SURABAYA, Tugujatim.id – Cuaca pergerakan ekonomi yang menggeliat di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kota Surabaya tampak begitu bergairah. Lantaran, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam beberapa waktu ke depan bakal memantik UMKM dengan menganggarkan dana Rp 50 miliar per bulan. Untuk konsep program UMKM yang akan dipakai, Eri masih merahasiakannya.
“Harus berjalan, dalam hidup harus optimistis. UMKM hari ini juga bergerak, kami buat pergerakan Rp 50 miliar untuk UMKM agar bisa bergerak. Cara mainnya gimana? Tunggu saja,” jelasnya saat doorstop di depan Ruang Rapat Utama lantai 3 DPRD Kota Surabaya, Rabu (02/06/2021).
Selain itu, Eri menjelaskan panjang lebar soal kas Kota Surabaya yang berjumlah Rp 400 miliar, terpaut jauh dari uang belanja kota yang mencapai Rp 8 triliun. Eri menyebut, selisih anggaran yang begitu jauh itu karena banyak anggaran yang belum masuk, khususnya dari RHU dan pajak.
“Belanja daerah hari ini, Surabaya di kas itu hanya ada sekitar Rp 400 miliar. Padahal, belonjone awak dewe Rp 8 triliun. Kenapa? Karena belum masuk semua, pandemi Covid-19 ini pajaknya, kami jasa pendapatannya dari wisata, orang belanja, hotel, tapi pajak yang masuk tidak seperti tahun lalu,” terangnya.
Eri menegaskan upaya untuk menaikkan uang belanja kota agar bisa mencapai Rp 8 triliun pada 2021 ini, Eri selalu memantau laporan pajak melalui sistem aplikasi.
“Karena perkiraan kami, dari Rp 10 triliun, Rp 9,8 triliun tahun ini yang bisa masuk sekitar Rp 7 triliun, kami berusaha jadi Rp 8 triliun. Jadi, sampai hari ini belum bisa segitu, upaya kami memberi semua laporan pajak melalui sistem aplikasi,” jelasnya.
Semua pendapatan kota yang ikut dalam siklus ekonomi itu diperoleh dari pergerakan UMKM, RHU seperti bioskop atau tempat wisata lainnya. Dalam hal peningkatan ekonomi, Eri optimis bahwa Kota Surabaya dapat mencapainya.
“Yang ada di rumah makan, di hotel, salah satunya menggerakkan ekonomi di UMKM atau RHU (rekreasi hiburan umum, red) seperti di bioskop kami buka dengan mencatatkan prokesnya harus ditaati, Surabaya insya Allah bisa,” sambungnya.
“Karena orang Surabaya ini hebat, gotong-royong kuat, wonge pinter, dibuka bioskope pasti prokes dijalankan. Lek bioskop ditutup, seng rugi sopo? Seng duwe bioskop dan pemkot karena duwek gak ono seng melbu,” tegasnya.