JEMBER, Tugujatim.id – Sunaria, 60, pengusaha terasi di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jatim, telah menggeluti usaha pembuatan terasi selama kurang lebih 10 tahun. Meski berlokasi di kawasan pesisir pantai yang dikenal dengan hasil lautnya, pengusaha terasi Puger itu kini menghadapi kendala serius, kelangkaan udang rebon lokal.
Sunaria menjelaskan proses pembuatan terasi dimulai dari udang basah (rebon) yang dijemur selama satu hari.
“Udang basah yang kecil-kecil dijemur dulu, terus digiling. Habis giling dijemur lagi, baru digiling lagi,” ujarnya sembari memegang bahan baku terasi di kedua tangannya.
Baca Juga: 40 Tahun Napia di Jantung Perdagangan Ikan Puger Jember: Melawan Pasang Surut Ekonomi dan Cuaca
Proses penggilingan dilakukan dua kali. Setelah penggilingan kedua, terasi ditumbuk secara manual untuk menghasilkan tekstur yang lebih baik.
“Kalau pakai mesin terus, hasilnya kurang bagus, cepat kering. Jadi tahap akhir saya tumbuk manual,” jelasnya saat ditemui Tugujatim.id beberapa waktu lalu.
Dengan cuaca yang mendukung, proses pembuatan terasi membutuhkan waktu sekitar 3 hari hingga siap dijual. Terasi dijual dalam kemasan kotak seberat 1 kilogram dengan harga Rp60.000 per kilogram.
Dalam satu kali produksi, pengusaha terasi Puger ini membutuhkan 1,5 ton udang basah yang akan menghasilkan sekitar 450 kilogram terasi jadi.
“Kalau 1 ton udang basah, jadinya sekitar 300 kilogram terasi,” paparnya.
Pemasaran produknya dilakukan melalui tengkulak yang kemudian mendistribusikan hingga ke berbagai daerah seperti Kalimantan dan Papua.
“Saya jual di sini saja, sudah ada yang ambil. Ada tengkulak dari Tanggul dan daerah lain,” katanya.
Kendala Peroleh Udang Rebon yang Langka
Kendala terbesar yang dihadapi Sunaria adalah kelangkaan udang rebon dari Puger. Menurut dia, udang Puger sudah sekitar 7 tahun tidak ada. Kendala itu mengharuskan dia membeli bahan baku terasi dari beberapa daerah.
“Jadi sekarang saya pakai udang dari Tuban dan Gresik,” ungkapnya dengan nada menyesal.
Dia mengakui ada perbedaan kualitas yang signifikan antara udang Puger dengan udang dari daerah lain. Dia menilai, udang Puger lebih bagus, rasanya lebih manis dan gurih. Kendati demikian, bahan yang membuat cita rasa terasi lebih sedap itu harus menghadapi kelangkaan.
Meski bahan baku utamanya kini berasal dari luar daerah, Sunaria tetap memproduksi terasinya di Puger dan tidak berani mengklaim produknya sebagai terasi udang Puger asli demi menjaga kejujuran pada konsumen.
Meski langka, dia mengaku tidak pernah berhenti total dari usaha terasinya sejak memulai 10 tahun lalu. Profesi ini dia tekuni secara konsisten meski menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait kelangkaan bahan baku lokal yang menjadi ciri khas terasi Puger.
Keberadaan pengusaha seperti Sunaria menjadi bukti kegigihan pelaku UMKM lokal yang terus bertahan di tengah keterbatasan, sambil tetap menjaga kualitas dan kejujuran dalam berbisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








