Sakit Hati Dicueki, Warga Malang Palu Kepala Istri Sirinya hingga Tewas - Tugujatim.id

Sakit Hati Dicueki, Warga Malang Palu Kepala Istri Sirinya hingga Tewas

  • Bagikan
SL, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang, yang menjadi pelaku pembunuhan istri sirinya saat pers rilis pada Selasa (28/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
SL, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang, yang menjadi pelaku pembunuhan istri sirinya saat pers rilis pada Selasa (28/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Pembunuhan kembali terjadi di Kota Malang. Kali ini pembunuhan terjadi karena SL, 56, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang, tega membunuh istri sirinya karena merasa dicueki dan tak dianggap sebagai suami. Gelap mata, SL secara sadis tega memukul kepala istrinya hingga tewas menggunakan palu.

Tak hanya itu, SL juga membuat skenario seolah-olah korban tewas akibat jatuh dari kamar mandi. Pelaku juga berusaha menghilangkan barang bukti dengan membuang bajunya yang terkena darah korban hingga membersihkan darah di tempat kejadian perkara (TKP).

Insiden itu dilakukan pelaku di kamar mandi rumahnya pada Jumat (17/09/2021). Kemudian ditemukan anak korban pada Sabtu (18/09/2021) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Korban sempat dibawa ke RS, dimandikan, hingga telah dimasukkan ke peti jenazah.

Lantaran merasa ada kejanggalan, anak korban kemudian melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian pada Minggu (19/09/2021). Polresta Malang Kota langsung menindaklanjuti dengan melakukan penyidikan hingga otopsi pada jenazah korban.

Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto menjelaskan, berdasarkan hasil penyidikan otopsi hingga pengumpulan keterangan sejumlah saksi, maka berhasil disimpulkan korban meninggal akibat dibunuh.

“Hasil dan kesimpulan otopsi, kematian korban akibat pukulan benda tumpul di beberapa bagian kepala bagian atas, kanan, kiri, dan belakang. Sehingga ada pendarahan fatal di bagian otak. Itulah yang mengakibatkan korban meninggal dunia,” jelasnya, Selasa (28/09/2021).

Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto saat pers rilis kasus pembunuhan di Kota Malang dan memperlihatkan barang buktinya pada Selasa (28/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Kapolresta Malang Kota AKBP Budi Hermanto saat pers rilis kasus pembunuhan di Kota Malang dan memperlihatkan barang buktinya pada Selasa (28/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Dari seluruh fakta bukti yang dihimpun, akhirnya pelaku tak bisa mengelak lagi bahwa dia telah melakukan pembunuhan berencana kepada istrinya.

“Pelaku mengakui telah melakukan penganiayaan hingga pemukulan kepada korban. Jadi, beberapa kali di bagian kepala bagian belakang dipukul,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Malang Kota Kompol Tinton Yudha Riambodo menambahkan, pelaku memang cukup cerdik dalam menyembunyikan tindakannya.

Usai menghilangkan barang bukti, pelaku keluar rumah dan membeli rokok di dekat rumah hingga menyapa warga yang sedang ronda malam agar seolah-olah tidak ada di TKP saat kejadian.

Hingga akhirnya anak korban pulang dan menemui rumahnya terkunci dari dalam. Diketahui, pelaku telah mengunci pintu rumah dengan menggunakan pipa panjang untuk menggerakkan kunci pintu dari luar rumah.

“Jadi, pelaku menggunakan pipa yang dimasukkan dari celah atas pintu hingga bisa mengunci pintu,” ucapnya.

Lantaran curiga ada yang tidak beres di dalam rumah, anak korban mendobrak pintu. Kemudian korban ditemukan sudah tergeletak tak bernyawa di kamar mandi.

Berdasarkan keterangan pelaku, Tinton menjelaskan, SL tega menghabisi nyawa korban karena sudah sakit hati sejak bertahun-tahun.

“Pelaku merasa sakit hati kepada korban. Selama hidup dengan korban, pelaku merasa tidak dihargai sebagai suami siri dan ada banyak hal lainnya,” ujarnya.

Diketahui, suami istri ini sudah hidup bersama selama 14 tahun. Namun, sejak sekitar 4 tahun terakhir, mereka telah pisah ranjang, tapi masih tinggal serumah. Pelaku juga tidak memiliki pekerjaan sehingga menggantungkan hidup pada korban.

“Puncaknya, korban akan berpindah rumah tapi pelaku tidak diajak. Jadi mau ditinggal, terserah mau ke mana. Itulah puncak dari pada emosinya,” imbuhnya.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 340 Subsider 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau minimal 12 tahun kurungan penjara.

 

  • Bagikan