Siapkan Wisata Virtual, Peneliti UB Digitalisasi 6 Aset Bangunan Cagar Budaya di Malang

  • Bagikan
Balai Kota Malang menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang didigitalisasi. (Foto: Ulul Azmy)

MALANG – Tim peneliti Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (UB) menyusun arsip data digital aset 6 bangunan cagar budaya di Kota Malang. Di antaranya adalah Alun-Alun Tugu Malang, Balai Kota Malang, Gereja Ijen, Gereja Kayu Tangan, Gedung PLN dan SMAK Frateran.

Perekaman data aset digital ini dilakukan dalam rangka pengembangan aplikasi Heritage Building Information Modeling di Kota Malang. Berbeda dengan metode konvensional, perekaman menggunakan teknologi kamera 3D Laser Scanner bekerjasama dengan PT Leica Geosystems Indonesia.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Tipe kamera yang digunakan dalam perekaman ini yakni Leica RDC 360, alat rekonstruksi data digital termutakhir yang menggabungkan antara perekaman image sekaligus perekaman 3D Point Cloud.

”Ini menjadi revolusi dalam rekontruksi otomatis digital yang mengungguli sistem perekaman data secara manual. Seperti pengukuran dengan digital laser meter atau perekaman secara manual biasa,” terang Ketua Peneliti sekaligus Ketua Jurusan Arsitektur FT UB, Hery Santosa, Kamis (6/8) kemarin.

Manfaatnya, jika nanti sewaktu-waktu bangunan hancur, masih ada arsip data digital dengan tingkat akurasi dan validitas yang tinggi sebagai upaya memelihara bentuk asli bangunan peninggalan bersejarah tersebut.

Hery menerangkan, gambar dengan ketepatan data ukur berpengaruh terhadap presisi bangunan juga terhadap koordinat bumi. Dalam ilmu konstruksi bangunan nantinya membantu akurasi ketepatan perhitungan volume bangunan dan lain sebagainya.

”Jika sudah dilakukan perekaman digital dengan 3D Laser Scanner, maka saat kita ingin membangun kembali, bangunannya bisa sama persis dengan aslinya,” terangnya.

Lebih lanjut, jika proses digitalisasi ini berhasil maka bisa diaplikasikan terhadap keseluruhan bangunan heritage yang ada di Kota Malang. Sehingga dari dinas terkait bisa memanfaatkan hasilnya untuk dikembangkan menjadi wisata Virtual Reality misalnya.

”Arahnya nanti (bisa) kesana. Bisa diakses publik masyarakat luas,” ungkapnya.

Sebab itu, untuk mewujudkan konsep wisata virtual ini perlu dipadukan dengan sistem georeference. Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya (UB) Adipandang Yudono mengatakan, perlunya georeferencing penting dalam menentukan koordinat tiap sudut bangunan dengan titik koordinat bumi.

”Jadi bangunan ini pinya koordinat bumi sehingga nanti jadi kayak kembarannya kota, tapi dalam bentuk virtual,” jelasnya.

Sementara untuk detailnya, proses digitalisasi yang sedang dilakukan itu berada di level lima. Sehingga bentuk bangunan bisa terekam secara detail, mulai dari lekukan arsitektur juga hingga eksterior, dan interiornya.

 

Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Gigih Mazda

  • Bagikan