TUBAN, Tugujatim.id — Di balik hiruk-pikuk kota pesisir yang kini tumbuh sebagai simpul industri dan jalur transit penting di jalur Pantura, Tuban menyimpan sejarah panjang yang tak pernah benar-benar selesai dibahas.
Dari awal sebagai sebuah Kadipaten di masa Jawa kuno, pusat perdagangan pesisir di era Majapahit, hingga akhirnya menjadi Kabupaten seperti sekarang. Perjalanan Tuban penuh jejak transformasi yang menarik untuk ditelusuri.
Nama Tuban bahkan sudah tercatat dalam sejumlah naskah kuno dan catatan perjalanan bangsawan asing. Kota ini bukan sekadar titik di peta, melainkan pelabuhan penting yang menghubungkan perdagangan Jawa dengan dunia luar sejak ratusan tahun lalu.
Sejarawan mencatat bahwa Tuban pada awalnya berstatus sebagai Kadipaten Tuban yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Kadipaten ini dipimpin oleh seorang adipati yang bertanggung jawab langsung pada raja. Peran itu tidak sekadar administratif, tetapi juga strategis karena Tuban adalah salah satu pintu keluar Majapahit ke lautan.

Buku ‘Sejarah Tuban: Dari Kadipaten ke Pelabuhan Penting’ karya S. Moertono (1974) menyebutkan bahwa pelabuhan Tuban menjadi jalur emas perdagangan kayu jati, rempah, hingga keramik yang dibawa pedagang asing. Penduduk pesisir kala itu hidup berdampingan dengan para saudagar dari Tiongkok, Gujarat hingga Arab yang singgah di pelabuhan Tuban.
Popularitas Tuban kian menguat pada masa akhir Majapahit. Catatan Ma Huan, penjelajah Tiongkok yang ikut dalam ekspedisi Cheng Ho, juga menyebut Tuban sebagai pelabuhan yang ramai dan tertata. Hubungan dagang yang intens membuat Tuban berkembang menjadi kawasan urban yang lebih hidup dibanding daerah pedalaman pada masa itu.
BACA JUGA: Benteng Nippon Jember Warisan Sejarah Tersembunyi
Pasca Majapahit runtuh, Tuban memasuki masa transisi. Statusnya tetap sebagai wilayah administratif penting ketika kekuasaan beralih ke Demak dan kemudian Mataram Islam.
Keberadaan penyebar agama Islam seperti Syekh Maulana Ibrahim—atau Syekh Ibrahim Asmoro, ayah Sunan Ampel—menginjakkan kaki di kawasan ini juga menjadi penanda bahwa Tuban ikut berperan dalam penyebaran Islam di Jawa. Jejaknya terlihat hingga kini di komplek makam di Gesikharjo.

Buku “Tuban dalam Dinamika Islam Jawa” karya M. Zuhdi (1998), disebutkan bahwa Tuban menjadi salah satu simpul dakwah dan pusat pertumbuhan komunitas santri awal. Perpaduan masyarakat pesisir yang kosmopolit dan masuknya jaringan wali menjadikan Tuban punya karakter sosial-religius yang unik.
Pada masa Mataram, Tuban ditata kembali sebagai wilayah kabupaten. Sistem kabupaten ini dibentuk untuk menguatkan struktur pemerintahan dan kontrol pusat terhadap wilayah pesisir. Dari sinilah status administratif “Kabupaten Tuban” mulai menguat dan berlanjut hingga era kolonial Belanda.
BACA JUGA: Sumur Srumbung Peninggalan Sunan Bonang: Sumber Air Tidak Asin Meski Dekat Pantai
Ketika VOC masuk ke Jawa, Tuban tetap dilirik sebagai pelabuhan alternatif selain Surabaya. Meski tidak menjadi pusat kekuasaan VOC, keberadaan pelabuhan dan jalur niaga membuat Belanda tetap menempatkan pejabat administratif di Tuban.
Buku “Tuban Tempo Doeloe: Catatan Kolonial di Pesisir Utara Jawa” karya J. Van der Velde (1932) mencatat bahwa pada awal abad ke-19, pemerintah kolonial mulai membentuk infrastruktur administratif modern, seperti pendirian kantor residentie pendamping dan reorganisasi pemerintahan kabupaten. Inilah fase di mana Tuban mulai bergerak menuju wajah kota administratif seperti sekarang.

Pelabuhan Tuban perlahan berubah fungsi seiring pembangunan pelabuhan besar lain di Jawa Timur. Namun, identitas Tuban sebagai kota pesisir tetap melekat. Kegiatan perdagangan lokal tetap hidup, dan jalur darat Pantura mulai mengambil alih peran penting dalam mobilitas orang dan barang.
Memasuki abad ke-20, status Kabupaten Tuban semakin kokoh. Pemerintah kolonial, lalu Indonesia setelah merdeka, mempertahankan struktur kabupaten sebagai bagian dari sistem pemerintahan daerah.
BACA JUGA: Masjid Agung Tuban Perkuat Simbol Kemegahan Islam di Tuban
Tuban terus bertransformasi—dari kota pelabuhan kuno menjadi kawasan industri, pertanian, dan energi. Namun akar sejarahnya tetap kuat: kota yang sejak dulu menjadi simpul jalur perdagangan, persinggahan penjelajah, hingga titik temu ragam budaya.
Kini, saat Tuban memasuki usia 700-an tahun lebih, jejak sejarah itu masih bisa ditelusuri melalui situs-situs kuno, makam wali, pelabuhan tua, hingga tradisi masyarakat pesisirnya. Tuban bukan hanya kabupaten administratif. Ia adalah rangkaian bab panjang sejarah Jawa yang masih terus bertumbuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Mochamad Abdurrochim
Editor: Darmadi Sasongko








