MOJOKERTO, Tugujatim.id – Ekskavasi Candi Brahu Mojokerto sudah berjalan satu pekan atau seminggu. Terkini, struktur bata merah yang diduga menjadi pagar depan candi peninggalan masa Majapahit mulai terlihat meski masih cukup samar.
Pantauan di lokasi, pekerja di lapangan melakukan penggalian secara hati-hati. Proses ekskavasi ini menggunakan alat-alat manual seperti cangkul serta sekop. Hal ini dilakukan guna mencegah kerusakan struktur temuan saat proses penggalian berlangsung.
“Intinya kami merunut penggalian ini ke arah timur di tanah yang sudah dibebaskan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim. Dari penggalian ini kami sudah mendapati struktur pagar meskipun baru satu lapis,” kata Muhammad Ichwan, Peneliti sekaligus Arkeolog BPK Wilayah XI Jatim, Selasa (20/05/2025).
Ichwan melanjutkan bahwa dari hasil existing, temuan struktur pagar keliling ini membujur ke arah timur. Namun, baru satu lapis saja yang ditemukan sebab banyaknya struktur yang mengalami kerusakan. “Tapi masih memanjang ke arah timur,” imbuhnya.

Masih dari hasil existing, batu bata yang menjadi struktur pagar keliling ini mempunyai kemiripan dengan bata pada Candi Brahu. Bata yang dimaksud mempunyai dimensi panjang sekira 30 centimeter dengan tebal 8 centimeter.
“Penggalian ini cukup dangkal, sekira 50 centimeter sudah ketemu strukturnya. Kalau dari permukaan jalan, kami belum mengetahui secara pasti,” tandas Ichwan.
Candi Brahu Dibahas Raffles di History of Java
Sebagai informasi, dari laman BPK XI Jawa Timur menulis keberadaan Candi Brahu dicatat pada 1815 oleh Wardenaar, saat mendapat tugas dari Gubernur Raffles untuk melakukan pencatatan peninggalan arkeologi di daerah Mojokerto. Hasil kerja Wardenaar ini lantas dicantumkan oleh Raffles dalam buku History of Java terbitan tahun 1817 silam.
Tak hanya itu, Candi Brahu ini diduga merupakan candi tertua yang berada di wilayah Trowulan. Dugaan ini berangkat dari prasasti Alasantan yang ditemukan tak jauh dari Candi Brahu. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 861 Saka atau 939 Masehi. Sementata isi prasasti tersebut menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu Waharu atau Warahu. Nama tersebut diduga sebagai asal nama Candi Brahu sekarang.
BACA JUGA: Resmi Dimulai, Ekskavasi Candi Brahu Mojokerto Butuh 2 Pekan
Candi Brahu terdiri dari sebuah bangunan dengan denah persegi dengan ukuran sekira 20,7 meter x 20,7 meter. Bangunan candi ini terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Kaki Candi Brahu tampak polos tanpa hiasan. Sementara tubuh candi memiliki ukuran 10,5 meter x 10 meter dengan tinggi 9,6 meter dan mempunyai banyak penampil pada dinding.
Candi Brahu juga mempunyai bilik yang bagian dalam atasnya berbentuk piramida. Lalu, terdapat pula bagian bilik berukuran 4 meter x 4 meter menghadap ke barat sehingga penampil lebih menjorok daripada sisi-sisi lainnya. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda silam.
BACA JUGA: Pemkab Mojokerto Tempuh Skema Sewa Lahan Ekskavasi Candi Brahu
Masih dari laman BPK XI, hasil Analisa menunjukkan pertanggaan radio carbon arang pada Candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410 hingga 1646. Candi Brahu memiliki anak tangga yang terletak pada sisi barat yang digunakan sebagai akses menuju selasar candi.
Sementara antara selasar dengan bilik tidak terdapat akses tangga naik. Atap Candi Brahu memiliki ukuran tinggi sekira 6 meter. Lalu, pada bagian timur laut memperlihatkan menara sudut dengan denah lingkaran berbentuk menyerupai bagian stupa. Selain itu juga ditemukan sebuah struktur bata kuno yang berada pada barat daya Candi Brahu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Darmadi Sasongko








