Sebuah Obituari: Belajar Dari Andry Dewanto Ahmad

Sebuah Obituari: Belajar Dari Andry Dewanto Ahmad

  • Bagikan
Andry Dewanto Ahmad tengah bersama pada kader GP Ansor
Andry Dewanto Ahmad tengah bersama pada kader GP Ansor. (Foto: Dokumen)

Oleh: Musaffa Safril, Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Ansor Jawa Timur

Tugujatim.id – Sebelumnya hanya mengenal kalau mas Andry Dewanto Ahmad, ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur yang juga senior di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang.

Awal tahun 2014, saat Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur (Jatim) dinakhodai sahabat Rudi Tri Wahid, beliau masuk jajaran pengurus sebagai wakil ketua PW Ansor Jatim. Hal ini atas usulan ketua umum GP Ansor kala itu, sahabat Nusron Wahid.

Meskipun pada awalnya beliau sempat bergeming karena menganggap iklim Ansor kurang cocok dengan beliau. Menurutnya saat itu iklim di Ansor terlalu politis dan elitis, kala itu beliau mengaku merasa bukan orang yang tepat untuk jabatan tersebut.

Untuk sosok selevel beliau, saya dan bahkan teman-teman saat itu mengira kalau beliau cuma nampang nama. Hadir kala pelantikan, sedikit aktif di awal periode lalu menghilang dan kembali muncul kala ada perhelatan sebagaimana kebanyakan orang-orang.

Perkiraan saya salah total, beliau aktif dari awal, ikut merumuskan rencana kerja organisasi, mengawal dan bahkan hingga sering tidur di kantor (sekretariat) bersama kami para khodim dan tukang bersih-bersih kantor tanpa ada sekat sosial sedikitpun. Ngopi bareng, makan bareng dan itu dijalani hingga akhir kepengurusan beliau.

Khidmat beliau di Ansor dijalani sungguh-sungguh, bahkan jarang pulang selayaknya aktivis jalanan yang hari-harinya dihabiskan di luar rumah.

Beliau sering bergurau “aku sudah seminggu gak ketemu sama istriku mas”, yang kebetulan saat itu istri beliau mbak Hikmah Bafaqih juga menjabat ketua Pengurus Wilayah (PW) Fatayat Jatim.

Beliau betul-betul memegang sumpah organisasi, bahwa amanah organisasi harus dijalankan sungguh-sungguh.”kita jangan sampai mengecewakan para muassis NU (Nahdlatul Ulama) mas” ucapnya kala itu.

Tidak jarang juga beliau hadir diundangan level Pengurus Anak Cabang (PAC) bahkan Ranting. “Saya tidak punya agenda apa-apa mas, selama saya sempat di manapun kegiatan, siapapun yang ngundang saya pasti datang mas,” ucap beliau dalam sebuah perjalanan dari Nganjuk 2016 lalu.

Sosoknya yang egaliter, sederhana dan rendah hati membuat kami yang unyu-unyu tidak berjarak dengan beliau. Seringkali meminta saya memimpin tahlil kala ada kesempatan ziarah atau sekadar istighosah dadakan yang sering beliau gagas. Padahal saya tau beliau lebih alim dan bisa.

Mas Andrey sosok yang tak pernah lepas zikir, bahkan dalam sebuah perjalanan udara ke pulau Bawean sekirar 2017 lalu, saat saya, Fattahul Anjab, mas Alim (ketua Bawaslu Kota Malang), mas Heri Setiyono asyik berbincang dan ngobrol kanan kiri, beliau sibuk membaca Alquran dan hizib, rotib serta entah bacaan-bacaan ayat toyyibah lainnya.

Di manapun tempat yang beliau kunjungi hal pertama yang ditanyakan adalah para ulama atau makam para aulia dan ulama. Lalu meluangkan waktu untuk ziarah, sehingga tak jarang kami yang mendampingi kadang “keteteran”.

