Seniman Kota Malang Kritik Kondisi Pasar Bareng yang Suram Lewat 'Lukisan Cahaya' - Tugujatim.id

Seniman Kota Malang Kritik Kondisi Pasar Bareng yang Suram Lewat ‘Lukisan Cahaya’

  • Bagikan
Minimnya perhatian dinas terkait dalam mengelola pasar tradisional mendapat respon para seniman. Mereka mewarnai kesuraman itu dengan seni media video art. (Foto:M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Minimnya perhatian pemerintah dalam pengelolaan pasar tradisional dikritik para seniman di Kota Malang dengan cara unik. Hal itulah yang terlihat di Pasar Rakyat Bareng, Kota Malang, Jumat (24/9/2021) malam itu. Mendadak, para seniman ini menampilkan beragam ‘lukisan cahaya’ di lorong-lorong bangunan Pasar Bareng.

Lukisan cahaya yang dimaksud adalah sebuah karya seni video art, sebuah paradigma seni media baru. Ada 5 karya yang diproyeksikan saat itu mulai video mapping, visual interaktif, motion graphic hingga Sound Art. Malam itu, tembok-tembok Pasar Bareng seolah jadi studio animasi.

Suasana itu tersaji di Baraka Cafe, kedai kopi yang ada di Pasar Tradisional Bareng. Pameran seni berkonsep happening art itu dalam rangka helatan Surprise Surprise Volume 1 hasil kolaborasi Baraka Cafe, Film Rahayu dan BPH Seni Media Baru Dewan Kesenian Malang (DKM).

'Lukisan cahaya' di Pasar Bareng Kota Malang. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)
‘Lukisan cahaya’ di Pasar Bareng Kota Malang. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Koordinator pameran Surprise Surprise Vol 1, Alfian Roesman menuturkan pameran ini bersifat spontan sebagai bentuk respon pegiat seni terhadap ketidakbecusan pihak terkait mengelola pasar tradisional. Padahal, pasar tradisional adalah simbol ekonomi kerakyatan yang mampu memulihkan ekonomi Indonesia di masa pandemi Covid-19.

Seperti terjadi di Pasar Bareng. Kata Alfian, nyaris selama 2 bulan ini para pengguna bedak merasa geram atas minimnya fasilitas yang diberikan. Mulai dari fasilitas penerangan, ketersediaan air bersih, dan sanitasi bahkan dugaan pencurian bola lampu.

Selama ini, para penggerak utama Pasar Bareng yang kini didominasi kalangan milenial yang membangun unit-unit usaha kreatif dan kedai kopi ini mengeluhkan ketidakbecusan pengelola pasar.

”Sejak awal usaha disini memang tidak diberi fasilitas penerangan. Jadi beli lampu sendiri, tapi lama-kelamaan, bola lampu yang dipasang sering hilang sejak 2 bulan ini. Kalau gak ada lampu ya gelap gulita,” kata dia kepada Tugu Malang ID.

Tak hanya soal penerangan, fasilitas bersama seperti kamar mandi juga buruk. Belum lagi, pipa air yang tidak berfungsi optimal, bahkan tidak berfungsi sama sekali.

”Padahal, Pasar Rakyat Bareng diresmikan sebagai destinasi wisata di kota Malang. Tapi kalau ngeliat perhatiannya kan gak ada sama sekali,” kata pria yang juga personil visual artist di Monohero ini.

Dari sejumlah permasalahan inilah, 5 pegiat seni Kota Malang secara spontan menggelar pameran dadakan ini. Ada 5 pegiat seni media baru yang unjuk cahaya “menerangi” kegelapan lorong Pasar Rakyat Bareng dengan instalasi seni cahaya.

Seperti Alfian, yang membuat karya seni Video Mapping berjudul Sinergi. Alfian menyuguhkan objek-objek mikro yang tersegregasi. Kata dia, objek-objek tersebut justru adalah penggerak utama ekonomi Pasar Bareng.

Selain itu, ada juga karya visual interaktif oleh Rizky berjudul Kunang-Kunang. Karya ini menggunakan sensor kinect xbox untuk menggerakan videonya. Jika anda bergerak ke kanan, maka kunang-kunang itu juga akan bergerak ke kanan. Begitu juga sebaliknya.

Lalu, ada Nino, lewat video mapping yang berjudul Kota Kertas, memilih menyuarakan kegeramannya lewat proyeksi montase video visual berupa objek-objek berkaitan dengan administrasi pemerintahan.

”Melalui visual itu kita bisa merasakan kegeraman Nino atas regime administrasi yang melampaui substansi. Kebenaran yang disandarkan kepada “kebenaran administratif”,” kata pria yang akrab disapa Kebeb ini.

Ada juga Digi yang merayakan keberagaman lewat video mapping dan audio reaktifnya berjudul The Dark Side. Dan yang unik, lahir dari tangan Muzeian yang mengombinasikan sensor light dengan bunyi-bunyian.

Jadi, karya Muzeian yang berjudul ‘Singup’ itu akan secara otomatis mengeluarkan suara ketika sensor yang dia pasang diterangi cahaya. Saat anda menyinari sensor itu, maka anda akan mendengar sayup lagu Cita-Citaku, lagu anak-anak yang diremix bernuansa suram.

Menurut Muzeian, kata-kata “motivasi” sudah usang dan menyebabkan euforia berlebihan dan justru menempatkan orang-orang yang dianggap “pesimis” tak layak hidup. Ia menyebutnya dengan istilah demotivasi.

”Karena saat ini saya sedang tidak tertarik pada narasi besar tentang kemajuan, tetapi lebih pada bagaimana menikmati kesementaraan dan kesekarangan. Singup, suram, seperti Pasar Bareng ini,” jelas Ian.

Selain audio, Ian juga menampilkan pesan dalam proyektornya. Tulisannya ”Pasar Ini Singup. Layaknya Masa Depanku yang Mboh-Mbohan”. Artinya, Pasar Ini Suram, Layaknya Masa Depanku yang juga Tak Jelas.

Dari sejumlah respon artistik ini, Alfian berharap muncul perhatian dari pihak berwenang untuk ambil peran menghidupi pasar rakyat ini. Selain itu, dengan cara ini juga diharapkan muncul potensi baru para seniman di Kota Malang yang peka terhadap dunia sekitarnya.

”Bagaimana Pasar Rakyat Bareng memiliki potensi untuk menjadi pilar dari peradaban yang arif dan juga perekonomian yang berbudaya dan kreatif bagi beragam generasi di kota Malang,” pungkasnya.

  • Bagikan