JEMBER, Tugujatim.id – Mendengar kata “kentongan”, pasti identik dengan alat musik tradisional yang digunakan saat patrol atau rondaan. Hampir di berbagai daerah di Indonesia tidak asing dengan alat musik yang satu ini.
Di Kabupaten Jember, kentongan memiliki perjalanan sejarah yang cukup unik. Tidak terbatas sebagai alat patrol, kentongan memiliki hubungan dengan budaya masyarakat Jember, khususnya terkait mata pencarian.
Akademisi Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Jember (Unej) Guruh Prasetyo menjelaskan konteks sejarah kentongan di Kabupaten Jember dapat dikaitkan dengan berbagai konteks. Mulai dari pembukaan lahan tembakau yang menempatkan penduduknya sebagai masyarakat agraris.
Baca Juga: Angka Kriminal di Kota Mojokerto Menurun selama 2024: Tertinggi Kasus Penipuan
“Kemudian masyarakat agraris ini mempunyai kegemaran, salah satunya Getakan Doro. Jadi Getakan Doro ini yang kemudian nanti memunculkan seni musik kentongan,” ujar Guruh Prasetyo saat ditemui Tugujatim.id beberapa waktu lalu.
Ketikan kentongan digunakan sebagai alat patrol yang berfungsi untuk membangunkan atau memberi tanda bahwa kepada masyarakat, berbeda dengan masa lalu kentongan di Jember.
“Kentongan ini bukan ditujukan kepada manusia, tapi ditujukan pada merpati, ini sesuatu hal yang unik dan ini berbeda konteks dengan patrol,” jelasnya.
Guruh Prasetyo melanjutkan, masyarakat Jember yang gemar Getakan Doro pada saat itu melepaskan merpatinya untuk terbang dan memanggilnya kembali dengan membunyikan kentongan. Keberhasilan seorang master merpati, dapat dilihat ketika membunyikan kentongan dan berhasil menggaet merpati lawan untuk hinggap di tempatnya.
Baca Juga: Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Tuban Turun, Kasus Tabrak Lari Justru Naik Signifikan pada 2024
“Merpati milik lawan ini nanti akan disembelih, kemudian ada konotasi bahwa penyembelihan tersebut seperti ngece (mengejek lawan, Red), ini lho merpatimu saya gaet, saya ambil, lalu kemudian saya sembelih, lalu kemudian diiringi dengan musik kentongan seperti itu, secara instrumen penuh,” papar Guruh Prasetyo.
Dirinya juga menjelaskan terkait perubahan budaya kontemporer, fungsi kentongan di masa awal pembukaan Jember sekitar Abad ke-20 digunakan sebagai media pemanggil merpati.
“Namun, pasca 1965 ketika ada peristiwa G30 SPKI, itu kemudian ada perubahan fungsi. Jadi kentongan bukan lagi media yang digunakan untuk memanggil merpati, tapi digunakan sebagai media untuk patroli dan ini yang berkembang sampai sekarang,” pungkas Guruh Prasetyo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








