TUBAN, Tugujatim.id – Fenomena sound horeg mini di Dusun Dolok, Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Tuban, semakin menarik perhatian. Dalam setahun terakhir, tren ini bukan sekadar mainan anak-anak, tapi berkembang menjadi hiburan keluarga yang terorganisasi lewat sebuah komunitas.
Komunitas yang diberi nama Sound Truck Miniatur Dolok ini terbentuk sekitar enam bulan lalu. Mereka rutin menggelar pertemuan dan parade setiap malam Minggu.
Baca Juga: Sound Horeg di Jember Masih Diperbolehkan, Ini Catatan DPRD
“Kalau nggak ada job, kami biasanya kumpul bareng di kampung sendiri dan keliling sebentar,” ujar Ketua Komunitas Sound Truck Miniatur Dolok Ahmad Kholid Daman Huri, Kamis (31/07/2025).
Namun, belakangan mereka justru kerap menerima undangan tampil di berbagai desa, terutama untuk memeriahkan hajatan kecil seperti ulang tahun.

“Sekarang hampir tiap malam Minggu ada yang manggil. Bahkan, Agustus ini kami diundang tampil di karnaval miniatur di Desa Sumberagung, Plumpang,” tambahnya.
Pria yang akrab disapa Amak ini menjelaskan, tarif jasa komunitasnya cukup terjangkau. Untuk wilayah Kecamatan Plumpang, tarifnya sekitar Rp1 juta yang sebagian besar dipakai untuk biaya transportasi dan kebutuhan komunitas.
“Sisanya masuk ke kas komunitas, jadi bukan untuk keuntungan pribadi,” terangnya.

Meski tengah ramai sorotan soal fatwa haram MUI terhadap sound horeg, Amak menegaskan komunitasnya berbeda. Mereka sepakat membatasi ukuran subwoofer maksimal 10 inci agar tetap sesuai konsep miniatur.
“Dari awal saya sudah putuskan maksimal 10 inci single. Kalau lebih dari itu, sudah bisa disebut sound system besar, bukan miniatur lagi,” jelasnya.
Soal fatwa MUI, Amak menyatakan pandangan berbeda. Dia sedikit menyanyangkan. Sebab jika difatwakan haram, maka semua jenis bentuk sound horeg akan terkena hukum sama. Seperti halnya hewan najis babi.
“Kalau fatwa bilang haram, seharusnya semua sama, besar kecil ya haram. Sama seperti babi, kecil atau besar tetap haram. Tapi menurut kami, miniatur ini jelas beda, suaranya jauh lebih pelan,” ujarnya.

Bagi warga Dusun Dolok, sound horeg mini ini bukan sekadar hiburan malam Minggu. Parade miniatur yang rutin digelar menjadi cara baru mempererat kebersamaan warga.
“Kami tetap menjaga aturan. Musiknya nggak bising, tanpa penari, dan suasananya lebih kekeluargaan,” kata Amak.
Di tengah polemik larangan sound horeg besar, kreativitas warga Tuban ini jadi contoh bahwa hiburan tetap bisa meriah tanpa menimbulkan masalah. Apalagi, kehadiran komunitas ini justru membuat kampung lebih hidup dan kompak setiap akhir pekan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








