Waspadai Panic Selling, Bupati Kediri Mas Dhito Perketat Lalu Lintas Ternak dari Daerah Terinfeksi Virus PMK - Tugujatim.id

Waspadai Panic Selling, Bupati Kediri Mas Dhito Perketat Lalu Lintas Ternak dari Daerah Terinfeksi Virus PMK

  • Bagikan
Virus PMK. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana saat mengecek kondisi ternak milik warga pada Selasa (17/05/2022).

KEDIRI, Tugujatim.id – Penyebaran kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Jatim berpotensi memunculkan panic selling di kalangan peternak untuk menjual hewan ternaknya karena takut terinfeksi virus. Mencegah masuknya virus PMK ke Kabupaten Kediri, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana melakukan pengetatan masuknya hewan ternak, terutama dari daerah terinfeksi virus PMK.

Bupati Kediri Mas Dhito menyebut, kasus virus PMK di Jatim hingga Selasa (17/05/2022) telah merambah di 14 kabupaten/kota. Yaitu, Lamongan, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Lumajang, Probolinggo, Kabupaten Malang, Batu, Jombang, Pasuruan, Jember, Surabaya, Kota Malang, dan Magetan. Dhito mengatakan, hal tersebut perlu untuk diwaspadai.

Virus PMK. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana terus melakukan upaya bersama dinas terkait untuk mencegah persebaran virus PMK di Kabupaten Kediri. (Foto: Dokumen)

“Sejauh ini Kabupaten Kediri tidak ada kasus (PMK), memang yang perlu diawasi sekarang adalah checkpoint sebelum sapi-sapinya atau hewan-hewan ini masuk ke pasar hewan,” kata Dhito saat melakukan pengecekan di kandang ternak program desa korporasi sapi Poktan Ngadimulyo, Kecamatan Ngadiluwih, Selasa (17/05/2022).

Dia menambahkan, dari adanya penyebaran virus PMK itu, hewan ternak dari daerah terinfeksi tidak diperbolehkan keluar daerah. Bahkan, beberapa daerah pun melakukan penutupan pasar hewan untuk mencegah penyebaran PMK. Di sisi lain, kondisi penyebaran PMK itu berpotensi menjadikan peternak melakukan penjualan sapi-sapinya karena takut terinfeksi atau timbul kerugian.

Menurut Mas Dhito, salah satu langkah konkret untuk menghindari penularan virus PMK dengan menutup pasar hewan. Pun demikian, dia menegaskan, langkah itu saat ini belum diambil Pemerintah Kabupaten Kediri karena perlu dilihat dampak dari segi ekonomi bagi pedagang dan peternak.

“Jadi kalau kami tutup sekarang, otomatis tidak ada pemasukan bagi teman-teman peternak. Tapi, di sisi lain kita juga harus waspada, maka untuk sementara waktu diawasi ketat,” ungkapnya.

Virus PMK. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mengimbau peternak tak panic selling karena virus PMK di Kabupaten Kediri. (Foto: Dokumen)

Meski begitu, langkah yang dilakukan bupati Kediri dengan melakukan pengetatan lalu lintas pemasaran hewan di Kabupaten Kediri. Yaitu, mulai dari posko checkpoint yang ada di pintu-pintu masuk antar daerah perbatasan. Untuk jumlah pos checkpoint tersebut ada delapan di Kabupaten Kediri. Yakni, di Ringinrejo, Kras, Tarokan, Purwoasri, Badas, Kunjang, Pare, dan Darmawulan yang menjadi pintu masuk hewan ternak dari Malang.

Dhito menegaskan, akan memberi sanksi tegas bagi pedagang dari daerah yang nekat masuk dan menjual sapi terjangkit virus PMK ke Kabupaten Kediri. Sanksi terberat, yaitu bisa di-blacklist untuk tidak lagi diperbolehkan menjual sapinya di Kabupaten Kediri.

“Nanti kami minta putar balik, bahkan kalau dirasa kondisi sapinya saja sudah kurang fit diminta untuk putar balik langsung, walaupun itu belum tentu penyakit PMK,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih menambahkan, meski gejala yang mengarah ke PMK belum ditemukan di Kabupaten Kediri, dia terus meningkatkan kewaspadaan. Sebab, tak dipungkiri ada penyakit yang mirip dengan PMK seperti laminitis atau peradangan pada kuku.

“Seperti kasus kemarin di Manggis, masyarakat sudah heboh ini PMK atau bukan, alhamdullilah setelah dicek bukan,” tambahnya.

Tutik mengaku, pasca adanya kasus PMK, pihaknya telah menyebarkan edaran ke seluruh kecamatan di Kabupaten Kediri, terutama pada peternak melalui group WhatsApp maupun dokter hewan. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat, khususnya peternak, jika menemukan kasus yang diduga PMK untuk segera melapor.

“Kami telah menempatkan petugas di tiap kecamatan, termasuk dokter hewan mandiri di Kabupaten Kediri hampir 100 sudah disurati untuk proaktif mengawasi di kanan-kirinya,” bebernya. (adv)

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan