MOJOKERTO, Tugujatim.id – Sistem zonasi Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional Trowulan, Mojokerto direvisi. Revisi ini muncul berdasarkan beberapa indikator dari Kementerian Kebudayaan.
Indikator tersebut berkaitan dengan temuan baru di Situs Klinterejo dan situs lainnya. Selain itu, Situs Grogol sudah tidak ditemukan lagi temuan sebelumnya yang menjadi lokasi penelitian Pusat Penelitian Arkeologi.
“Lalu adanya kebutuhan pengembangan perekonomian daerah, maka perlu penyesuaian sistem zonasi di Kawasan Trowulan untuk kebutuhan perlindungan cagar budaya serta pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi masyarakat di Kawasan Cagar Budaya Trowulan,” kata Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan RI I Made Dharma Suteja, dalam keterangan resmi, Jumat (31/10/2025).
Baca Juga: Puncak Bangunan Kuno Misterius Masuk Daftar Cagar Budaya Mojokerto
Sementara itu, Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa mengatakan bahwa kawasan Trowulan menjadi kebanggaan bersama karena terdapat jejak peradaban besar Majapahit masa lalu. Trowulan juga menjadi bagian penting identitas bangsa Indonesia.
“Kawasan Trowulan tidak hanya tentang situs arkeologi, tetapi jejak peradaban besar Majapahit sekaligus bagian penting identitas bangsa Indonesia. Nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan budaya dalam kawasan tersebut harus kami jaga, lestarikan, dan wariskan kepada generasi selanjutnya,” urainya.
Trowulan Jadi Pusat Penelitian dan Pendidikan
Selain itu, revisi zonasi ini dipandang menjadi langkah strategis dan partisipatif guna memastikan penataan, pemanfaatan, dan perlindungan kawasan cagar budaya sejalan dengan prinsip pelestarian. Revisi zonasi kawasan cagar budaya ini juga diharapkan selaras dengan kebijakan tata ruang, perkembangan wilayah, serta kebutuhan masyarakat tanpa mengesampingkan nilai sejarah dan budaya.
“Saya berharap proses penyusunan review zonasi ini dapat melibatkan seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, akademisi, masyarakat, dan pelaku budaya. Semangat kolaborasi ini menjadi kunci agar pelindungan cagar budaya tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat Trowulan dan sekitarnya,” tegasnya.
Dia juga mengatakan, ingin Trowulan jadi pusat penelitian dan pendidikan hingga berdampak pada masyarakat.
“Kami ingin Trowulan tidak hanya dikenang, tapi hidup menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan pariwisata sejarah kelas dunia yang membawa dampak positif bagi warga Kabupaten Mojokerto,” tutup Bupati Albarraa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








