Replika Barbie, Penghormatan Untuk Profesor Sarah Sang Pengembang Vaksin AstraZeneca

Replika Barbie, Penghormatan Untuk Profesor Sarah Sang Pengembang Vaksin AstraZeneca

  • Bagikan
Profesor Dame Sarah Gilbert, pengembang vaksin AstraZaneca yang kemudian melepas hak paten atas temuannya itu/tugu jatim
Profesor Dame Sarah Gilbert, pengembang vaksin AstraZaneca yang kemudian melepas hak paten atas temuannya itu. (Foto: SS Independent)

INGGRIS, Tugujatim.id – Profesor Dame Sarah Gilbert akhirnya dibuatkan boneka Barbie sebagaimana para artis terkenal lainnya oleh Mattel Inc, salah satu perusahaan mainan terkenal.

Boneka tersebut sebagai bentuk penghargaan pada Profesor Sarah atas dedikasinya mengembangkan vaksin AstraZeneca. Debut boneka tersebut secara resmi dimumkan pada Rabu (4/8/2021).

Profesor vaksinologi universitas Oxford tersebut memang sempat menjadi newsmaker di sejumlah media dunia dan nasional, lantaran dia mau melepas hak paten dari vaksin yang dia kembangkan untuk mengatasi virus korona. Vaksin itu yang dikenal AstraZeneca. Hingga saat ini, vaksin itu telah digunakan oleh lebih dari 170 negara yang tengah berperang melawan virus korona.

Sebelumnya profesor berusia 59 tahun itu juga mendapat kehormatan Queen Elizabeth II’s Birthday Honor, karena pengabdiannya tersebut. Dan, kini beliau menjadi salah satu dari enam orang yang menjadi role model Barbie terbaru dari perusahaan mainan raksasa Mattel Inc.

Boneka replika Profesor Sarah didesain dengan memiliki rambut pirang panjang dan kacamata hitam besar, mengenakan blus putih yang dirangkap jas dan celana panjang warna biru tua.

Dilansir dari Edition.cnn.com, Profesor Sarah mengakui bahwa sejujurnya ia merasa aneh memiliki boneka Barbie di mana dia yang menjadi role modelnya. Namun, ia berharap dengan adanya replika dirinya, anak-anak perempuan dapat menjadi lebih termotivasi untuk belajar dan berkarir di bidang sains.

Sementara itu, lima orang lainnya yang turut menjadi role mode boneka cantik asal Amerika ini adalah perawat UGD, Amy O’Sullivan yang merawat pasien pertama Covid-19 di rumah sakit Wycoff, Brooklyn, New York. Kemudian, Audrey Cruz, dokter yang berada di garis depan untuk memerangi diskriminasi.

Chika Stacy Oriuwa, psikiater Kanada yang memerangi rasisme sistematik dalam perawatan kesehatan. Peneliti biomedis Brazil Jaqueline Goes de Jésus yang memimpin pengurutan genom Covid-19 di Brazil. Kemudian yang terakhir dokter Australia Kirby White yang memelopori gaun bedah yang dapat dicuci dan digunakan kembali oleh para pekerja kesehatan selama pandemi.

  • Bagikan