Terpesona Pawon Teh Tudung, Dr Aqua Dwipayana Janji Kembali dan Menginap bersama Para Sahabatnya

  • Bagikan
Deretan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telamaya terlihat dari musala di Pawon Teh Tudung. (Foto: Dok/Tugu Jatim)
Deretan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telamaya terlihat dari musala di Pawon Teh Tudung. (Foto: Dok/Tugu Jatim)

MAGELANG, Tugujatim.id – Jalan-jalan ke Magelang, Jawa Tengah, tak lengkap rasanya kalau Anda tidak berkunjung ke destinasi wisata yang satu ini. Tempat kuliner dan homestay yang memadukan kekuatan wisata alam dan kuliner tradisi di kawasan Lereng Sumbing, Magelang, ini bahkan telah memikat Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana. Tempat kuliner dan homestay itu namanya Pawon Teh Tudung dan D’Lengkong Homestay. Lokasinya di Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah. Tempatnya berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Dr Aqua menikmati suasana Pawon Teh Tudung pada malam hari. Tepatnya Selasa malam (30/03/2021). Saat itu purnama masih tampak bulat bersinar. Bulan bulat itu terlihat di atas siluet temaram deretan gunung Merapi, Merbabu, Andong, dan Telamaya. Dilihat dari limasan, tempat menikmati makanan, bulan itu berada di atas tulisan Pawon Teh Tudung warna oranye yang terbuat dari bambu.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana bersama pemilik Pwon Teh Tudung Erwan Widyarto. (Foto: Dok/Tugu Jatim)
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana bersama pemilik Pwon Teh Tudung Erwan Widyarto. (Foto: Dok/Tugu Jatim)

Udara sejuk. Sajian teh tudung dan mie lethek godog yang panas membuat suasana menjadi begitu pas. Berkali-kali Dr Aqua mengatakan masakannya enak dan suasananya pas banget.

“Enak sekali ini, Mas Erwan. Suasana dan makanannya. Udara sejuk. Pas ini, minumnya teh panas dan makannya bakmi rebus panas. Murah lagi,” ujarnya.

Pintu derbang dan tempat resepsionis D'Lengkong Homestay. (Foto: Dok/Tugu Jatim)
Pintu derbang dan tempat resepsionis D’Lengkong Homestay. (Foto: Dok/Tugu Jatim)

Erwan yang dimaksud adalah penulis buku “Produktif Sampai Mati”. Nama lengkapnya Erwan Widyarto. Selama Selasa itu, seharian dari pagi sampai malam Erwan menemani Aqua yang melakukan berbagai kegiatan di Magelang.

Motivator dan penulis buku best seller “Trilogi The Power of Silaturahim” itu mengomentari sajian Teh Tudung dan mie kesukaan Barack Obama yang dinikmatinya di Pawon Teh Tudung.

Teh Tudung adalah sajian teh lokal yang diolah sendiri dari tanaman di kebun atau tegalan warga Genito. Bukan teh pabrikan. Daun teh dipetik dari kebun, kemudian disangrai memakai kuali tanah liat dengan kayu bakar. Lantas disajikan dengan tudung agar panasnya terjaga. Dilengkapi dengan gula merah atau gula aren secara terpisah.

Poci berisi teh diberi tudung atau selimut. Ini karena udara di lokasi yang berdekatan dengan hutan Perhutani ini cenderung dingin, sejuk, dan segar. Jika tanpa tudung, teh atau minuman lain yang disajikan akan cepat dingin.

Cara minumnya, teh ditunggu beberapa saat di dalam poci agar warna dan rasa tehnya keluar. Baru kemudian dituang dari poci ke gelas. Selanjutnya, minum tehnya, baru menggigit gula arennya. Atau sebaliknya, gigit dulu gula arennya, baru minum tehnya. Begitu cara minum teh di Windusari yang dilestarikan oleh Pawon Teh Tudung.

Pesan Mie Kesukaan Barack Obama

Sedangkan mie pesanan Dr Aqua itu adalah mie lethek. Mie kesukaan Barack Obama, mantan Presiden Amerika, saat berkunjung ke Jogja. Di Magelang, mie lethek hanya ada di @pawontehtudung. Mie lethek ini terbuat dari tepung tapioka (cassava). Di Pawon Teh Tudung diolah dengan rempah yang berlimpah. Sehingga kendati tanpa MSG, mie lethek ini sangat nikmat karena begitu terasa bumbu rempahnya.

