STB Gratis Diantarkan ke Rumah Warga Miskin, Tanpa Harus Mengantre

STB Gratis Diantarkan ke Rumah Warga Miskin, Tanpa Harus Mengantre

  • Bagikan
Dr Rosarita Niken Widiastuti (kiri), ketua tim komunikasi publik ASO Kemenkominfo dan Apni Jaya Putra (kanan).
Dr Rosarita Niken Widiastuti (kiri), ketua tim komunikasi publik ASO Kemenkominfo dan Apni Jaya Putra (kanan). (Foto: Tangkap layar)

Tugujatim.id – Penghentian siaran TV analog atau Analog Switch Off (ASO) sudah mendekati tahap dua pada 25 Agustus 2022 mendatang. Tahap satu pada 30 April 2022 lalu berjalan mulus meski diawali dari 4 wilayah siaran di 8 kabupaten/kota.

Ekosistem penyiaran digital terus digenjot oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Salah satunya penyediaan Set Top Box (STB), alat penangkap sinyal digital bagi TV yang masih analog.

Pemerintah bersama penyelenggara mux berkomitmen untuk menyediakan STB gratis bagi keluarga miskin yang memiliki TV analog. Ada sebanyak 5,3 juta unit STB gratis yang akan didistribusikan bagi keluarga miskin. Sejauh ini telah didistribusikan sebanyak 134 ribu STB berdasarkan laporan Kemkominfo pada 5 Juni 2022.

Menurut Dr Rosarita Niken Widiastuti, ketua tim komunikasi publik ASO Kemenkominfo, di Indonesia ada sebanyak 6,7 juta warga miskin yang layak menerima STB gratis. Namun dari jumlah ini tidak semua akan menerima STB.

“Penerima STB ini adalah keluarga yang benar-benar memerlukan STB, yaitu punya TV analog. Warga miskin yang tidak punya TV ya tidak menerima STB, atau warga miskin yang punya parabola juga tidak menerima STB,” kata Niken dalam acara podcast bersama Apni Jaya Putra yang tayang di channel Siaran Digital Indonesia pada Senin (20/6/2022).

Niken mengatakan STB gratis tersebut akan diserahkan secara langsung oleh penyedia dalam hal ini pemerintah dan penyelenggara mux pada keluarga miskin melalui pengiriman pos. Jadi nantinya, warga tidak perlu repot-repot mengantre untuk mendapatkan STB gratis.

Saat ini, pihaknya sedang melakukan verifikasi lapangan untuk pendistribusian STB gratis bagi warga miskin. Verifikasi ini berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang dikeluarkan oleh kementerian sosial.

“Varifikasi ini untuk memastikan. Jangan sampai datanya untuk rumah tangga miskin ternyata penerimanya sudah tidak miskin lagi, atau penerimanya tidak punya TV,” kata alumni Fisipol UGM tersebut.

Adapun STB gratis sebanyak 5,3 juta unit, menurutnya, disediakan oleh pemerintah bersama penyelenggara mux, di antaranya: Indosiar sebanyak 1.213.750, MetroTV sebanyak 704.378, RCTI sebanyak 1.143.121, TransTV sebanyak 616.511, RTV sebanyak 500.000, TVOne sebanyak 149.587, NTV sebanyak 3.000, dan Kominfo 1.000.000.

Mengapa TV Digital?

Mengapa harus beralih ke TV digital bukankah TV analog masih normal? Pertanyaan ini menurut Niken yang paling sering dilontarkan oleh banyak orang. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa harus beralih ke TV digital. Pertama, sebagai keniscayaan perkembangan teknologi.

“Teknologi ini kan terus berkembang, dulu pake TV hitam putih berubah ke TV warna, sekarang juga begitu dari TV analog ke TV digital,” kata dia.

Kedua, tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas siaran TV digital jauh lebih baik dari TV analog. Dari kualitas gambar, kualitas suara, dan banyaknya variasi channel yang bisa dipilih.

“Banyak teman-teman di daerah yang sudah menggunakan TV digital, yang dulunya hanya menonton 6 channel, kini mendapatkan lebih dari 20 channel,” katanya.

Ketiga, efisiensi frekuensi dan peningkatan kecepatan internet. Pada poin ini menurut Niken bukan berarti TV digital yang mempercepat internet melainkan dengan beralih ke TV digital ada sisa frekuensi yang bisa dialihkan ke boradband atau telekomunikasi.

“Sisa frekuensi ini bisa digunakan untuk teknologi 5G yang sangat cepat. Kemaren ada pilot project 5G di Mandalika. Kata teman-teman kecepatannya 200 kali lebih cepat saat ngirim data,” katanya.

Niken juga memerinci, bahwa saat ini di Indonesia ada sebanyak 698 stasiun TV. Masing-masing televisi ini jika masih analog akan menggunakan satu frekuensi, maka berarti butuh frekuensi sebanyak stasiun tersebut.

Tetapi apabila menggunakan TV digital, maka satu frekuensi tersebut bisa digunakan oleh 6 hingga 12  stasiun televisi. Maka berarti jika beralih ke TV digital ada banyak sisa frekuensi.

“Sisa frekuensi inilah yang akan digunakan untuk internet. Sehingga nanti layanan internet akan semakin cepat,” kata dia.

Satu hal penting lainnya dari Analog Switch Off (ASO) ini adalah membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas terutama di bidang digital. Karena internet sudah lancar tidak buffering, maka ekonomi digital akan berkembang. Para konten kretaor bisa memanfaatkan keadaan ini.

“Ekonomi digital akan hidup, mebuat televisi tidak perlu memiliki pemancar sendiri bisa dengan sewa dan harganya lebih murah,” katanya.

#ASO #analogswitchoff #TVdigital #siarandigitalindonesia #ASO2022

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan