UM Masuk 15 Besar Nasional, Kini Gencarkan Program Peningkatan Produk Inovasi

  • Bagikan
kampus UM
Suasana kampus Universitas Negeri Malang (UM). (Foto: Dokumen)
MALANG – Sukses mencapai posisi di Klaster I dengan menempati peringkat ke-15, Universitas Negeri Malang (UM) sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Kota Malang masih terus berupaya melakukan perbaikan di sejumlah aspek. Pencapaian di Klaster I ini merupakan sebuah peningkatan bagi UM dari peringkat di tahun sebelumnya.
Secara rutin, hasil klasterisasi perguruan tinggi memang diumumkan setiap tahunnya. Di tahun 2020 ini, pengumuman dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senin (17/8/2020). Dan UM masuk sebagai 15 besar nasional.
Klasterisasi perguruan tinggi ini sendiri berfungsi sebagai landasan bagi Kemendikbud dan perguruan tinggi untuk terus melakukan perbaikan pembangunan seiring dengan pelaksanaan amanah tri dharma perguruan tinggi.
Terkait hal ini, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M), Prof Dr Markus Diantoro MSi menjelaskan bahwa hasil klasterisasi ini menjadi sebuah tantangan dan pemacu semangat bagi UM untuk terus meningkatkan komponen lainnya.
“Tentu hal ini merupakan upaya dan hasil kerja keras dari semua pihak yang ada di UM. Namun kendati demikian masih banyak juga yang harus dilakukan UM untuk terus meningkatkan peringkatnya terutama apabila meninjau hasil dari indikator penilaian, UM masih perlu lebih giat lagi dalam komponen output dan outcome,” ungkapnya.
Proses klasterisasi ini juga melibatkan 4 indikator dalam penilaiannya yaitu input, proses, output, dan outcome. Melalui hasil penilaian dari keempat indikator ini, UM secara khusus akan fokus untuk melakukan peningkatan dan perbaikan di indikator outcome.
Penilaian di indikator outcome ini sendiri memiliki bobot terbesar dari ketiga indikator lainnya yaitu 30% yang meliputi penilaian kinerja inovasi, jumlah lulusan yang memperoleh kerja dalam waktu 6 bulan, jumlah nilai sitasi per dosen, jumlah patent per dosen, dan kinerja pengabdian masyarakat.
Menyikapi hal ini, UM juga telah menyiapkan serangkaian program untuk mendukung perbaikan dan peningkatan pada komponen outcome melalui sejumlah unit yang merupakan bagian dari LP2M.
“Di indikator outcome ini menitikberatkan pada komponen inovasi dan industrialisasi. Tuntutannya tidak hanya pada publikasi internasional tapi lebih pada proses inovasi, komersialisasi, dan produk paten. Di LP2M UM sendiri ada unit bernama Pusat HKI, Inkubasi Bisnis, Komersialisasi, dan Afiliasi Industri (PHIKA) dan melalui pusat inilah bisa menjadi wadah untuk mendorong dan meningkatkan poin outcome,” jelas Markus.
Sejumlah program dari LP2M UM untuk mendukung percepatan di komponen outcome ini sendiri seperti program Inkubator Bisnis dan Teknologi (Inbistek) dan Inovasi, Inkubator, dan Industrialisasi Program (I3P).
“Jadi harapannya dengan strategi dan program yang sudah kami adakan dapat membantu untuk menjadi lebih baik ke depannya. Tentu dalam implementasinya juga membutuhkan dukungan dari semua pihak yang ada. Jadi, semua bekerja sama untuk menjalankan program-program yang sudah dijalankan,” tuturnya. (Ads)
Penulis: Andita Eka Wahyuni
Editor: Irham Thoriq
  • Bagikan