Upaya Tingkatkan Nilai Ekonomi, Petani di Trenggalek Tanam Porang di Lahan 3.000 Hektare

  • Bagikan
Perkumpulan Petani Porang Trenggalek (PPT) berfoto bersama tanaman porang yang tersebar di lahan seluas 3.000 hektare. (Foto: Zamz/Tugu Jatim)
Perkumpulan Petani Porang Trenggalek (PPT) berfoto bersama tanaman porang yang tersebar di lahan seluas 3.000 hektare. (Foto: Zamz/Tugu Jatim)

TRENGGALEK, Tugujatim.id – Sebagai upaya peningkatan ekonomi petani di Kabupaten Trenggalek ke depan, Perkumpulan Petani Porang Trenggalek (PPT) ‘ugal-ugalan’ menyebar tanaman porang di lahan 3.000 hektare. Diprediksi, dari luas lahan tersebut akan siap dipanen total 600 juta katak porang.

Sekretaris Perkumpulan Petani Porang Trenggalek (PPT) Joko Bagus Suyoto, S.T, mengatakan petani porang Kabupaten Trenggalek akan panen besar dari luas lahan 3.000 hektare tersebut.

“Melihat potensi porang yang cukup luar biasa ini, kami memprediksi bahwa tahun ini Kabupaten Trenggalek akan mampu menghasilkan 600 juta katak,” ungkap Joko.

Angka 600 juta tersebut Joko mendasarkan dalam luasan sebaran lahan 3.000 hektare, sementara per hektare lahan memiliki 20 ribu batang tanaman porang. Maka, jika dikalkulasikan total keseluruhan 60 juta batang tanaman porang di Kabupaten Trenggalek.

“Untuk satu batang tanaman porang kita asumsikan menghasilkan 10 biji katak. Jika 10 biji katak dikalikan 60 juta batang, maka produksi katak yang dihasilkan total 600 juta biji katak. Itu hitungan dalam satu tahun,” jabarnya.

Lanjutnya joko menerangkan harga 1 kg katak saat ini mampu mencapai harga pasar 150 ribu, yang rata-rata isinya 300 biji katak, ini jelas menjadi pandangan cerah kebangkitan petani dalam menggait ekonomi.

“Jika 600 juta katak dibagi menjadi 300 biji katak per kilogramnya maka akan ketemu 2 juta kilo, kemudian dari angkat 2 juta kilo kita kalikan 150 ribu makan akan ketemu hasil perputaran uang sekitar Rp 300 Miliar,” rinci Joko.

Joko juga menegaskan perputaran 300 miliar itu hanya pada kataknya saja belum terhadap umbi porang.

Sementara Ketua PPPT Kabupaten Trenggalek Ir. Agung Sudjatmiko mengatakan biji katak yang dihasilkan itu berasal dari tanaman porang yang mengalami ripah atau mati.

“Jadi pada tanaman porang itu, terutama pada bagian ruas batang daun, di sanalah munculnya katak,” kata Agung.

Menurutnya, katak yang dipanen nanti adalah katak yang telah lepas dari ruas batang daun. Sementara katak yang masih menempel pada ruas batang daun meskipun batang tanamannya mengalami ripah belum bisa dipanen.

“Karena hal itu akan mengurangi kualitas tanaman porang itu sendiri jika ditanam nantinya,” pungkasnya. (Zamz/gg)

  • Bagikan