Surat untuk Almarhumah Novia Widyasari - Tugujatim.id

Surat untuk Almarhumah Novia Widyasari

  • Bagikan
Novia. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Makam Novia Widyasari. (Foto: Dokumen)

Oleh: Bagus Rochadi, Paralegal LBH Apik Kota Batu

Tugujatim.id – Aku tak mengenalmu Novia Widyasari, tapi kisahmu telah menggaung di telinga penduduk negeri ini. Hari ini, karena kehendak Tuhanlah aku bisa berziarah pada pusaramu. Semua bunga akan layu dan mengering, tapi tidak dengan perjuanganmu. Izinkan aku menempatkan sekuntum bunga, dan mengalunkan doa-doa. Mungkin benar yang dikatakan Gie, hal terbaik adalah kita tak pernah dilahirkan sama sekali.

Tak apa apabila banyak yang mengecam akhir pilihan hidupmu. Tapi, bagaimana mereka semua akan memahami  beban yang engkau pikul dalam pincang duniamu, sedangkan penghujat sama sekali tak merasakan sedikit pun atas apa yang engkau alami. Aku pun meyakini, ada jutaan doa terlantun untuk kedamaianmu. Kepergianmu sekali lagi menyadarkan betapa buasnya zaman dan betapa minimnya kepedulian manusia. Ada ribuan yang berteriak, akan tetapi hanya segelintir yang ikhlas bertindak.

Kepercayaan yang susah payah engkau bangun kembali pada manusia, diporakporandakan begitu saja. Binatang saja tak akan pernah sekeji itu. Iblis di usir dari surga hanya karena tidak mau bersujud kepada Adam, sedangkan lelaki itu begitu tega mengkoyak-koyak kehormatanmu. Bahkan, si biadab itu memaksa menggugurkan janinmu. Akan tetapi engkau memilih mempertahankan calon bayi yang juga berhak atas kehidupan di dunia ini. Kamu luar biasa Nov, tak banyak perempuan yang memiliki prinsip hidup sepertimu. Aku meyakini setiap perempuan tidak akan memilih aborsi apabila si lelaki bertanggung jawab.

Novia. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Bagus Rochadi, Paralegal LBH Apik Kota Batu. (Foto: Dokumen)

Hari ini kami berdiam bukan karena berhenti bersuara, hari ini biarlah hari untukmu. Kami bersuara hanya untuk melantunkan ayat-ayat suci bagi kedamaianmu. Semoga duniamu di sana akan jauh lebih baik daripada dunia di mana kini kami berada.

Nov, aku memahami pilihanmu. Aku menghormati perjuanganmu. Dan aku meyakini Tuhan adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang untuk setiap makhluk di semesta ini. Maafkan kami yang tak pernah mendengar isak parau tangismu.

Baca Juga:

Selamat jalan Nov…
Pilihanmu pula yang kembali menggugah kami untuk tidak pernah berhenti menyuarakan ketidakadilan. Seharusnya kita bukan mengajarkan bagaimana perempuan dapat membela kehormatannya belaka, melainkan bagaimana kita para lelaki dapat menghormati para perempuan.

Di sini saya berharap agar RUU PKS dapat segera disahkan. Korban kekerasan seksual memerlukan kepastian hukum atas tindak pidana yang dilakukan oleh para pelaku. Mereka membutuhkan bantuan agar segera mendapatkan keadilan. Saya pun berharap pelaku yang berseragam cokelat ini mendapatkan hukuman maksimal. Seseorang yang mengenakan seragam kepolisian seharusnya dapat menjadi teladan dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat, bukan malah sebaliknya.

*Tulisan ini di-publish setelah mendapatkan persetujuan dari Ibu (alm) Novia.

  • Bagikan