Sejarah Desa Keling Kediri, Pernah jadi Ibu Kota Kerajaan Majapahit dan Persinggahan Trunojoyo

Sejarah Desa Keling Kediri, Pernah jadi Ibu Kota Kerajaan Majapahit dan Persinggahan Trunojoyo

  • Bagikan
Normalisasi Arung atau lorong bawah tanah yang merupakan bukti peninggalan sejarah di Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.
Normalisasi Arung atau lorong bawah tanah yang merupakan bukti peninggalan sejarah di Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. (Foto: Pipit syahrodin)

KEDIRI, Tugujatim.id – Sejarah peradaban Kediri tidak ada habisnya untuk diterlusuri. Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri adalah salah satu bukti peradaban itu. Desa ini pernah menjadi ibu kota Kerajaan Majapahahit di masa kepemimpinan Girindrawardana, sekitar tahun 1486—1498.

Selain itu, desa ini juga disebut-sebut pernah menjadi persinggahan Trunojoyo, raja dari Bangkalan Madura. Terutama setelah Trunojoyo melawan atas kekuasaan Amangkurat I pada tahun sekitar 1674. Trunojoyo memang ditangkap di kawasan Gunung Kelud setelah Amangkuta II bersekutu dengan VOC.

Eko Priatno, kepala museum dan purbakala Disbudpar Kabupaten Kediri, mengatakan desa di kaki Gunung Kelud tersebut memiliki bukti sejarah yang membuktikannya sebagai tempat yang istimewa. Yaitu pada Prasasti Jiu Negara Kertagama yang mengarah pada kata I – Keling atau Batara Keling berartinya raja terakhir Majapahit. Ia bernama Girindrawardana.

“Girindrawardana adalah Raja yang memindah Ibu kota dari Trowulan menuju ke Daerah Keling di abad akhir sekitar 14 hingga 15,” ungkapnya saat menjadi Pemateri diskusi di Lokasi Wisata Goa Jegles, Sabtu (22/1/2022).

Eko menjelaskan bukti sejarah tersebut menandakan ada perpindahan pusat pemerintahan dari Kerajaan Majapahit yang berada di Trowulan ke daerah Keling. Namun, lokasi yang di maksud itu berada di mana masih perlu penelitian lebih lanjut.

“Sudah banyak sumber yang mengatakan semua itu, namun, di mana tempatnya ya itu yang perlu dicari,” jelasnya.

Sejarah Desa Keling tidak hanya sampai di situ, tapi hingga pada zaman kolonial Belanda. Eko menyebut di desa tersebut juga dijadikan sebagai tempat persinggahan atau persembunyian tokoh besar yang melawan adanya penjajahan.

Trunojoyo abad 16 berhasil mengalahkan raja Kerajaan Mataram, Amangkurat I, yang saat itu bersekutu dengan Belanda. Tapi akhirnya Trunojoyo ditangkap dan dibunuh di sebuah lorong-lorong Lereng Gunung Kelud oleh Amangkurat II yang bersekutu dengan VOC. Dia tidak terima ayahnya, Amangkurat I, dikalahkan. Trunojoyo meninggal di Tegal Anom. Hal tersebut mengarah pada Desa Keling yang memiliki peninggalan berbentuk lorong atau Arung tersebut.

“Kalau kita lihat, daerah di sekitar lerang Gunung Kelud yang memiliki lorong-lorong itu berada di Desa Keling, lorong/arung tersebut adalah peninggalan kerajaan yang merupakan ibu kota,” kata Eko.

Dari data tersebut semakin memperkuat nilai sejarah Desa Keling. Eko mengatakan dari sejarah tersebut dapat di Kembangkan menjadi indentitas desa yang dapat dikenalkan ke masyarakat dan dapat dikembangkan.

“Publik supaya tahu ternyata Desa Keling dulu ibu kota Kerajaan,” pungkasnya.

  • Bagikan