Semangat Ciptakan Pemimpin Masa Depan, Lead The Fest 2021 Hadirkan Para Aktivis Pendidikan - Tugujatim.id

Semangat Ciptakan Pemimpin Masa Depan, Lead The Fest 2021 Hadirkan Para Aktivis Pendidikan

  • Bagikan
Lead the Feast hari ke-3 3 sesi kedua yang hadirkan Widya Priyahita (Staf Khusus Kementerian Sekretariat Negara RI), Amanda Witdarmono (Chief of Teachers Initiative Zenius), dan Ivan Ahda (Ketua Jejaring Semua Murid Semua Guru). (Foto: Dokumen) tugu jatim
Lead the Fest hari ke-3 yang juga hadirkan Staf Khusus Kementerian Sekretariat Negara RI, Widya Priyahita; Chief of Teachers Initiative Zenius, Amanda Witdarmono; dan Ketua Jejaring Semua Murid Semua Guru, Ivan Ahda. (Foto: Dokumen)

BOGOR, Tugujatim.id – Semangat menggelorakan serta demi terciptanya para pemimpin masa depan, gelaran acara Lead The Fest 2021 terus berlanjut. Pada hari ke-3 di sesi kedua, Sabtu (14/8/2021) kemarin, acara yang digelar oleh Pemimpin.id ini mengupas terkati pentingnya peran pendidikan dalam akeselerasi kepemimpinan.

Pada kesempatan tersebut, hadir aktivis para penggerak di bidang pendidikan. Beberapa di antaranya yakni, Staf Khusus Kementerian Sekretariat Negara RI, Widya Priyahita; Chief of Teachers Initiative Zenius, Amanda Witdarmono; dan Ketua Jejaring Semua Murid Semua Guru, Ivan Ahda.

Pendidikan tentunya menjadi pokok yang penting perannya dalam akselerasi kepemimpinan. Kondisi Indonesia saat ini pastinya sangat berdampak terhadap pendidikan, di mana guru dan murid tidak dapat berinteraksi secara langsung dalam proses belajar.

“Saat ini dunia sedang mengalami tri destruction,” terang Widya Priyahita, seorang Staf Khusus Kementerian Sekretariat Negara RI dalam acara yang digelar melalui Zoom, Sabtu (14/8/2021) tersebut.

Ia membeberkan bahwa kehancuran pertama yakni karena disebabkan oleh teknologi dan bisnis. Dimana teknologi dan bisnis yang berubah dengan radikal itu terjadi di segala bidang termasuk pendidikan. Kedua, disebabkan oleh pandemi, yang menyebabkan segala sesuatu harus berjalan secara virtual dan harus menyesuaikan diri dengan cepat. Sedang yang ketiga, ia menyatakan bahwa kehancuran tersebut disebabkan oleh dominasi milenial, karakter khas yang dibawa oleh milenial mulai dari cara berpikir itu sangat berpengaruh terhadap pekerjaan yang lainnya.

“Ketiga destruction tersebut berpengaruh juga pada bidang pendidikan. Dalam pendidikan yang dipengaruhi oleh destruction tersebut tentunya merubah tujuan, metode yang digunakan, materi dan segala sesuatunya harus berubah. Jika tidak diubah segala sesuatunya tidak akan berjalan dengan relevan,” beber Widya.

Tak hanya itu, ia menuturkan bahwa kampus merupakan tempatnya pemuda atau calon pemimpin untuk belajar. Adanya program kampus merdeka adalah program pemerintah untuk menjadi akses kebebasan mahasiswa untuk belajar.

Skill belajar itu ada tiga aspek. Pertama how to learn, how to doubt, dan how to unlearn. Sekolah itu tempat belajar untuk berlatih cara belajar, contohnya belajar untuk menghadapi kesulitan. Skill kedua adalah adaptasi, penyesuaian diri terhadap keadaan menjadi hal yang bekal yang penting untuk masa depan. Selain itu kita juga perlu belajar how to unlearn di mana kita harus bisa merefleksikan diri dengan hal yang lebih relevan,” imbuh Widya Priyahita.

Sementara itu, Ketua Jejaring Semua Murid Semua Guru, Ivan Ahda menambahkan bahwa pendidikan saat ini terlalu bergantu pada sekolah. Dan hal tersebut menjadi catatan kala terjadi pandemi seperti sekarang.

“Kita masih terlalu bergantung pada sekolah, saat sekolah tidak berfungsi maka semuanya gagal. Pandemi sudah mengubah landscape pendidikan, karena dengan situasi yang terjadi saat ini tidak akan membuat semua berjalan normal. Apapun keadaannya konteks pendidikan adalah memerdekakan,” terang Ivan Ahda.

Ia juga menegaskan bahwa pembelajaran sebenarnya tak hanya bisa diakases melalui sekolah. Melainkan tempat lain seperti komunitas juga bisa membuat ajang belajar yang nyaman baik untuk siswa maupun mahasiswa.

“Proses pendidikan adalah salah satu investasi dalam belajar kepemimpinan. Guru-guru yang memiliki kepemimpinan baik berkorelasi positif dengan kepemimpinan di masa depan. Komunitas memiliki peran sebagai penguat pendidikan. Tiga peran utama komunitas dalam akselerasi kepemimpinan adalah komunitas bisa menjadi wadah untuk pemuda mengakselerasi kepemimpinan. Kedua komunitas menjadi ruang diskusi nyaman untuk pemuda lebih mudah mengakses pemelajaran terkait kepemimpinan. Ketiga komunitas memiliki peran advokasi terkait kebijakan dan fasilitas untuk mereka yang tidak dapat mengakses melalui teknologo,” tutup Ivan.

Sementara itu, Chief of Teachers Initiative Zenius, Amanda Witdarmono menyatakan bahwa akselerasi kepemimpinan membutuhkan peran pendidikan dalam menciptakan pemimpin di masa depan. Di mana, Peran guru menjadi salah satu faktor penting dalam hal ini.

“Akselerasi kepemimpinan bukan menjadi prioritas utama saat ini. Hal penting yang harus dipikirkan adalah proses belajar harus berjalan dengan baik. Namun saya menarik akselerasi kepemimpinan ini dalam kemandirian belajar. Pemelajaran melalui sistem daring ini menjadi tantangan tersendiri bagi bagi siswa untuk memahami materi yang telah diperoleh. Dalam hal ini guru harus lebih kreatif untuk menciptakan suasana kemandirian belajar bagi siswanya. Kemandirian belajar akan membentuk mereka untuk memiliki kepribadian sebagai seorang pemimpin,” ujar Amanda Witdarmono.

 

 

  • Bagikan