Uniknya Kopi Kaki Lima di Kota Malang, Bukti Ngopi Tak Butuh Tempat Istimewa

  • Bagikan
Andik Destanto, pemilik Himung Kopi, warung kopi berkonsep kaki lima di Kota Malang. (Foto: M Ulul Azmy)

MALANG – Ngopi nyatanya tak mengharuskan duduk di kafe gaul yang wah. Buktinya, warung kopi kaki lima yang digeber di trotoar jalanan Kota Malang ini juga tak kalah asik. Tak kalah seru. Himung Kopi namanya.

Seperti namanya, kopi kaki lima. Warung yang berlokasi di Jalan Raya Kolonel Sugiono, Mergosono, Kota Malang ini memang khas layaknya pedagang kaki lima. Pedagang yang katanya berjarak lima kaki dari jalan alias trotoar.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Namun, jangan salah jika kafe jalanan yang digagas Andik Destanto ini hanya menjual kopi sachet-an layaknya pedagang kaki lima lain. Sebab, pria berusia 37 tahun ini menyediakan ragam kopi Nusantara yang beraneka macam layaknya kafe-kafe kekinian untuk tongkrongan anak muda.

Seorang pelanggan memesan di Himung Kopi, warung kopi yang mengusung konsep pedagang kaki lima. (Foto: Ulul Azmy)

”Ngopi gak harus wangi,” kata Andik menirukan testimoni pelanggan yang sering mampir ke kedainya.

Ditemui tugumalang.id, Grup Tugu Jatim, Andik pun bercerita kisah membuka warung kopi sederhana tapi begitu mengesankan di mata pelanggannya.

Lantaran bermodal cekak, Andik berusaha mengakali usaha kedai kopinya secara sederhana. Satu-satunya unit sepeda gunung miliknya disulap menjadi bar kedai kopi lengkap beserta satu set perangkat seduh manualnya.

Konsep yang ditawarkan Himung Kopi terbilang unik. Usut punya usut, Andik memang sengaja memilih tempat berjualan di jalan sebagai edukasi memperkenalkan berbagai jenis kopi di Nusantara. Menurut dia, banyak warga sekitar yang masih awam seputar kopi layak minum (premium).

”Ini bukan kopi instan yang digunting, lho, ya. Nah saya ingin membuktikan bahwa semua kopi enak bisa dinikmati beragam kalangan dan dengan harga yang murah. Tanpa harus masuk ke kafe,” beber Andik, Minggu (16/8/2020).

MERAKYAT. Himung Kopi menyuguhkan sajian kopi yang diperuntukkan semua kalangan. (Foto: Ulul Azmy)

Berkat konsep ‘turba’ alias turun ke bawahnya, inilah yang membuat pelanggan yang datang ke Himung Kopi cukup beragam. Mulai dari anak muda, buruh kerah biru hingga buruh kasar seperti kuli bangunan, pasukan kuning, pedagang asongan dan tukang rombeng pun tak sungkan mampir dan menyicip kopi bikinannya.

”Jarang-jarang lho liat tukang rombengan, pasukan kuning mampir terus pesen kopi vietnam drip, nyoba kopi jenis Arabica pake V60. Itu jadi kebanggaan tersendiri buat saya,” ujarnya.

Meski kaki lima, kualitas kopi yang dijajakan pun setara dengan kopi yang diminum di kedai-kedai kopi kekinian. Nilai plusnya, kamu bisa menikmati kopi enak dengan harga murah meriah. Cukup berbekal Rp 5 hingga 10 ribu, anda sudah bisa menikmati berbagai jenis kopi nusantara disini.

Beroperasi sejak Maret 2019 silam, Arek Mergosono Gang 5 ini berharap konsisten mempertahankan karakter Himung di pinggir jalan. Bagi kebanyakan orang, kata dia, kafe baik mewah atau tidak tetap bersifat ekslusif. Ada segmentasi disana.

Warung kopi kaki lima ini ditempatkan di sebuah sepeda. (Foto: Ulul Azmy)

”Ibaratnya gini, masuk kafe kan lewat pintu. Nah, filosofinya, setiap orang setelah melewati pintu otomatis harus patuh dengan aturan rumah. Sifat pintu adalah batas penyekat. Nah dengan di jalan otomatis ga ada pintu, jadi semua orang bisa datang,” terangnya.

Selain murah, anda juga akan disuguhi latar pemandangan khas Kota Malang dari sisi yang lain yang lebih otentik. Daerah ini memang memiliki jejak historis panjang, khususnya era zaman kolonial. Jadi rata-rata arsitektur bangunan disekitarnya ini masih relatif terjaga keasliannya.

Jika anda ingin mencoba sensasinya, anda harus bersiap bangun lebih pagi. Himung Kopi hanya buka di pagi hari dari mulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB. ”Konsepnya memang spesial kopi pagi. Selain itu, profesi utama saya memang satpam. Jadi ini kerja sambian sekaligus hobi,” pungkasnya.

 

Reporter: Ulul Azmy
Editor: Gigih Mazda

  • Bagikan