Sering Alami “Slek” sama Teman atau Sahabat? Coba Cara Ini untuk Mengatasinya! - Tugujatim.id

Sering Alami “Slek” sama Teman atau Sahabat? Coba Cara Ini untuk Mengatasinya!

  • Bagikan
Ilustrasi mengalami "slek" sama teman. (Foto: Alik Ramadani/Tugu Jatim)
Ilustrasi mengalami "slek" sama teman. (Foto: Alik Ramadani)

Tugujatim.id – Setiap orang itu pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda ya guys! Nah, tak bisa dipungkiri jika hal itu akan menimbulkan slek atau perdebatan, apalagi kalau bareng teman, sahabat, maupun keluarga. Jadi, apakah Anda sering terlibat slek bersama mereka? Jadi, gimana dong cara mengatasinya?

Ya, teman dekat atau orang yang kerap disapa sahabat merupakan orang yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk saling bertukar pikiran. Misalnya meminta solusi, saran, bahkan hal-hal lain yang dalam tanda kutip hanya sahabat Anda yang tahu.

Kadang Anda tidak tahu apakah pendapat yang diberikan dapat memberikan solusi, malah bikin kesal, bahkan melukai hati mereka. Karena itu, Anda perlu memahami lebih dulu dan memikirkan baik-baik terkait apa yang kita ucapkan kepada orang lain.

Cara memahami dulu baru dipahami adalah salah satu langkah agar Anda tidak salah dalam berbicara. Perilaku ini didasarkan pada prinsip bahwa diagnosis harus dilakukan sebelum memberi solusi. Karena pada dasarnya pemahaman diperoleh dengan cara mendengarkan.

Karena itu, akan ada hubungan timbal balik yang membuat teman lebih peduli juga pada kita, yang pada akhirnya membuka jalan menuju hubungan persahabatan yang saling menguntungkan (win-win solution). Memahami dulu baru dipahami adalah perilaku pendengar yang efektif. Perilaku ini membutuhkan keahlian, baik keinginan maupun keterampilan. Tujuannya agar kita bisa mendengar secara efektif menjadi kunci dari komunikasi. Salah satu kuncinya yaitu memahami seutuhnya maksud yang disampaikan pembicara kepada si pendengar.

Kebanyakan orang mendengarkan dengan maksud untuk langsung menjawab dan berusaha ingin dimengerti oleh orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya orang biasanya lebih senang dalam berbicara dibanding mendengarkan. Mereka selalu berusaha menanggapi pembicaraan orang lain berdasarkan paradigmanya sendiri. Memahami terlebih dulu dengan empati membutuhkan kemampuan untuk memahami orang lain dengan tulus dengan cara mendengarkannya dengan mata, hati, dan telinga, serta menyelaminya dari lawan bicara. Hal ini bukan berarti Anda selalu menyetujui pendapat mereka. Hanya saja, Anda berusaha untuk menghargai pendapat orang lain.

 

*Penulis adalah member dari Pondok Inspirasi (Pondasi)

  • Bagikan