SURABAYA, Tugujatim.id – Masalah kemiskinan dan pengangguran memang tidak bisa lepas dari sentuhan polemik kota-kota besar seperti Surabaya. Berbagai upaya dilakukan berbagai pihak yang mencoba memberikan solusi nyatanya belum memberikan hasil yang maksimal.
Wakil DPRD Surabaya Reni Astusi menjelaskan, titik penting yang menjadi perhatian lembaga legislatif dan pemerintah kota adalah memberikan solusi terkait persoalan kemiskinan dan pengangguran.
“Penanganan kemiskinan dan pengangguran satu hal yang sangat penting. Berbagai upaya harus dilakukan oleh pemkot dengan memaksimalkan semua potensi yang dimiliki. Bagaimana kerja sama di dalam dunia swasta agar memberikan kesempatan kerja untuk warga Surabaya,” katanya.
Selain bernegosiasi dengan pihak swata untuk memberikan ruang, Pemkot Surabaya juga harus mengoptimalkan aset-aset yang mangkrak agar bisa termanfaatkan untuk warga.
Namun, tak sekadar memanfaatkan. Pemkot Surabaya juga harus memahami mekanisme atau prosedur fungsi lahan.
“Hanya saja memang pemanfaatan itu harus ada mekanismenya. Artinya, kalau misalnya ada aset-aset yang kosong, tiba-tiba dipakai begitu saja, itu secara prosedur tidak dibenarkan,” ujarnya.
Reni menjelaskan, salah satu gagasan yang dibentuk oleh Pemkot Surabaya dalam menyelesaikan masalah kemiskinan dan pengangguran melalui padat karya cukup memberikan solusi.
“Maka di sini pemkot harus men-creat, kemudian menyiapkan seperti rumah padat karya yang saat ini sudah dibangun pemkot dan dipastikan betul berdampak secara ekonomi dan dipastikan bisa mengentaskan persoalan pengangguran yang ada di sekitar situ,” jelasnya.
Sebagai informasi, program gagasan Pemkot Surabaya dengan menarik warga Surabaya untuk mengikuti pelatihan dan memilih sektor pekerjaan yang disediakan seperti kafé, sentra menjahit, laundry, cuci kendaraan, perbaikan rutilahu (rumah tidak layak huni), budi daya pertanian dan peternakan, rumah maggot, hingga pembuatan paving.
Berjalan setahun, Reni menuturkan, rumah padat karya belum berjalan secara optimal sehingga banyak yang menjadi PR untuk pemkot, terutama kepastian pekerjaan dan pendapatan bagi warga atau pekerja.
“Rumah padat karya ini sudah berjalan selama setahun ini. Kami mendorong agar dievaluasi, capaiannya sejauh mana. Dan saya lihat memang masih perlu dioptimalkan lagi. Kalau misalkan kami melihat pada indikator keberhasilan berapa orang yang mendapatkan pekerjaan atau naik secara ekonomi pendapatannya melalui rumah pada karya saya kira ada tapi belum begitu banyak dan nilainya belum signifikan,” ujar politikus Fraksi PKS tersebut.
Writer: Izzatun Najibah
Editor: Dwi Lindawati








