Tugujatim.id – Maulid Nabi Muhammad SAW, salah satu momen penting bagi umat Islam setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Di tahun ini, Maulid Nabi jatuh pada Jumat (05/09/2025).
Lebih dari sekadar perayaan, Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi ajang refleksi untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, meneladani akhlak mulia beliau, serta memperkuat ikatan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Tidak heran jika tradisi ini terus lestari dan berkembang dari masa ke masa, baik di Timur Tengah maupun di Indonesia.
Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Sejarah peringatan Maulid Nabi memiliki beragam versi yang berkembang di kalangan ulama dan sejarawan.
Melansir dari baznas.go.id, sebagian berpendapat bahwa Maulid Nabi pertama kali diselenggarakan pada masa Dinasti Fatimiyah. Ada pula pandangan yang menyebutkan bahwa perayaan ini dimulai sejak era Salahuddin Al-Ayyubi, pemimpin Muslim yang terkenal karena perannya dalam Perang Salib.
Dalam buku Sejarah Maulid Nabi (2015) karya Ahmad Tsauri, disebutkan bahwa perayaan Maulid Nabi sudah dilakukan sejak tahun kedua Hijriah. Pendapat ini mengacu pada kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa karangan Nuruddin Ali.
Salah satu tokoh yang berperan besar dalam penyebaran tradisi ini adalah Khaizuran binti ‘Atha (170 H/786 M), istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas sekaligus ibu dari Khalifah Musa al-Hadi dan Harun al-Rasyid.
Khaizuran diketahui pernah memerintahkan masyarakat Madinah untuk menggelar perayaan Maulid Nabi di Masjid Nabawi. Tidak hanya itu, dia juga meminta masyarakat Makkah untuk melaksanakan peringatan Maulid di rumah-rumah mereka. Dari sinilah, tradisi Maulid Nabi menyebar dan semakin mengakar di kalangan umat Islam.
Mayoritas ulama bersepakat bahwa Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (570 M). Oleh karena itu, setiap tahun umat Islam memperingati tanggal tersebut sebagai Maulid Nabi.
Makna Spiritual Maulid Nabi Muhammad SAW
Peringatan Maulid Nabi tidak hanya sebagai perayaan semata, namun menjadi sarana edukasi dan dakwah. Melalui kegiatan ini, umat Islam diajak kembali mempelajari perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, meneladani sifat-sifatnya yang mulia, serta menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Maulid Nabi juga mengingatkan umat akan pentingnya rasa syukur. Kelahiran Rasulullah SAW menjadi rahmat terbesar bagi seluruh alam semesta, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa beliau diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Tradisi Maulid Nabi di Indonesia
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki beragam tradisi khas dalam memperingati Maulid Nabi. Setiap daerah menghadirkan ekspresi budaya dan kearifan lokal yang memperkaya makna perayaan ini.
Di kalangan masyarakat Jawa, peringatan Maulid Nabi biasanya dilakukan dengan pembacaan kitab-kitab manakib Nabi, seperti Barzanji, Simthud Durar, Diba’, Syaroful Anam, dan Burdah.
Setelah pembacaan, warga biasanya mengadakan makan bersama hasil gotong royong. Tradisi ini menekankan nilai kebersamaan dan rasa syukur atas hadirnya Rasulullah SAW.
Di keraton-keraton Jawa, perayaan Maulid Nabi dikenal dengan sebutan Grebeg Mulud. Acara ini biasanya diwarnai dengan arak-arakan, pembagian gunungan hasil bumi, serta doa bersama yang melibatkan masyarakat luas.
Sementara itu, di Sulawesi Selatan, Maulid Nabi dirayakan dengan istilah Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Menariknya, perayaan ini justru berlangsung lebih meriah daripada Idulfitri. Warga mengarak replika perahu Pinisi yang dihias kain sarung dan dipamerkan di tepi sungai. Setelah itu, perahu diarak keliling desa diiringi musik tradisional Gandra Bulo yang menambah semarak suasana.
Maulid Nabi di Dunia: Beragam Tradisi Muslim Global
Selain di Indonesia, Maulid Nabi juga diperingati di berbagai negara Muslim dengan cara yang berbeda-beda.
Seperti Mesir, ada tradisi yang menarik bernama “Pawai Tarekat”. Dalam Pawai Tarekat, para imam dan pengikut tarekat dengan pakaian khas masing-masing menyusuri jalan-jalan. Di Mesir juga ada makanan khas bernama “permen maulid” atau Arouset El-Moulid, yang hamya ada saat momen tertentu saja. Permen ini nampak seperti permen gula yang bentuknya menyerupai sosok sultan di atas kuda dan dihiasi pistachio, kacang almond, dan gula.
Di Pakistan, perayaan Maulid Nabi digelar sangat meriah. Warga Muslim mengibarkan bendera nasional di seluruh bangunan publik, fasilitas pemerintah maupun non-pemerintah, serta masjid. Rumah-rumah dihiasi lampu warna-warni yang gemerlap pada malam hari. Selain itu, pemerintah juga menggelar Konferensi Seerat di tingkat federal dan provinsi sebagai wadah kajian tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, di Turki, Maulid Nabi dirayakan di masjid-masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan. Khususnya di malam Maulid, para umat Muslim bersama-sama melaksanakan shalat dan membaca Al-Qur’an. Kegiatan ini tidak hanya di rumah tapi juga di masjid. Bahkan Maulid juga ditetapkan sebagai hari libur nasional seperti di Indonesia
Jika di Maroko, peringatan Maulid Nabi lebih banyak diwarnai dengan pembacaan doa, puisi, serta kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW. Menurut Morocco World News, momen ini juga menjadi kesempatan penting bagi keluarga untuk berkumpul. Selain itu, terdapat hidangan khas bernama Asida, makanan tradisional berbahan dasar tepung, mentega, dan madu, yang selalu hadir dalam perayaan Maulid.
Tradisi yang berbeda di setiap negara tersebut menunjukkan bagaimana Maulid Nabi menjadi warisan universal umat Islam, namun tetap dipadukan dengan kearifan lokal masing-masing.
Pada akhirnya, Maulid Nabi SAW mengingatkan umat Islam untuk selalu menjadikan Rasulullah sebagai teladan hidup. Akhlak mulia, kepemimpinan, serta kasih sayang beliau menjadi pedoman abadi bagi setiap muslim di manapun berada.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








