Sosok Sunan Bonang yang Miliki Tiga Makam dan Berdakwah dengan Budaya

Sosok Sunan Bonang yang Miliki Tiga Makam dan Berdakwah dengan Budaya

  • Bagikan
Gapura sebelum masuk ke kompleks makam Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan/Kabupaten Tuban
Gapura sebelum masuk ke kompleks makam Sunan Bonang di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan/Kabupaten Tuban. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)

TUBAN, Tugujatim.id – Raden Makhdum Ibrahim atau lebih dikenal Sunan Bonang merupakan putra keempat Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dengan ibu Nyi Ageng Manila. Sang ibu merupakan putri Adipati Arya Teja atau Syekh Abdurrahman, yaitu bupati muslim pertama di Tuban. Sunan Bonang lahir sekitar tahun 1465 masehi di Surabaya.

Sejak kecil, dia belajar agama pada ayahandanya. Dikenal memiliki kecerdasan dan keuletan dalam menuntut ilmu. Hal itulah yang membuatnya menguasai banyak hal, mulai dari ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, hingga bela diri seperti pencak silat.

“Belajar kesusasteraan dalam hal ini seni yang didapatkan di kadipaten Tuban,” ujar sekretaris Yayasan Mabarot Sunan Bonang, Hidayaturohman, saat diwawancarai Selasa (5/4/2022).

Berdakwah dengan Gamelan hingga Wayang

Waliyullah ini dikenal dengan sikap toleransinya kepada masyarakat Hindu-Budha kala itu. Apalagi saat berdakwah, dia tidak pernah memaksa masyarakat untuk memeluk agama Islam. Cucu dari Syekh Ibrahim Asmaraqandi tersebut dalam menyebarkan ajaran Islam menggunakan cara yang banyak disukai masyarakat. Misalnya melalui gamelan, wayang, dan kesusasteraan lainnya.

Bahkan, juga menciptakan alat musik tradisional yang berbentuk mirip gong. Hanya saja ukurannya kecil yaitu seukuran piring yang disebut bonang. Dari sinilah awalnya putra Sunan Ampel ini lebih dikenal dengan panggilan Sunan Bonang.

“Dengan teloransinya, keberadaan beliau mudah diterima orang dari kalangan abangan waktu itu, dan mempermudah Sunan Bonang menyebarkan agama Islam,” tambah pria yang akrab disapa Gus Dayat ini.

Miliki Tiga Makam

Sunan Bonang wafat di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sekitar tahun 1525 masehi. Menurut cerita, muridnya ingin memakamkan jasad gurunya di Madura. Namun, saat perjalanan menggunakan jalur laut melewati pantai utara Tuban perahu yang digunankan membawa jasad sang wali berputar-putar mengitari kawasan pantai Tuban.

Tak lama kemudian, ada salah satu santrinya yang ditemui secara gaib oleh sang wali. Lewat keanehan tadi, sang guru memberikan pesan kepadanya bahwa dia ingin dikuburkan di tanah Tuban bersama leluhurnya tepatnya di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, sebelah barat Masjid Agung Tuban.

Kompleks makam Sunan Bonang ramai didatangi peziarah.
Kompleks makam Sunan Bonang ramai didatangi peziarah. (Foto: Rochim/Tugu Jatim)

“Untuk mengobati keinginan para santri yang ingin menguburkannya di Madura. Akhirnya, kain kafannya dibawa ke Madura. Sedangkan jasadnya di makamkan di Tuban. Jadi ada tiga makam. Pertama di Lasem, Tuban dan Madura. Ketiganya juga ramai diziarahi para peziarah,” terangnya.

Dengan begitu besar kontribusi sang wali dalam perkembangan Islam di Nusantara. Tak heran bila dijadikan pemipin para wali Jawa. Karena memiliki kebijaksanaan yang luar biasa. Bahkan dalam pendirian kerajaan Islam di Jawa yakni Demak, Sunan Bonang menjadi salah satu penasehat kerajaan.

“Cara berdakwah dengan mengedepakan toleransi ini dilanjutkan oleh muridnya sekaligus sepupunya yakni Raden Said atau lebih dikenal Sunan Kalijaga,” ungkapnya.

Karya Seni Sunan Bonang

Selain gamelan bonang, jiwa seni sang wali juga melahirkan banyak karya lain, seperti tembang atau lagu tombo ati. Lagu ini sempat dipopulerkan oleh penyanyi Indonesia Opik. Isi dalam setiap liriknya sangat kaya mengandung ajaran nilai ke-Islaman.

Tak hanya itu, Sunan Bonang ternyata juga memiliki sebuah mahakarya sastra yang berjudul Suluk Wujil. Karya sastra ini diakui sebagai salah satu karya sastra terbesar yang ada di Indonesia.

Dalam karya sastra ini terdapat banyak pesan tentang kehidupan antar manusia. Kehidupan budaya yang ada di Jawa serta Indonesia dan pastinya kehidupan beragama.

Suluk Wujil dibuat sekitar abad ke-15 hingga 16. Uniknya, sastra ini berupa tembang atau lirik lagu. Awalnya Suluk Wujil disimpan di Universitas Leiden, Belanda, tapi setelah Indonesia merdeka naskahnya dipindahkan ke museum nasional yang kini bernama Perpustakaan Nasional Jakarta.

“Banyak itu di Leiden, Belanda, ada manuskrip kuno karya Mbah Bonang yang ditulisnya di daun lontar. Seperti Suluk Wijil, Primbon Bonang dan masih banyak lagi yang lainnya,” pungkas Gus Dayat.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan