JEMBER, Tugujatim.id – Suara bor listrik berhenti sejenak. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pembangunan, sosok mungil berhelm putih tampak sibuk mengecek tablet di tangannya. Kartika Rahmawati, perempuan berusia 24 tahun sedang memverifikasi perhitungan material untuk proyek ambisius yang tengah dikerjakannya.
Bukan pekerjaan baru melihat perempuan menjadi pemimpin perhitungan teknis di suatu proyek konstruksi. Terlebih lagi ketika yang dipertaruhkan adalah pembangunan Sekolah Rakyat di Jember dengan deadline yang sangat ketat. Kurang dari dua bulan untuk menyelesaikan konstruksi dan renovasi.
Alumni Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil UGM ini mengemban amanah sebagai quantity surveyor, profesi yang menuntut ketelitian ekstrem dalam menghitung setiap detail biaya dan volume pekerjaan. Sebuah kesalahan kecil dalam perhitungannya bisa berakibat fatal bagi keseluruhan proyek.
BACA JUGA: Isak Tangis Hari Pertama Sekolah Rakyat Tuban
“Pressure-nya memang luar biasa, sekolah ini harus beroperasi akhir Juli, sementara waktu eksekusi pembangunan sangat terbatas” akui Kartika saat ditemui beberapa waktu lalu.
Ia mengakui, peran yang diembannya saat ini sangat menantang. Bagaimana tidak dunia konstruksi Indonesia masih didominasi kaum pria. Namun, alih-alih merasa terintimidasi, Kartika justru memanfaatkan perbedaan perspektifnya sebagai kekuatan.
Pengalaman dua tahun di dunia konstruksi telah mengajarkannya bahwa keberhasilan sebuah proyek tidak melulu soal kekuatan fisik, melainkan precision dalam perencanaan dan komunikasi yang efektif dengan seluruh stakeholder, dari mandor hingga supplier material.
BACA JUGA: Kenal Febriana Dwipuji Kusuma, Pebulutangkis Asal Jember Pemilik Segudang Prestasi Membanggakan
Hari-hari Kartika dimulai sejak subuh, berkeliling lokasi proyek untuk memastikan setiap tahap konstruksi berjalan sesuai blueprint. Sorenya, ia kembali berkutat dengan angka-angka untuk memastikan anggaran tetap terkendali tanpa mengorbankan standar kualitas.
Orang-orang banyak yang mengira kalau quality surveyor kerjanya duduk di belakang meja dan menghitung. Padahal kami harus turun langsung ke lapangan, memahami setiap aspek teknis, dan membangun relationship dengan tim eksekusi,” jelasnya.
Ketika matahari mulai tenggelam dan para pekerja mulai membereskan peralatan, Kartika masih bertahan di lokasi. Bukan karena terpaksa, melainkan karena ia memahami betul bahwa setiap hari yang terlewat adalah waktu berharga menuju target penyelesaian proyek.
BACA JUGA: Annisa Srikandi Terminal, dari Guru Jadi Kondektur Bus Surabaya-Jember Demi Masa Depan Anak
Dedikasi ini bukan tanpa hasil. Proyek Sekolah Rakyat Jember yang dipimpinnya menunjukkan progres yang konsisten, dengan tingkat efisiensi anggaran yang mencapai target optimal.
“Industri konstruksi membutuhkan keberagaman. Perempuan membawa perspektif detail dan pendekatan komunikatif yang kadang terlewatkan dalam manajemen proyek tradisional,” refleksi Kartika.
Bagi Kartika, kehadirannya di sektor konstruksi bukan sekadar breaking the glass ceiling, tetapi membuktikan bahwa profesionalisme tidak mengenal gender. Dengan helm putih yang selalu ia kenakan, ia terus menginspirasi generasi perempuan muda lainnya untuk berani memasuki wilayah yang selama ini dianggap eksklusif bagi kaum pria.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








