Terduga Teroris di Malang Ternyata Terkenal Supel dan Pernah Jadi Ketua RT

  • Bagikan
Densus 88 menangkap AYR di rumahnya, tepatnya di Perumahan Bumi Mondoroko Raya, Singosari, Kabupaten Malang, (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Densus 88 menangkap AYR di rumahnya, tepatnya di Perumahan Bumi Mondoroko Raya, Singosari, Kabupaten Malang, (Foto: Rap/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Penangkapan terduga teroris berinisial AYR, warga Perumahan Bumi Mondoroko Raya, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, oleh Densus 88 begitu menggegerkan para tetangganya.

Lantaran, AYR sudah lama tinggal di sana dan sering berinteraksi baik dengan warga sekitar. Bahkan, saat ini AYR masih menjabat sebagai tim pengurus RT di rumahnya.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

“Yang dibawa satu orang atas nama AYR, dia memang warga kami dan sudah tinggal lama di sini. Dia juga salah satu anggota tim pengurus di RT,” terang Ketua RT 02, RW 14, Perumahan Bumi Mondoroko Raya, Heran Subagio, saat ditemui di rumahnya pada Sabtu (27/02/2021).

Heran menegaskan jika AYR bukanlah sosok tertutup. Bahkan, AYR dinilai aktif berinteraksi dengan para tetangga.

“Kesehariannya tidak masalah, beliau bukan orang eksklusif. Kalau beliau orang eksklusif, saya gak bakal berani menjadikan dia salah satu tim pengurus RT bagian auditor kami,” tegasnya.

Ketua RT 02, RW 14, Heran Subagio memberikan keterangan soal warganya yang ditangkap Densus 88 karena diduga sebagai teroris. (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Ketua RT 02, RW 14, Heran Subagio memberikan keterangan soal warganya yang ditangkap Densus 88 karena diduga sebagai teroris. (Foto: Rap/Tugu Jatim)

Dia juga mengungkapkan jika AYR pernah menjabat sebagai ketua RT. Tapi, tidak diungkapkan menjadi ketua RT pada tahun berapa.

“Beliau juga pernah menjadi ketua RT sebelum saya. Beliau orangnya aktif bergaul dengan warga maupun saat bertemu dengan saya di masjid,” ujarnya.

Karena itu, para tetangga AYR sangat terkejut atas penangkapan yang dilakukan Densus 88 pada Jumat siang (26/02/2021) di rumahnya.

“Beliau sangat terbuka dan itulah yang mengejutkan saya, begitu pun warga. Kenapa saya tidak bisa banyak menjelaskan karena saat penangkapan wilayah di sini disterilkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Heran mengatakan jika AYR sekeluarga sudah tinggal di Perumahan Bumi Mondoroko Raya sudah sejak lama.

“Kalau tinggal di sini sudah lama, saya saja di sini 2002, beliau sudah ada. Dan itu rumah beliau sendiri, bukan ngontrak,” tuturnya.

Dalam kesehariannya, AYR diketahui bekerja sebagai guru dan membuka kursus bimbingan belajar (bimbel) di rumahnya.

“Dia punya kursus atau bimbel dan ada jualan online saja. Beliau juga guru, tapi guru di mana saya juga tidak tahu. Tapi, yang pasti dia punya kursus bimbel di rumah dan sarjana,” bebernya.

Pria berkacamata ini mengatakan jika Densus 88 hanya membawa AYR. Sementara istri dan keempat anaknya masih ada di rumah untuk menenangkan diri.

“Setelah kejadian itu, istri saya mencoba mengontak istrinya (terduga teroris) dan keempat anaknya. Dan isi komunikasi itu adalah untuk mencoba menenangkan situasi. Bagaimanapun mereka adalah warga kami. Jadi, kami perlu menenangkan,” ujarnya. (Rap/ln)

  • Bagikan