Upacara Entas-Entas di Jawi Kawi - Tugujatim.id

Upacara Entas-Entas di Jawi Kawi

  • Bagikan
Pendopo Kembangkopi, brand dari dial Foundation yang bekerja sama dengan Perkumpulan Jawi Kawi, menyelenggarakan upacara Entas-Entas.(Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Pendopo Kembangkopi, brand dari dial Foundation yang bekerja sama dengan Perkumpulan Jawi Kawi, menyelenggarakan upacara Entas-Entas.(Foto: Dokumen)

Oleh: Pietra Widiadi, Founder Pendopo Kembangkopi

Tugujatim.id – Minggu/Radite Kliwon Sungsang (31/10/2021), Pendopo Kembangkopi, brand dari dial Foundation bekerja sama dengan Perkumpulan Jawi Kawi, menyelenggarakan upacara Entas-Entas. Upacara ini sering kali diidentikkan dengan Hindu atau tepatnya Hindu masyarakat Tengger. Upacara yang memberikan makna tentang mengentas (mengangkat, dalam bahasa Indonesia).

Pengertian entas, pada hakikatnya adalah upaya memindahkan suatu barang yang dijemur dari terik matahari supaya tidak terlalu kering, maka segera dientas, diangkat, dan atau dipindahkan tempatnya. Atau sebuah pengertian, mengangkat benda yang dimasak, tepatnya digoreng untuk segera dientas supaya tidak gosong. Artinya lagi dapat disamakan dengan diselamatkan dari kondisi yang makin buruk karena kepanasan atau menjadi gosong.

Upacara Entas-Entas untuk melestarikan budaya dan lingkungan. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Upacara Entas-Entas untuk melestarikan budaya dan lingkungan. (Foto: Dokumen)

Maka makna harfiah dari upacara entas-entas adalah menyelamatkan dari sesuatu yang pada akhirnya dapat menjadikan kerusakan. Karena itu, upacara entas-entas yang biasanya dilakukan untuk pemberian penghargaan kepada leluhur yang sudah mendahului kita, atau sanak saudara yang mendahului kita sudah lebih dari 1.000 hari atau telung pendak. Dengan demikian entas-entas leluhur atau upacara entas-entas leluhur adalah menghantarkan “nyawa” leluhur yang seharusnya sudah masuk ke alam suksma menuju pada periode manitis kembali (reinkarnasi).

Dalam pengertian laku Jawa atau Jawi Kawi bahwa setiap manusia itu memiliki 3 unsur penting yang disebut dengan raga, nyawa, dan suksma. Lalu, diartikan bahwa raga yang sudah mati, pada kenyataannya belum tentu nyawanya ikut meninggal. Ini terjadi pada orang yang mengalami kecelakaan, atau bunuh diri atau meninggal secara mendadak sehingga nyawa masih memiliki keterikatan materi. Sehingga mereka tidak langsung menuju ke alam suksma, alam ruh, atau arwah. Sehingga kemudian nyawa tersebut dikatakan gentayangan. Padahal mereka sedang menunggu pertolongan untuk masuk pada periode manitis kembali.

Pada kesempatan ini, Pendopo Kembangkopi dan Jawi Kawi melakukan upacara entas-entas yang diikuti 24 orang dan disaksikan oleh handai taulan dari umat Hindu di Wagir, Ngajum, dan Pakisaji. Ini dilakukan oleh umat dari perkumpulan Jawi Kawi melaksanakan ritual yang dilaksanakan oleh umat Hindu pada umumnya. Namun dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dhama Mangrw, maka kegiatan ini diikuti berbagai umat beragama.

Kegiatan upacara ini kemudian melambangkan berbeda dan tetap satu dengan mengedepankan laku baik, seperti makna dari lambang negara kita. Untuk itu, segala kepentingan lebur menjadi upacara yang dimaknai sebagai upacara Jawamula-mula atau Jawi Kawi. Upacara ini dipimpin oleh Pandita Brahmana dari Budhi-Siwa, Dharmika Sandhi Kertajaya dari Bongsangan, Kediri dalam tajuk Upacara Dhamaning Pangentas Bhakti Leluhur Kawi.

Hadir dalam upacara ini adalah mereka dari Bogor, Sampit, Jakarta, dan disaksikan oleh pengunjung Warung Kopi Pendopo Kembangkopi dengan syahdu. Meski diterpa hujan, kegiatan dilaksanakan termasuk larung simbol dari pengiriman materi proses ngaben, pembakaran mayat di Sungai Glagahombo Wetan, larung dapat terlaksana dengan tepat.

Suasana Upacara Entas-Entas.(Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Suasana Upacara Entas-Entas.(Foto: Dokumen)

Upacara ini merupakan bagian dari melestarikan tradisi dan budaya leluhur Jawi Kawi di mana kita menjunjung kearifan alam dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu yang diperoleh dalam tata laksana dari upacara ini adalah kelestarian. Secara faktual, maka dalam upacara ini dihilangkan menggunakan material dari plastik. Semua menggunakan bahan organik dan dengan nyaman dapat dibuang di halaman sekitar rumah. Selain sebagai upaya pelestarian budaya, juga merupakan usaha pelestarian lingkungan karena bahan upacara yang digunakan adalah bahan organik dan mudah terurai di dalam alam/tanah.

Editor: Dwi Lindawati
  • Bagikan