Nowmenta Putra, penulis buku Jejak Sang Ajudan; Sebuah Biografi Pierre Tendean. (Foto: Dokumen/ Ahmad Nowmenta)

MADIUN, Tugujatim.id – Euforia pasca pandemi Covid-19 membuat refleksi Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-77 yang mengusung tema ‘Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat’ tahun ini terasa berbeda dari tahun sebelumnya. Atribut merah putih, pawai dan gelaran lomba ada di mana-mana. Suasana menjadi lebih meriah, semangat kemerdekaan kembali terasa.

Semangat itu pula yang dirasakan Ahmad Nowmenta Putra, penulis buku Jejak Sang Ajudan; Sebuah Biografi Pierre Tendean. Menurutnya, ruh dari pesan penting yang terpaut dalam momentum HUT RI ke-77 tak hanya sampai di euforia perlombaan saja.

Dia menilai, konklusi peristiwa bersejarah, perjuangan dan nilai-nilai kepahlawanan dalam mengupayakan kemerdekaan oleh para pendahulu justru harus selalu diingatkan. Terutama bagi generasi muda.

Menta, sapaan akrabnya, menyadari bahwa tantangan generasi muda sekarang tak lebih ringan dibanding sebelumnya. Bahkan, lebih berat, dan semakin tidak terduga dengan era digital dan internet yang mengubah banyak hal. Dibutuhkan lompatan-lompatan pemikiran untuk mengantisipasi masa depan.

Berorientasi masa depan tanpa memahami masa lalu hanya akan membuat generasi sekarang kehilangan arah. Itu jadi salah satu alasan Menta getol mencatatkan jejak sejarah. Tak hanya lewat buku, tapi juga fasilitas konten yang ada. Entah via media sosial, maupun channel YouTube yang dimilikinya.

“Zaman memang boleh berubah. Tapi, tidak demikian dengan jati diri kebangsaan,’’ kata pria kelahiran Malang, 5 Maret 1987 itu.

Memahami sejarah adalah kuncinya.

“Di situ pentingnya sejarah. Mempelajari asal usul pendahulu juga dapat membuat kita memiliki rasa kebanggaan dan memperkuat kebangsaan,’’ tambah pecinta sejarah Indonesia ini.

Menurut Menta, motivasi itu harusnya dapat memupuk masyarakat untuk bisa berbuat sama besarnya dengan yang telah diperjuangkan oleh nenek moyang. Tentu dengan kemampuan dan sesuai bidang keahlian masing-masing.

“Mungkin terdengar klise namun hal ini bisa menjadi perenungan dan menurut saya sangat berdampak,” ujar penulis yang juga salah seorang karyawan bank plat merah ini.

Salah satu pesan dari peristiwa bersejarah itu, sambung pemilik channel YouTube Keep History Alive ini di antaranya adalah bagaimana kita dapat melihat konflik dan menyikapi perbedaan.

Di samping itu, menurutnya, sejarah bersifat kontinuitas (dapat terulang kembali) dan hal ini menjadi bekal agar lebih sensitif dan bijak dalam merespon fenomena yang akan terjadi. Melalui channelnya juga, Menta aktif mensyiarkan informasi seputar sejarah bangsa Indonesia.

“Supaya lebih dekat dan nyata saya susun data melalui wawancara dengan saksi sejarah hingga napak tilas ke lokasi kejadian sejarah,” katanya.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim