TUBAN, Tugujatim.id – Sedekah Bumi Bektiharjo menjadi cara warga Semanding, Tuban, merawat syukur yang mengalir bersama air kehidupan pada Rabu (16/04/2025). Di tepian sendang yang jernih itu, doa-doa ditabur, berkat dibagikan, dan alam dipeluk dengan kesadaran penuh bahwa air bukan sekadar kebutuhan, tapi anugerah yang harus dijaga bersama.
Air yang mengalir dari Bektiharjo bukan sekadar aliran jernih. Dia adalah nadi kehidupan yang mengairi sawah, memenuhi bak mandi, menyentuh gelas minum, dan mendidihkan nasi di dapur-dapur warga.
Baca Juga: Lestarikan Budaya, Potret Tradisi Sedekah Laut di Pesisir Tuban Wujud Rasa Syukur Nelayan
Maka sekali dalam setahun, masyarakat berkumpul, mengucap terima kasih melalui tradisi yang diwariskan dari leluhur.
“Saya bukan asli sini, tapi sudah sembilan tahun ikut tradisi Nyadran. Rasanya seperti pulang ke rumah,” tutur Nani, 25, perempuan asal Cirebon yang kini menetap tidak jauh dari lokasi sendang.

Tradisi Nyadran ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Sejak pagi, warga telah mempersiapkan hidangan dari rumah masing-masing.
Mereka kemudian bersama-sama menuju area wisata Pemandian Bektiharjo, membawa makanan dan bunga sebagai simbol syukur dan penghormatan.
Setelah doa bersama dipanjatkan, makanan dibagikan. Tidak hanya untuk sesama manusia, tapi juga untuk satwa-satwa liar yang tinggal di sekitar sumber air.
“Bukan cuma tradisi, ini juga bentuk kasih sayang kami kepada alam dan semua makhluk yang hidup di dalamnya,” ucap Purwatingsih, salah satu warga lainnya.
Sumber Air Jadi Tumpuan 6 Desa
Sementara itu, Hartono, juru kunci Sumber Air Bektiharjo, menjelaskan, sumber ini menjadi tumpuan hidup bagi enam desa di sekitarnya.
“Air dari sini dimanfaatkan oleh warga Bektiharjo, Perunggahanwetan, Perunggahankulon, Semanding, Tegalagung, dan sebagian wilayah lain,” terangnya.
Pria berusia 72 tahun ini menambahkan, Sedekah Bumi Bektiharjo menjadi pengingat bahwa air bukan hanya berkah, tapi juga amanah. Dia harus dijaga, dirawat, dan disyukuri bersama.

“Kalau air ini kering, kehidupan warga ikut terancam. Makanya, tradisi ini bukan sekadar ritual, tapi juga bentuk kepedulian bersama,” ujarnya.
Tradisi yang berlangsung secara turun-temurun ini tetap lestari, meski zaman terus bergerak maju. Di tengah deru modernitas, Sedekah Bumi Bektiharjo adalah ruang untuk berhenti sejenak, menunduk, dan mengingat segala sesuatu yang besar dimulai dari hal yang paling dasar seperti seteguk air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








