Tugujatim.id – Bulan Ramadan dan Lebaran adalah dua momen yang begitu dinanti umat Muslim. Tidak hanya kalangan dewasa, anak-anak pun banyak menyambut momen tersebut dengan suka cita. Sebab, dalam momen tersebut terdapat tradisi weweh yang tidak dijumpai di luar momen Ramadan dan Lebaran.
Terdapat tradisi khas Ramadan dan Lebaran di berbagai wilayah, seperti ziarah kubur sebelum dan menjelang berakhirnya Ramadan, tradisi siraman sebelum masuk bulan puasa, hingga tradisi yang umumnya dilakukan pada sepuluh hari bulan terakhir bulan Ramadan. Tradisi tersebut adalah weweh.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Tempat Penitipan Kucing di Mojokerto Full Booked
Weweh merupakan sebuah aktivitas di mana seseorang mengunjungi kerabat terdekat hingga teman dekat sembari membawa sesuatu, mulai dari makanan hingga parsel. Selain dinamakan weweh, beberapa tempat lain menyebutnya dengan ater-ater.
Weweh sendiri berasal dari kata serapan bahasa Jawa yaitu nguwehi atau wewehono (memberi). Maksudnya, kegiatan weweh berarti memberikan sesuatu kepada tuan rumah yang dikunjungi dengan harapan hati tuan rumah gembira dengan pemberian tersebut.
Tradisi weweh sendiri sudah mengakar lama. Tak hanya dilakukan saat bulan Ramadan, weweh sendiri terkadang dilakukan pula saat Hari Raya Idulfitri atau saat berkunjung ke rumah kerabat saat libur Lebaran belum usai.
Dulu, weweh dilakukan seseorang dengan membawa makanan siap santap. Umumnya seseorang membawa kotak berisi nasi dengan lauk pauk lengkap dengan pencuci mulut pula. Namun seiring perkembangan zaman, masyarakat perlahan mulai beralih ke varian lain. Mulai dari bahan pokok seperti gula, beras, hingga mie instan, termasuk gerabah atau barang pecah belah seperti piring atau cangkir.
“Sangat mungkin karena pengaruh modernisasi. Kalau dulu, weweh itu pasti bawa rantang yang isinya makanan lengkap, nasi sama lauk. Kalau sekarang eranya medsos, banyak yang suka kirim-kirim hampers, ya intinya weweh itu,” ujar salah akademisi asal Mojokerto, Moh. Ali Rohmad.
Selain itu, weweh sendiri bermakna menjaga silaturahmi dengan keluarga terdekat hingga tetangga sekitar.
“Karena weweh itu simbol perekat persaudaraan, apalagi kan tidak setiap hari weweh. Harapannya dengan kunjungan (weweh) itu, orang yang mendapat kunjungan menjadi gembira. Sampai sekarang kan masih sering ditemui juga tradisi weweh,” tandas Ali.
Selain pergeseran isi dari weweh, proses pemberian juga tidak mengenal batas usia. Dulu, weweh sering kali dilakukan oleh kaum muda kepada kerabat atau keluarga yang lebih tua.
“Sekarang bisa ke keluarga yang setara juga, yang sama-sama usianya. Jadi saling memberi tanpa melihat batasan usia,” ungkap Ali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