“Iya, enak ini. Mantap Mas Erwan. Nanti saya promosikan ke sahabat-sahabat saya. Tempatnya nyaman, makanannya enak. Nggak jauh juga dari Kota Magelang. Bisa nginep juga,” tambahnya.

Teh Tudung dan Mie Obama yang sangat disukai tamu Pawon Teh Tudung.(Foto: Dok/Tugu Jatim)
Teh Tudung dan Mie Obama yang sangat disukai tamu Pawon Teh Tudung.(Foto: Dok/Tugu Jatim)

Dr Aqua yang seharian silaturahim di Kota Magelang, merasa menemukan tempat yang pas di Pawon Teh Tudung ini.

“Bener ini. Bisa nyantai di sini setelah seharian bekerja di kota. Udara segar, belum ada polusi. Tempatnya sangat enak. Bisa lupa nih kalau punya banyak utang di bank,” seloroh doktor komunikasi lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini.

Pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, 23 Januari 1970, ini lantas berjanji mempromosikan Pawon Teh Tudung dan Dlengkong Homestay ke teman-temannya. Bahkan, dia juga mau mengajak kawan-kawan maupun sahabat-sahabatnya ke Pawon Teh Tudung.

Sebelum menikmati suasana Pawon Teh Tudung, Dr Aqua pun sudah mempromosikan tempat makan ini ke Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Rudianto dan Kepala Cabang BRI Magelang Choirul Anam. Dr Aqua bertemu sahabatnya tersebut saat Sharing Komunikasi dan Motivasi di Dodik Bela Negara Rindam IV/Diponegoro Magelang.

Nasi Pawon Teh Tudung.(Foto:Dok/Tugu Jatim)
Nasi Pawon Teh Tudung.(Foto:Dok/Tugu Jatim)

Kendati namanya Pawon Teh Tudung, rumah makan di Lereng Sumbing ini tidak hanya melulu menyediakan teh. Untuk minuman, juga tersedia berbagai pilihan seperti aneka jus buah. Namun yang menarik, citra tradisional tetap ditonjolkan untuk sajian minuman ini. Sebab, Pawon Teh Tudung juga menyediakan wedang jahe sereh, wedang ronde, wedang bunga telang, dan kopi.

Sama dengan teh, kopi yang disajikan Pawon Teh Tudung pun kopi lokal Sumbing. Sesuai dengan tujuan usaha keluarga ini untuk mengembangkan potensi lokal di sekitar. Ada Arabica dan robusta Sumbing yang diambil dari petani kopi lokal Windusari. Penyajiannya pun tradisional. Tidak memakai barista, tapi disajikan dalam bentuk kopi tubruk.

Teh maupun kopi ini tidak hanya bisa dinikmati di Pawon Teh Tudung. Pengunjung bisa membawa pulang dalam bentuk kemasan. Tehnya dikemas dengan brand Genitos Tea seberat 20 gram. Di dalam kemasan ini ada dua potong gula aren. Jadi, saat di rumah, masih bisa merasakan sensasi minum teh Jawa dengan gula aren. Sedangkan kopi Arabica dan Robusta Sumbing dikemas dalam kemasan seberat 100 gram.

Selain teh, “warisan adiluhung“ apa yang dilestarikan oleh Pawon Teh Tudung? Banyak warisan “simbah-simbah“ yang penuh kearifan lokal di bidang kuliner. Tidak hanya pada minuman, tapi juga pada makanan. Di sinilah, Pawon Teh Tudung kemudian mengambil beberapa makanan untuk dijadikan menu utama. Jagung menjadi salah satu komoditas yang umum di daerah Windusari. Sega jagung atau nasi jagung juga menjadi salah satu menu yang bisa menemani kuliner bersama keluarga.

Meeting, gathering, dan arisan bisa digelar di Pawon Teh Tudung.(Foto:Dok/ Tugu Jatim)
Meeting, gathering, dan arisan bisa digelar di Pawon Teh Tudung.(Foto:Dok/ Tugu Jatim)

Nah, olahan nasi jagung ini menjadi salah satu menu andalan di Pawon Teh Tudung. Nama menunya Nasi Lereng Sumbing. Menu ini terdiri dari nasi jagung dengan sayur lompong, oseng ikan asing, urap (gudangan) dan peyek teri.

Kemudian ada nasi Pawon Teh Tudung. Ini adalah nasi gurih bunga telang yang diberi lauk kering kentang, serundeng kelapa, dan ayam suwir.

Pawon Teh Tudung buka setiap hari. Senin-Jumat buka pukul 09.00-19.00, Sabtu-Minggu buka pukul 07.00-19.00. Untuk bulan Ramadhan ini, Pawon Teh Tudung juga membuka Paket Buka Bersama spesial.

Ada menu baru yang khusus disajikan saat Ramadan. Paket Nasi Nusantara namanya. Paket hemat seharga Rp 15.000 saja. Jadwalnya Nasi Liwet Solo (Senin), Nasi Liwet Sunda (Selasa), Nasi Langgi (Rabu), Nasi Krawu (Kamis). Selama Ramadan, ada gratis takjil berupa teh dan kurma.

Homestay D’Lengkong dari Bambu

Datang ke Pawon Teh Tudung memang tidak sekadar ngeteh, ngopi, maupun ngemil. Lokasi yang ditempati rumah makan menu ndeso ini sangat instagramable. Berada di deret atas dari sawah terasering. Lalu, di kejauhan, jika langit terang, deretan gunung bisa terlihat. Mulai dari Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Telamaya, dan Ungaran. Di sisi kanan, ada Gunung Giyanti dengan hutan lebatnya. Kemudian di sisi belakang, ada Gunung Sumbing.

Gunung Giyanti dengan hutan pinus milik Perhutani yang membuat udara segar di Pawon Teh Tudung.(Foto:Dok/Tugu Jatim)
Gunung Giyanti dengan hutan pinus milik Perhutani yang membuat udara segar di Pawon Teh Tudung.(Foto:Dok/Tugu Jatim)

Selain pemandangan alam yang indah tersebut, sejumlah spot foto yang bisa dipakai untuk membuat konten media sosial juga disiapkan. Ada payung berdiameter 3 meter bertuliskan Pawon Teh Tudung Lereng Sumbing. Payung ini sekaligus semacam “papan nama“ yang bisa dilihat tamu begitu pertama datang.

Ada pula jaring trampolin yang bisa dipakai untuk bergaya di atas lahan sawah. Ada gebyok tradisional Jawa maupun sejumlah tulisan berisi pepatah Jawa maupun bahasa Indonesia. Pendapa Limasan yang menjadi bangunan utama juga menjadi spot foto yang menarik dengan background sawah hijau dan tulisan Pawon Teh Tudung dari bambu.

Kamar homestay dan tenda di DLengkong.(Foto: Dok/Tugu Jatim)
Kamar homestay dan tenda di DLengkong.(Foto: Dok/Tugu Jatim)

Para tamu juga bisa bermalam di Dlengkong Homestay agar bisa menikmati sunrise yang indah di pagi harinya. Penginapan ini tidak hanya berupa kamar homestay, tapi juga tenda. Fasilitas tenda lengkap dengan kasur, bantal, guling, serta fasilitas yang sama dengan kamar homestay.

Uniknya, bangunan homestay di DLengkong terbuat dari bambu. Juga bangunan penunjangnya. Pintu gerbang, resepsionis, musala, tempat sabun, meja, kursi, semuanya bernuansa bambu. Pembangunannya melibatkan para perajin bambu dari sejumlah sentra bambu di Magelang dan Yogyakarta.

Dari Magelang, ada perajin bambu Salaman, Candimulyo, dan Genito, Windusari, sendiri. Dari Yogyakarta ada perajin bambu dari Cebongan, Sendari, Warak (ketiganya di Sleman) dan perajin dari Dlingo (Bantul).

Visi utama usaha keluarga ini memang memberi manfaat kepada sekitar. Termasuk membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan potensi ekonomi warga masyarakat Windusari.

“Betul Mas. Saya setuju banget ini. Membuka usaha tidak semata-mata mencari keuntungan, tapi untuk membantu sesama. Makanya, saya siap bantu mempromosikan. Saya dukung penuh,” ujar Dr Aqua yang sekitar 1,5 jam berada di Pawon Teh Tudung.(*/ln)

  • Bagikan