MALANG, Tugujatim.id – Sembilan ibu-ibu sedang asyik ngobrol menunggu hidangan yang dipesan di warung Betutu Tepi Sawah Bu Kadek, Sabtu siang (15/11/2025). Satu dari mereka tampak kagum dengan suasana klasik saung kayu jati dan ornamen khas Bali. Sebagian lainnya tak sabar menanti hidangan lengkap agar segera disantap. Tak lupa, ibu-ibu dari Surabaya itu bergantian memegang hape dan berfoto dari berbagai sisi.
Warung Betutu Tepi Sawah berada di Jalan Raya Singosari No 142, atau tepat di samping Kantor Unit BRI Singosari, Kabupaten Malang. Suasana di jam makan siang saat itu ramai sekali. Enam gazebo atau saung dan sebagian meja, penuh dengan pengunjung.
“Puji Tuhan, akhir pekan begini selalu ramai,” kata owner Betutu Tepi Sawah Bu Kadek, Patricia Vintya Christi, kepada tugujatim.id.
Di umurnya yang menginjak 30 tahun itu, Vintya bersyukur bisa mengembangkan usaha kuliner tersebut bersama keluarga besarnya. Bahkan saat ini, usaha kulinernya bisa mempekerjakan belasan warga lokal, mulai pramusaji hingga bagian administrasi.
Namun semua yang tampak mewah saat ini, bermula dari yang sederhana. Suami Vintya, Buyung, habis kontrak kerja di bidang kapal pesiar, November 2024 lalu. Sejak saat itulah terpikir di benak Vintya untuk membuka usaha kecil-kecilan.
Rombong Cinta Kasih Ayam Betutu
Sebelum terkenal dengan Betutu Tepi Sawah Bu Kadek, awalnya adalah usaha kuliner sederhana. Dengan rombong atau gerobak di tepi jalan raya, Vintya dan mertuanya, Kadek Siene, menawarkan ayam betutu dengan porsi ekonomis.
“Pelanggannya ya orang sekitar sini yang lalu-lalang, termasuk karyawan dan nasabah BRI sebelah,” kata ibu satu anak ini.
Pelanggan bisa mengambil sendiri nasi putih sepuasnya, dengan menu sepotong daging ayam betutu. Bahkan Vintya menyiapkan teh jahe gratis sebagai minuman. Rombong Cinta Kasih tersebut menurut Vintya, lebih tepat disebut sebagai penyaluran hobi Kadek Siene, sepeninggal suami Kadek.

Kadek memang wanita kelahiran Singaraja Bali yang hobi memasak. Bahkan, Vintya menyebut, Kadek punya spesialisasi memasak menu sop buntut dan ayam betutu. Maka tidak heran jika banyak pelanggan yang datang sarapan dan makan siang di Rombong Cinta Kasih. Bahkan selama lebih kurang satu tahunan, warung sederhana di pinggir jalan itu ramai pre-order.
“Resepnya dari mertua. Beliau memang spesialis masak sop buntut dan ayam betutu. Jadi soal rasa, silakan dicoba sendiri,” ucapnya sembari tersenyum.
Kenapa baru tiga tahun belakangan Kadek memulai usaha kuliner? Vintya menceritakan, mertuanya merupakan pengusaha barang antik. Ini juga yang menjadi alasan rumah di Jalan Raya Singosari No 142 itu tampak klasik. Namun sepeninggal suaminya, Kadek tak punya minat meneruskan usaha barang antik.
Ayam Betutu Tepi Sawah Bu Kadek
Rumah dengan halaman belakang hamparan sawah ini memang tampak estetik. Keluarga besar Kadek sering memanfaatkan waktu makan-makan saat Natal, atau libur panjang keluarga, di rumah tersebut.
Dengan modal pengalaman usaha Rombong Cinta Kasih, saat kontrak kerja suami Vintya habis, saat itu pula Betutu Tepi Sawah Bu Kadek mulai jadi bahasan keluarga. Seperti apa konsep usahanya? Apa saja menunya? Dan bagaimana bisa mendatangkan pelanggan?
“Kami putuskan saat itu hanya buat reservasi, kemudian open dine in. Karena awalnya belum pede,” kata wanita kelahiran Sulfat, Kota Malang, tersebut.
Pada 11 Januari 2025, menjadi penanda dibukanya warung kuliner Betutu Tepi Sawah Bu Kadek, dengan konsep reservasi. Vintya menyebut, konsep itu sebagai uji coba menyambut bulan Ramadhan dan menghadirkan menu berbuka puasa ayam betutu.
Vintya menekankan bahwa menu Betutu Tepi Sawah Bu Kadek adalah menu yang diproses secara higienis dan mengutamakan kehalalan hidangan. Tiga menu utamanya yaitu Ayam Betutu, Bebek Betutu, dan Sate Lilit Ayam.
“Kami utamakan kehalalan dan rasa yang lezat. Kalau menu kami, betutunya cenderung nyemek dengan rempah genep, beda dengan betutu khas Bali yang berkuah,” imbuhnya.
Siapa sangka, dalam waktu sebulan saja, reservasinya selalu penuh. Vintya pun melakukan analisis prediksi perkembangan usahanya. Bagaimana akan dikembangkan? Dan apa yang dibutuhkan untuk pengembangan selanjutnya? Setelah dihitung-hitung, Betutu Tepi Sawah Bu Kadek perlu dana untuk menopang pengembangan dan operasional.
Tak Ragu Manfaatkan KUR BRI
Dari analisis cash flow saat itu, Vintya menyebut keuangan keluarga harus aman dari risiko jangka pendek. Sehingga tidak memungkinkan pengembangan usaha dengan dana yang digunakan sehari-hari.
“Gak perlu pikir panjang, di samping rumah ada kantor BRI, yang sudah dikenal buat urusan pinjam-meminjam,” ucapnya sembari tertawa.