Bahkan sebuah kuburan yang konon adalah makam “aulia” pembabat alas pulau Bawean terletak di puncak gunung pulau tersebut, kami diajaknya kesana. Berjalan menaiki gunung sekitar 5 jam, jatuh bangun karena licin dan medan curam hingga banyak teman-teman jatuh dan muntah-muntah karena kelelahan. Beliau tetap asyik sholawatan sambil memberi semangat kami yang muda-muda.

Beliau juga totalitas dalam kaderisasi dan tidak membatasi khidmat dan keinginan siapapun untuk berproses di Ansor

“Kita berdosa kalau menghambat sahabat-sahabat untuk ikut kaderisasi, biarkan dan dorong mereka untuk ikut Diklatsar (diklat dasar), PKD (Pelatihan Kader Dasar, PKL (Pelatihan Kader Lanjut), dan PKN (Pelatihan Kader Nasional).

“Biarkan seleksi alam yang menentukan siapa di antara mereka yang betul-betul berkhidmat di Ansor nantinya”, ucap beliau dalam sebuah obrolan.

Beliau juga jago dalam mengkonsolidir teman-teman yang berbeda spektrum dan frekuensi pemikiran. Pada September 2017 lalu, saat kasus pembantaian etnis Rohingnya meletus beliau tidak segan-segan menggalang kekuatan para tokoh di Jawa Timur.

Mengumpulkan donasi dan aksi turun ke jalan mengecam tindakan junta militer di Myanmar. Hal yang sebetulnya biasa digarap rekan-rekan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama).

Beliau sosok sederhana yang risih dengan kesan elitis, sekitar tahun 2016 lalu saat peringatan hari santri nasional pertama kali diperingati, saya mendampingi beliau dalam perjalanan kirab HSN (Hari Santri Nasional) dari Banyuwangi hingga Jakarta.

Kirab dengan iring-iringan rombongan atau kafilah besar dengan pengawalan VVIP Mabes Polri. Saya sama beliau naik Robicon saat itu berada di posisi paling depan. Di sepanjang jalan ribuan santri berderet menyambut kami, saat itu beliau berbisik pada saya.

“Apa kira-kira yangg ada dipikiran masyarakat yang melihat kami iring-iringan seperti ini, semoga kegiatan yang begitu mewah ini tidak mencederai perasaan mereka,” tuturnya.

Saya hanya manggut-manggut mendengar bisikan mas Andry.

Beliau juga sosok yg peduli dan pantang “membunuh” harapan dan semangat kadernya dalam situasi dan kondisi apapun beliau. Pernah suatu katika menurut pengakuannya ada salah satu kadernya di Malang yang lolos beasiswa S2 di luar negeri.

Tapi dia tidak punya uang entah buat ngurus perlengkapan administrasi atau apa sehingga datang ke mas Andry dengan alasan pinjam uang (dalam kamus senior-junior, pinjam uang sama dengan “minta” uang).

Saat itu mas Andry sedang tidak punya uang, tapi karena khawatir kadernya kecewa dan putus asa beliau ngaku ada dan janji akan di transfer besok pagi. Padahal beliau cari pinjaman juga pada seseorang untuk diberikan kepada kader tersebut.

Beliau juga sosok yang ngajeni, jarang sekali saya dengar beliau manggil atau nyapa orang dengan sebutan nama sekalipun itu junior level unyu-unyu. Beliau mesti manggilnya mas, sahabat atau sebutan lain yang lebih halus.

Soal silaturrahmi saya juga banyak belajar dari beliau. Suatu ketika selepas ngisi acara di Sumenep dan itu sudah larut malam. Beliau menyempatkan diri mampir ke gubuk saya di Pakamban Sumenep yang pelosok sekali, jauh dari peradaban dan jalan agak susah.

Hal demikian ini beliau juga lakukan pada sahabat-sahabat yangg lain. Nyaris saya tidak pernah melihat ekspresi marah di wajah beliau. Selamat jalan senior, sahabat, guru dan pimpinan yang santun. Semoga surga tempatmu.

  • Bagikan