Silaturahmi Bareng Abdul Rohim, Seniman Patung Malang yang Berkarya hingga 37 Tahun

  • Bagikan
Silaturahmi bareng Abdul Rohim, seniman patung saat berada di galeri sederhananya di Kota Malang. (Foto: Sholeh/Tugu Jatim)
Silaturahmi bareng Abdul Rohim, seniman patung saat berada di galeri sederhananya di Kota Malang. (Foto: Sholeh/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Masifnya penyebaran wabah Covid-19 di wilayah Malang Raya membuat semua pihak waswas tertular dan menyebarkan virus. Tapi, sejurus kemudian terlintas dalam pikiran saya bagaimana ya kehidupan para seniman untuk bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19 ini? Karena itu, saya akhirnya memutuskan untuk silaturahmi ke salah satu seniman di Kota Malang bernama Abdul Rohim.

Sampailah saya di galeri sederhana milik Abdul Rohim, 69, seniman patung yang biasa menjajakan karyanya di Jalan Tlogomas, Kota Malang. Saat berbincang dengan Rohim, saya merasa pandemi ini mungkin begitu sulit untuknya. Sebab, karya patung manusia, semar, singa, angsa, bangau, hingga garuda yang berjejer di galeri sederhananya tampak sepi pembeli.

Meski raganya tak lagi muda, semangat dalam mengekspresikan imajinasinya terus ada. Rohim mengaku telah terjun di dunia kerajinan patung sejak 1984 atau sekitar 37 tahun silam.

Bagi Rohim, dunia seni tidak bisa dijadikan pekerjaan. Karena itu, apa yang dia kerjakan saat ini dianggap sebagai pelipur sepi saja. Menurut Rohim, membuat patung itu memiliki ketenangan batin.

Memang dia bercerita jika tak banyak penghasilan yang didapat dari penjualan patung buatannya. Dia pun mengaku, hanya bisa menjual 2 patung bangau saja dalam sebulan itu sudah bagus.

Ternyata pemikiran saya soal pandemi ini berdampak pada kehidupan seorang seniman ternyata salah. Masa sulit di tengah pandemi sama sekali tak membuat Rohim kaget. Lantaran Rohim sudah sering kali merasakan kondisi seperti ini sebelumnya. Dia sudah biasa dengan kondisi kurang sejahtera dan serba kekurangan.

“Lalu apa yang harus dikhawatirkan. Rezeki itu sudah ada yang ngatur. Jadi, laku gak laku ya disyukuri saja, yang penting masih diberi kesehatan,” ujar Rohim tampak melebarkan senyumnya.

Abdul Rohim terus membuat karya di tengah pandemi Covid-19. (Foto: Sholeh/Tugu Jatim)
Abdul Rohim terus membuat karya di tengah pandemi Covid-19. (Foto: Sholeh/Tugu Jatim)

Dia menceritakan, dengan membuat patung, kehidupan yang makmur dan serba dimudahkan pernah dirasakan. Dia menyebut pada era kepemimpinan Presiden Soeharto, patung karyanya pernah terjual hingga ke Australia, Jerman, hingga Prancis.

Dalam sekali kirim, dia bisa mengirim 1-2 kontainer. Namun tak hanya berisi karyanya, tapi juga karya kawan-kawan seperjuangannya diajak untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri kala itu.

Rohim pun mengungkapkan, kemudahan-kemudahan usaha yang dia jalankan merupakan hasil dari hal yang sepele, yaitu silaturahmi. Dia mengaku sejak usia muda sudah terbiasa menjalin silaturahmi dengan semua orang.

Rohim mengaku selalu menunjukkan sikap baik dan berusaha tetap menjalin hubungan baik kepada semua orang tanpa memandang suku, agama, budaya, maupun jabatan, bahkan kepada orang yang baru dia kenal.

“Dari hubungan baik dengan seorang teman, saya juga pernah diminta mantan Gubernur Jatim Mohammad Noer untuk membuat taman hias dan patung di rumahnya,” ungkapnya.

Namun, masa keemasannya tak terus menyertai perjalanan hidupnya. Di usianya yang sudah sepuh, kini Rohim memilih untuk hidup apa adanya.

Meski tak selalu mendapat penghasilan, Rohim selalu berusaha tidak merepotkan anak-anaknya. Untuk itu, dia selalu berusaha menjalin silaturahmi dengan seniman lainnya dan menjalin hubungan baik dengan pelanggan barunya.

Namun, dia mengatakan, tak banyak pelanggan yang kembali membeli patung buatannya. Bukan karena kualitas yang rendah, tapi permintaan pembuatan patung memang merosot tajam di tengah pandemi ini.

Apalagi kebijakan pemerintah terkait penanganan Covid-19 yang terus berubah-ubah belum juga menunjukkan titik terang kapan pandemi berakhir. Mulai dari PSBB, PPKM, PPKM Mikro, dan kini PPKM Darurat yang mulai digencarkan.

Kebijakan gas rem yang diterapkan pemerintah pada penanganan pandemi juga sama sekali tak menunjukkan hasil baik. Dengan dalih pemulihan ekonomi, jaminan kesehatan dan keselamatan masyarakat harus digas rem.

“Semoga pandemi segera berlalu. Pertandingan sepak bola Euro 2020 saja sudah berjalan, masak kita gini-gini aja,” ucapnya.

Tapi, dari silaturahmi bersama salah satu seniman patung di Kota Malang ini, membuat hati saya bergetar. Dari seorang seniman ini saya belajar, ternyata di balik kesusahan pasti ada kemudahan asal kita pandai bersyukur. Sebenarnya kuncinya yaitu satu, rajin untuk silaturahmi.

Untuk itu, saya akan terus mengingatnya dan akan melanjutkan perjalanan silaturahmi saya kepada semua orang. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kondisi perekonomian kembali pulih. Termasuk kondisi usaha dari seorang seniman patung Abdul Rohim.

 

  • Bagikan