Vintya tak mau lupa, April 2025 lalu, awal dirinya memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Hal itu seolah menjadi milestone pengembangan Betutu Tepi Sawah Bu Kadek. Dari dana kredit itu, Vintya bisa merenovasi tempat usahanya jadi lebih estetik, dan meningkatkan kuantitas produksi.
“Pinjam Rp50 juta. Rumah ini kan sudah estetik, tinggal renovasi yang bocor-bocor, ya dipercantiklah. Selain itu buat nambah karyawan, begitu,” tuturnya.
Kini, warung kuliner Betutu Tepi Sawah Bu Kadek selalu ramai pengunjung. Biasanya di hari Sabtu, 30 ekor ayam dihabiskan untuk porsi ayam betutu. Bahkan di hari Minggu, hidangan bisa menghabiskan 60 ekor ayam.
15 Persen Nasabah BRI Cabang Malang Sutoyo Manfaatkan KUR untuk Usaha Kuliner
Sebagai kawasan bisnis dan pariwisata, warung kuliner di Malang Raya terus bertumbuh. Seperti cerita warung kuliner Betutu Tepi Sawah Bu Kadek di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Kantor Cabang BRI Malang Sutoyo mencatat, ada dua ribu atau 15 persen dari total nasabah tahun 2025, memanfaatkan KUR untuk usaha kuliner. Owner Betutu Tepi Sawah Bu Kadek, Patricia Vintya Christi, adalah salah satunya.
Branch Office Head BRI Malang Sutoyo Defri Gunawan memaparkan, pihaknya sudah menyalurkan KUR untuk retail dan usaha mikro sebesar Rp632,9 miliar terhadap 13.223 nasabah (1 Januari–18 November), sepanjang tahun ini. Kantor Cabang BRI Malang Sutoyo membawahi 14 Kantor Unit, 5 Kantor Cabang Pembantu, dan 1 Kantor Kas.

“Per 18 November 2025, kami sudah melampaui target, atau mencapai 102,98 persen,” jelas Defri, kepada tugujatim.id, Kamis (20/11/2025).
Pria kelahiran Kota Padang tersebut melanjutkan, ada 3 jenis usaha yang mendominasi pengajuan KUR di BRI Malang Sutoyo. Yaitu pengajuan KUR untuk usaha Perdagangan Sembako sebanyak 45 persen, Hasil Pertanian dan Peternakan 35 persen, Makanan dan Minuman 15 persen.

“Pengajuan kredit untuk bisnis kuliner itu usaha Makanan dan Minuman termasuk yang mendominasi, sebesar 15 persen,” terangnya.
Potensi penyerapan masyarakat terhadap KUR di tahun 2026, menurut Defri, sangat besar. Dari data dan wawancara yang dia lakukan, masyarakat merasa tertolong dengan suku bunga yang sangat bersaing, yaitu 6 persen.
“Maka kami optimis di tahun 2026 nanti, BRI bisa memberikan manfaat yang lebih baik buat masyarakat,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Fajrus Sidiq
Editor: Dwi Lindawati








