Suhu Udara di Malang Tembus 17 Derajat Celcius, BMKG Sebut Fenomena Mbediding

  • Bagikan
Ilustrasi cuaca langit cerah (clear sky) dilihat dari Kota Malang selama fenomena mbediding. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Ilustrasi cuaca langit cerah (clear sky) dilihat dari Kota Malang selama fenomena mbediding. (Foto: M Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Belakangan ini, suhu udara di Malang terasa lebih dingin dibanding hari-hari biasanya. Namun sebenarnya, kondisi serupa juga terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur.

Pada Rabu (7/7/2021) kemarin bahkan diketahui suhu terendahnya mencapai angka 17 derajat celcius. Di sejumlah masyarakat menghubungkan kondisi ini dengan fenomena aphelion. Tapi benar demikian?

Ternyata, ini adalah fenomena alami yang wajar terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau pada Juli hingga September. Orang Malang punya istilah sendiri menamai ini dengan istilah ‘mbediding’.

Hal senada dikatakan Kepala BMKG Stasiun Geofisika Karangkates Malang, Ma’muri bahwa di periode musim kemarau, terjadi pergerakan angin dari benua Australia yang bersifat dingin dan kering menuju benua Asia.

Pergerakan angin ini juga disebut monsoon dingin Australia. ”Ditambah, saat ini cuaca cenderung cerah dengan pertumbuhan awan sedikit, dimana awan memiliki fungsi seperti selimut bagi atmosfer,” jelasnya.

Dalam kondisi cuaca cerah (clear sky) artinya seolah tidak ada penghalang. Sehingga panas pada bumi langsung naik ke lapisan paling atas atmosfer. Hal inilah yang membuat suhu di bawah atmosfer menjadi dingin.

Ma’muri menambahkan fenomena ini tidak hanya terjadi di Malang saja, namun juga hampir di seluruh wilayah Jawa, Bali, NTT dan NTB. Suhu dingin ini biasanya terjadi mulai saat dini hari hingga matahari terbit. ”Prediksinya fenomena ini terjadi hingga bulan Agustus 2021,” pungkasnya.

Terkait fenomena aphelion sendiri memang punya dampak pada suhu udara saat malam, dimana posisi matahari memang berada pada titik jarak terjauh dari bumi (aphelion). Tapi, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan.

“Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia,” kata dia.

  • Bagikan