TUBAN, Tugujatim.id – Langit Ramadhan 1447 Hijriah bakal dihiasi fenomena langka. Tepat dengan 14 Ramadhan pada Selasa (03/03/2026) akan terjadi gerhana bulan total yang dapat diamati di Indonesia, termasuk wilayah Tuban.
Fenomena ini terjadi saat matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Dalam posisi tersebut, bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) bumi. Akibatnya, cahaya matahari yang biasanya menyinari bulan terhalang, sehingga bulan tampak meredup dan berubah warna menjadi merah gelap.
Baca Juga: Intip Fenomena Astronomi 2025 dari Gerhana Bulan hingga Parade Planet
Melansir dari NU Online, Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) Ma’rufin Sudibyo menjelaskan, gerhana bulan total terjadi ketika bulan berada di titik nodal dalam posisi oposisi terhadap matahari.
“Sehingga cakram bulan tepat sepenuhnya memasuki kerucut bayangan inti (umbra) bumi di puncak gerhana,” jelasnya.
Pelaksanaan Salat di Antara Isya dan Tarawih
Berdasarkan data LF PBNU, fase gerhana sebagian dimulai pukul 16.50 WIB. Fase total dimulai pukul 18.04 WIB dengan puncak gerhana pada 18.33 WIB. Totalitas berakhir pukul 19.02 WIB dan fase sebagian berakhir pukul 20.17 WIB. Secara keseluruhan, durasi gerhana berlangsung sekitar 3 jam 27 menit.
Namun tidak semua wilayah Indonesia dapat menyaksikan seluruh rangkaian fase sejak awal, karena sebagian terjadi sebelum matahari terbenam. Meski demikian, masyarakat tetap bisa menikmati fase total setelah Magrib selama cuaca cerah.
“Momentum ini juga memiliki nilai ibadah bagi umat Islam. Saat terjadi gerhana bulan total, umat dianjurkan melaksanakan salat khusuf atau salat gerhana bulan,” tandasnya.
Di Tuban sendiri, salat khusuf bakal diselenggarakan di sejumlah titik. Salah satunya di Masjid Agung Tuban. Pelaksanaan salat direncanakan digelar di antara waktu salat Isya dan Tarawih.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total September 2025, Begini Tata Cara Shalat Gerhana
Pengurus masjid biasanya akan mengumumkan pelaksanaan salat kepada jemaah usai Isya, kemudian dilanjutkan dengan salat gerhana berjemaah dan khutbah.
Penempatan waktu di sela Isya dan Tarawih dinilai memudahkan jemaah, terutama di bulan Ramadhan ketika aktivitas ibadah malam meningkat.
Selain sebagai fenomena astronomi, gerhana menjadi pengingat kebesaran Allah SWT. Masyarakat tidak hanya diajak menyaksikan perubahan warna bulan, tetapi juga memperbanyak doa, zikir, dan introspeksi diri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








