JEMBER, Tugujatim.id – Gunung Gumitir atau yang dalam dialek Jawa disebut gumitèr, merupakan jalur vital penghubung antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.
Gunung setinggi 2.034 mdpl ini terletak di perbatasan dua kabupaten, tepatnya antara Kecamatan Silo (Jember) dan Kecamatan Kalibaru (Banyuwangi).
Rupanya, jalur ini juga memiliki sejarah panjang, dari kisah legenda, masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa modern. Bahkan pada Juli 2025, jalur nasional di kawasan ini sempat ditutup total untuk perbaikan, sebelum akhirnya dibuka kembali lebih cepat dari jadwal, pada 4 September 2025.
Legenda Asal Usul Nama Gunung Gumitir
Dilansir dari p2k.stekom.ac.id, nama Gumitir diyakini berasal dari kisah Damar Wulan. Setelah berhasil membunuh Menak Jinggo, Damar Wulan membawa kepala musuhnya itu. Namun, di perjalanan ia bertemu Layang Seta dan Layang Kumitir, putra kembar Patih Logender. Keduanya menipu Damar Wulan dan merebut kepala Menak Jinggo.
Gunung tempat penipuan itu terjadi kemudian dikenal sebagai Gunung Kumitir atau Gumitir. Kisah ini masih populer di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya, memperkuat citra Gumitir sebagai gunung penuh sejarah dan mitos.
Masa Kolonial Belanda: Kereta Api dan Perkebunan
Pada era kolonial, Belanda melihat potensi strategis Gumitir. Jalur kereta api oleh Staatsspoorwegen dibuka pada 10 September 1902, menghubungkan Jember dan Banyuwangi. Tak hanya itu, pada 13 Agustus 1934, pabrik pengolahan kopi Goenoeng Goemitir resmi beroperasi. Perkebunan kopi robusta di kawasan ini hingga kini masih menjadi salah satu komoditas unggulan.
Selain perkebunan, kawasan ini juga menjadi jalur penting lintas kereta api. Dua terowongan bersejarah, yakni Terowongan Mrawan dan Terowongan Garahan, yang masih aktif hingga sekarang. Stasiun Mrawan dan Stasiun Garahan berfungsi sebagai persilangan kereta, dengan Stasiun Garahan juga melayani penumpang Kereta Api Pandanwangi.
Masa Pendudukan Jepang: Gua Jepang Gumitir
Pada masa pendudukan Jepang, kawasan ini semakin diperkuat sebagai jalur strategis. Serdadu Dai Nippon membangun sebuah gua pertahanan dari beton tebal berukuran 6 x 8 meter. Gua Jepang yang berlokasi sekitar 100 meter dari Watu Gudang itu difungsikan untuk mengawasi jalur kereta api. Hingga kini, gua tersebut masih menjadi saksi sejarah dan daya tarik wisata sejarah.
Hutan, Perkebunan, dan Komoditas
Secara administratif, Gunung Gumitir dikelola oleh Perum Perhutani KPH Banyuwangi Barat dan PT Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII). Dari sisi kehutanan, komoditas utama meliputi jati, pinus, dan mahoni. Sementara PTPN XII mengelola kopi robusta, pohon jarak, dan kayu-kayuan lain. Perpaduan perkebunan dan hutan lindung membuat kawasan Gumitir menjadi salah satu kawasan hijau penting di tapal batas Jember–Banyuwangi.
Jalan Raya Gumitir Sebagai Urat Nadi Transportasi
Selain jalur kereta api, jalan raya Gumitir menjadi penghubung utama Jember–Banyuwangi. Panjangnya sekitar 8 kilometer, dengan medan berkelok-kelok dan menanjak. Puncak tertinggi jalan raya ini dikenal dengan Watu Gudang, dinamai karena terdapat batu raksasa sebesar gudang yang harus dipapas agar jalan bisa dibangun.
Meski penting, jalan raya Gumitir juga terkenal rawan. Tikungan tajam, lereng curam, dan jalan sempit membuat kecelakaan kerap terjadi. Bahkan, warga sekitar sering membantu mengatur lalu lintas di tikungan berbahaya.
Ancaman Longsor yang Tak Pernah Usai
Kondisi geologi Gunung Gumitir termasuk dalam kawasan rawan longsor. Longsor sering menutup akses jalan raya, menyebabkan arus transportasi Jember–Banyuwangi lumpuh. Alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan dan rumah makan juga memperparah kerentanan. Secara keseluruhan, kawasan ini memiliki tingkat kerentanan longsor sedang dengan luas 24,30 hektare di sepanjang jalur.
Penutupan Jalur Gumitir 2025
Sebelumnya, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali menutup total jalur nasional di Km 233+500 atau dikenal sebagai Tikungan Mbah Singo. Penutupan ini dijadwalkan berlangsung dua bulan, 24 Juli hingga 24 September 2025.
Diketahui, pekerjaan preservasi ini mencakup perkuatan lereng dengan bored pile sebanyak 55 titik sepanjang 115 meter, serta perbaikan geometri jalan. Tujuannya, untuk mengurangi risiko longsor dan kecelakaan.
Jalur Dibuka Lebih Cepat
Meski awalnya direncanakan ditutup dua bulan, jalur Gumitir akhirnya dibuka kembali lebih cepat. Mulai Kamis, 4 September 2025 pukul 00.00 WIB, kendaraan sudah bisa melintas. Kepastian ini diambil usai rapat koordinasi antara Polres Jember dan pihak terkait.
Meski jalur sudah dibuka, pengerjaan perbaikan masih berlanjut hingga enam bulan ke depan. Namun, pembukaan lebih awal ini diharapkan bisa mengurangi beban masyarakat yang bergantung pada jalur vital tersebut.
Kini, Gunung Gumitir bukan sekadar jalur transportasi. Ia adalah bagian dari sejarah panjang Tapal Kuda, dari legenda Damar Wulan, kolonial Belanda, hingga perjuangan modern menjaga keamanan jalur vital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








