JEMBER, Tugujatim.id – Kondisi Pendidikan di Kabupaten Jember menghadapi tantangan kompleks mulai dari kerusakan infrastruktur hingga masalah aksesibilitas geografis yang membuat Angka Putus Sekolah (ATS) cukup besar.
Muhammad Irfan Hilmi, Koordinator Program Studi Pendidikan Luar Sekolah, FKIP, Unej, mengungkap berbagai permasalahan sekaligus potensi besar yang dimiliki daerah ini. Data yang dikutip Hilmi dari Sistem Aplikasi Pendataan (SAP) atau My Dispendik menunjukkan kondisi mengkhawatirkan infrastruktur pendidikan di Jember.
Sekitar 430 sekolah mengalami kerusakan sarana dan prasarana yang memerlukan perhatian serius. “Kalau saya baca referensi dari SAP dan sebagainya itu ada kondisi sekitar 430-an sekolah itu rusak sarana prasarananya,” ungkap Hilmi saat ditemui, Kamis (12/4/2025).
Kondisi ini menjadi ironi ketika di satu sisi banyak sekolah existing yang membutuhkan rehabilitasi, namun di sisi lain muncul rencana pembangunan sekolah baru dengan desain yang lebih mewah. Hilmi mempertanyakan efisiensi alokasi anggaran dalam kondisi seperti ini.
Sebagai kabupaten dengan wilayah yang luas, Jember menghadapi tantangan aksesibilitas pendidikan yang serius. Jarak tempuh dari pusat kabupaten ke daerah-daerah terpencil seperti Ambulu dan Panti menjadi kendala utama bagi siswa dan keluarga mereka.
“Apakah akses tadi bisa enggak mencapai ke berbagai daerah dari Ambulu sana atau dari Panti sana? Kan ongkos juga,” ujar Hilmi menggambarkan permasalahan transportasi yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, akses untuk menyentuh pendidikan, khususnya transportasi akan menjadi beban tambahan bagi keluarga dengan kategori miskin.Hal ini berpotensi meningkatkan angka putus sekolah dan anak tidak bersekolah di daerah-daerah terpencil.
Potensi Ekonomi Lokal Belum Dimanfaatkan Optimal
Jember memiliki potensi ekonomi lokal yang luar biasa namun belum diintegrasikan secara optimal dalam sistem pendidikan. Melihat, beberapa sektor menjadi keunggulan Kabupaten Jember, seperti pertanian dan perkebunan.
“Kita punya pertanian, kita punya lahan yang terkenal dengan pertanian, perkebunan, kopi, kakao,” sebut Hilmi.
Selain itu, Jember juga memiliki Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) yang menjadi satu-satunya di Indonesia. Menurunya, sudah seharusnya dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan pendidikan seperti vokasi.
“Puslitkoka kan hanya ada di Jember ya seluruh Indonesia. Nah, itu jadi potensi bagaimana anak-anak yang mungkin SMA, SMK diarahkan untuk bagaimana pengolahan terkait dengan kopi dan kakao,” lanjut Hilmi.
BACA JUGA: Prof Slameto, Ahli Fisiologi Tanaman UNEJ Dorong Pertanian Berkelanjutan Melalui Pengelolaan Nutrisi Optimal
Kearifan Lokal Basis Pengembangan Keterampilan
Jember juga kaya akan kearifan lokal yang dapat dikembangkan menjadi keterampilan ekonomi produktif. Daerah Antirogo yang terkenal dengan kerajinan bambu menjadi contoh konkret potensi yang bisa dikembangkan.
“Seperti di Antirogo itu kan menjadi salah satu daerah yang memiliki bambu untuk anyaman kerajinan. Itu basic skill di sekolah dasar bisa dikuatkan bahwa ada kerajinan ini potensinya ada di Jember,” jelasnya.
Untuk sektor perikanan, tradisi pembuatan anyaman dari bambu untuk keperluan ikan pindang juga menunjukkan potensi kearifan lokal yang dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan keterampilan.
Tiga Perguruan Tinggi Negeri Aset Strategis
Tidak hanya itu, keberadaan Kabupaten Jember yang dilengkapi beberapa perguruan tinggi negeri, seharusnya dapat menjadi aset untuk mengembangkan pendidikan dasar dan menengah secara optimal.
“Itu negeri yang di Jember. Itu kan potensi terkait dengan teknologi bisa dikembangkan dengan kolaborasi tiga universitas. Apalagi belum swastanya banyak,” ujar Hilmi.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dengan sekolah-sekolah dapat menjadi kunci pengembangan teknologi informasi dan inovasi pendidikan di tingkat dasar. Hilmi menyarankan pemanfaatan sumber daya ini untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
BACA JUGA: Unej Kembali Raih Predikat Badan Publik Informatif
Model Integrasi Pendidikan Formal dan Non-Formal
Menurut Hilmi, implementasi model integrasi pendidikan formal dan non formal yang dapat mengatasi beberapa tantangan. Konsep “satu atap” memungkinkan optimalisasi penggunaan infrastruktur existing.
“SD dimanapun ada SD di situ, jam 1 selesai kita manfaatkan dengan sekolah rakyat misalnya untuk belajar di gedung itu,” saran Hilmi.
Model ini dapat mengurangi beban pembangunan infrastruktur baru sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan fasilitas yang sudah ada.
Pengembangan Kurikulum Berbasis Potensi Lokal
Untuk jenjang SMA dan SMK, Hilmi menekankan pentingnya pengembangan kurikulum yang selaras dengan potensi ekonomi lokal. Fokus pada pengolahan kopi dan kakao untuk jenjang atas, sementara basic skill kerajinan tradisional untuk jenjang dasar.

“Kalau SD, SMP ya mungkin kita terbatas pada basic skill yang harus dikuatkan apa saja tapi itu harus diberikan bagian dari ini,” jelasnya.
Upaya tersebut setidaknya akan menciptakan lulusan yang bukan sekadar kompetensi akademik yang didapat peserta didik, melainkan juga memiliki keterampilan praktis yang nantinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi lokal.
BACA JUGA: Cerita Zuama, Wisudawan Terbaik Pernah Jadi Ketua BEM Fasilkom Unej
Rekomendasi Pengembangan Pendidikan Jember
Berdasarkan analisis kondisi existing dan potensi yang ada, Hilmi merekomendasikan beberapa strategi pengembangan, sebagai berikut.
1. Rehabilitasi infrastruktur existing dengan memprioritaskan perbaikan 430 sekolah rusak sebelum membangun yang baru;
2. Pengembangan sistem transportasi pendidikan untuk menyediakan akses transportasi yang terjangkau ke daerah terpencil;
3. Integrasi potensi lokal dalam kurikulum, untuk mengembangkan program keterampilan berbasis kopi, kakao, dan kerajinan bambu;
4. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dengan memanfaatkan yang memiliki orientasi untuk pengembangan teknologi pendidikan;
Optimalisasi penggunaan fasilitas untuk menerapkan sistem multi-fungsi untuk memaksimalkan utilisasi gedung sekolah.
“Itu potensi-potensi yang saya rasa bisa dikembangkan untuk pendidikan di Jember,” tutup Hilmi optimis. Dengan pengelolaan yang tepat, Jember memiliki semua elemen untuk menjadi daerah dengan sistem pendidikan yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan lokal.
Kunci sukses terletak pada kemampuan mengintegrasikan potensi lokal dengan sistem pendidikan formal, didukung infrastruktur yang memadai dan aksesibilitas yang baik bagi seluruh lapisan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








