Stok Vaksin PMK Tersisa 89.100 Dosis, Akibat Peternak Sapi di Kabupaten Pasuruan Tolak Vaksinasi - Tugujatim.id

Stok Vaksin PMK Tersisa 89.100 Dosis, Akibat Peternak Sapi di Kabupaten Pasuruan Tolak Vaksinasi

  • Bagikan
Vaksin PMK. (Foto: Dinas Peternakan dan Kesehatan Pangan Kabupaten Pasuruan/Tugu Jatim)
Ilustrasi upaya vaksinasi sapi di Kabupaten Pasuruan. (Foto: Dinas Peternakan dan Kesehatan Pangan Kabupaten Pasuruan)

PASURUAN, Tugujatim.id – Masih banyaknya peternak yang menolak sapinya disuntik vaksin berdampak pada melimpahnya sisa stok vaksin PMK di Kabupaten Pasuruan. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan Diana Lukita Rahayu menjelaskan, pihaknya mendapat 100 ribu dosis vaksin PMK.

Dia melanjutkan, selama dua pekan terakhir pihaknya baru menyuntikkan vaksin PMK kurang lebih pada 15.654 ekor sapi per Sabtu (02/07/2022).

“Sisa stoknya masih banyak mencapai sekitar 89.100 dosis vaksin,” ujar Diana pada Minggu (03/07/2022).

Dia menyayangkan sikap dari sebagian besar peternak sapi potong yang menolak ternaknya disuntik vaksin PMK. Lantaran, pemerintah telah menyediakan ratusan ribu dosis vaksin yang dibagikan secara gratis kepada para peternak demi mencegah penularan PMK. Namun, para peternak justru khawatir dan waswas sapinya akan sakit, mati, dan tak laku dijual setelah disuntik vaksin.

Baca Juga:

Peternak di Pasuruan Tolak Vaksin PMK, Waswas Sapinya Mati dan Tak Laku Dijual

Karena itu, pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan akan menggandeng seluruh elemen masyarakat untuk terus-menerus melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya vaksin kepada peternak.

“Kami tak akan menyerah untuk meyakinkan para peternak terkait pentingnya vaksin sebagai upaya menahan penyebaran PMK,” ungkapnya.

Sementara itu, Tamam, 45, seorang pedagang sapi di Pasar Hewan Grati, mengungkapkan kekhawatiran para peternak salah satunya diakibatkan kurangnya informasi yang benar terkait vaksin PMK. Dia mengatakan, para peternak yang masih awam dengan apa itu vaksin PMK, sebagian besar curiga apabila kandungan kimianya justru berdampak buruk pada kesehatan ternak sapi.

“Ya, kan namanya orang ndeso (desa), orang awam, bawaannya curiga tok. Mereka gak tahu info, takut vaksin malah bikin sakit. Padahal kan sebenarnya vaksin itu bagus,” ujarnya.

Menurut dia, sebagian besar peternak masih memilih cara tradisional dengan jamu dan ramuan herbal untuk mengobati sapi-sapinya yang sakit.

“Peternak yakin kalau lebih aman pakai kunyit dan kunir buat jamu sapi-sapi yang sakit,” ujarnya.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan