JEMBER, Tugujatim.id – Masyarakat di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, memiliki kearifan lokal yang telah berpuluh-puluh tahun ditinggalkan. Namanya tilik sumber. Dahulu, tradisi tersebut menjadi serangkaian acara sedekah desa yang digelar setiap tahun hingga saat ini.
Tradisi tilik sumber untuk kali pertama digelar kembali setelah lama ditinggalkan. Tradisi mengunjungi sumber mata air tersebut menjadi simbol dari keberadaan sumber kehidupan di Kecamatan Panti.
“Ini masih mengawali, kegiatan tradisi ini telah lama sudah tidak terlaksana hampir 50 tahun, terakhir itu tahun 60-an,” ujar Irham Fidaruzziar, Founder Rumah Tunjung Indonesia sekaligus panitia pelaksana, pada Sabtu (07/09/2024).
Baca Juga: Perkuat Program Prioritas, Kemenkeu Gelontor Insentif Fiskal Pemkab Mojokerto Rp25 Miliaran
Upaya menghidupkan kembali tradisi tilik sumber menjadi komitmen para pemuda di daerah Panti, bersama budayawan hingga pihak pemerintah.
“Orang dulu itu selalu melakukan tilik sumber sebelum melakukan sedekah desa,” paparnya.
Menurut dia, tradisi tersebut merupakan bentuk terima kasih terhadap sumber mata air yang memiliki kaitan dengan hasil panen yang tuangkan dalam bentuk kegiatan sedekah desa. Tidak hanya satu desa, tradisi tilik sumber itu akan berlangsung ke tujuh desa yang ada di Kecamatan Panti.
“Tujuh titik mata air yang ada di tujuh desa di Kecamatan Panti, kami akan mengambil sampel di tujuh mata air yang akan nantinya dibawa agenda kirab pada 11 September 2024 hari Rabu itu akan sediakan tujuh gunungan sebagai simbol hasil bumi dari setiap desa,” jelas Irham Fidaruzziar.
Nantinya, ketujuh sampel air tersebut akan disandingkan dengan tujuh gunungan dari setiap desa yang diarak dari Kantor Kecamatan Panti menuju Alun-Alun Panti.
Selain melestarikan kearifan lokal masyarakat di zaman dahulu, Irham Fidaruzziar berharap, dengan menggelar tradisi tilik sumber kembali juga menjadi upaya untuk menghormati sumber mata air yang telah menjadi sumber penghidupan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








